Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Lurik hingga Seni Tradisional, Budaya Harus Hidup di Sekolah

Dari Lurik hingga Seni Tradisional, Budaya Harus Hidup di Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Budaya hidup ketika menjadi kebiasaan

Pelestarian budaya di sekolah adalah proses mengenalkan dan membiasakan tradisi melalui kegiatan belajar sehari-hari, agar siswa tidak hanya menyaksikannya, tetapi juga memahami dan meneruskannya. Prinsip itu tampak dalam Jumat Budaya di SMK Cendika Bangsa Kepanjen, yang pada Jumat pagi, 30 Oktober 2026, memadukan kegiatan keagamaan dengan kearifan lokal Jawa.

Sejak pukul 07.00 WIB, siswa mengenakan busana lurik, sementara guru memakai batik. Kegiatan diawali dengan istighosah dan tahlil bersama, lalu Febri, siswa kelas X Ekowisata, memandu acara menggunakan bahasa Jawa krama. Perpaduan ini memberi tradisi Jawa tempat nyata dalam rutinitas sekolah: siswa mengenakan, mendengar, dan menggunakan unsur budaya, bukan sekadar melihatnya dari panggung. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembiasaan Jumat pagi dengan tema yang berganti-ganti.

Nilai pendekatan ini terletak pada pengulangan. Busana dan bahasa daerah menjadi pengalaman bersama, sementara istighosah menjaga karakter religius sebagai bagian dari kegiatan. Sekolah berharap siswa semakin mengenal, menghargai, dan bangga terhadap warisan budaya Jawa. Harapan itu lebih mungkin tumbuh ketika budaya siswa dibentuk melalui praktik yang akrab dan teratur, bukan melalui satu acara besar yang segera dilupakan.

Seni masuk sekolah, desa ikut menjadi ruang belajar

Di Kabupaten Cirebon, Desa Jemaras Kidul, Kecamatan Klangenan, ditunjuk sebagai salah satu desa percontohan Gerakan Seni Masuk Sekolah di Jawa Barat. Program ini membawa kesenian tradisional Cirebon ke dalam pembelajaran bagi generasi muda, dengan seniman dan tenaga pendidik bersama-sama memperkenalkan sejumlah kesenian kepada anak-anak.

Kegiatan itu melibatkan ratusan siswa dari wilayah timur dan barat Kabupaten Cirebon. Skala partisipasi tersebut menunjukkan bahwa seni di sekolah dapat membuka akses bagi banyak anak untuk berjumpa dengan tradisi setempat. Namun, ramai peserta belum otomatis berarti tradisi akan berlanjut. Anak-anak perlu kesempatan untuk berlatih, bertanya kepada pelaku seni, dan kembali mempelajari kesenian setelah kegiatan pengenalan selesai.

Di Jemaras Kidul, kelompok seni masih terkendala fasilitas dan belum memiliki gedung sanggar sendiri. Ini bukan catatan kecil: tanpa ruang dan kegiatan yang berkesinambungan, pembelajaran mudah berhenti bersama berakhirnya program. Karena itu, keterlibatan seniman, sekolah, dan generasi muda perlu menjadi bagian dari rencana lanjutan, bukan hanya susunan acara pembukaan.

Ukuran keberhasilan bukan kemeriahan

Gerakan Seni Masuk Sekolah dan Jumat Budaya memperlihatkan dua jalan yang saling melengkapi: pembiasaan tradisi di lingkungan sekolah dan pengenalan kesenian melalui kerja bersama seniman serta pendidik. Keduanya memberi generasi muda pintu masuk untuk mengenal identitas daerah. Namun, ukuran keberhasilan seharusnya bukan sekadar busana yang dikenakan atau pertunjukan yang ramai, melainkan apakah siswa terus belajar setelah hari kegiatan berlalu.

Pemerintah Kabupaten Cirebon mendorong agar program tersebut tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi berlanjut melalui keterlibatan seniman, sekolah, dan generasi muda. Dorongan itu tepat, terutama karena kelompok seni di Jemaras Kidul masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Kelanjutan dapat dibangun lewat jadwal latihan, kesempatan belajar berulang, dan hubungan yang terjaga antara sekolah dengan pelaku seni. Bukan kemeriahan sesaat yang membuat tradisi bertahan, melainkan kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkannya lagi.

Sekolah tidak harus menunggu acara besar untuk merawat budaya. Kebiasaan sederhana seperti berbahasa daerah, mengenakan busana lokal, dan belajar kesenian bersama dapat membuat tradisi terasa dekat bagi siswa. Kesimpulannya, seni di sekolah akan berdampak ketika menjadi proses yang berkelanjutan: dikenalkan, dipelajari, lalu diwariskan. Tanpa kelanjutan, tradisi hanya tampil; dengan keterlibatan rutin, ia tetap hidup.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!