Fashion Inklusif di Hotel: Merdeka, Berdaya, dan Berkelanjutan

Fashion Inklusif di Hotel: Merdeka, Berdaya, dan Berkelanjutan
Minat|Industri Fashion

Ketika Perayaan Kemerdekaan Menjadi Panggung Inklusi dan UMKM

Fashion show UMKM lokal yang inklusif adalah sebuah perayaan mode di mana pelaku usaha kecil, desainer berkelanjutan, dan komunitas difabel tampil sejajar di satu panggung, untuk menegaskan bahwa gaya, keberlanjutan, dan martabat manusia bisa berjalan bersama sebagai sebuah gerakan sosial yang menghidupkan ekonomi kreatif sekaligus menumbuhkan rasa diterima untuk semua.

Inilah roh dari acara “Celebrate Creativity and Inclusion” yang digelar THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa untuk merayakan HUT ke-81 RI lewat fashion show inklusif, dukungan UMKM lokal, dan kegiatan berkelanjutan. Alih-alih hanya menggelar seremoni, hotel ini menjadikan momentum nasional sebagai alat untuk menguatkan UMKM fashion berkelanjutan dan membuka panggung bagi komunitas Down Syndrome. Kolaborasi dengan Edith House, POTADS Community, dan Madda Craft 1432 menegaskan bahwa industri hospitality bisa dan seharusnya terlibat aktif dalam ekosistem kreatif lokal, bukan sekadar menyediakan kamar dan restoran.

Fashion Inklusif Komunitas: Anak POTADS sebagai Bintang Panggung

Keputusan menjadikan anak-anak dari POTADS Community sebagai model adalah pernyataan politik yang halus namun tegas: panggung mode bukan milik tubuh yang dianggap “sempurna” saja. Salah satu rangkaian utama “Celebrate Creativity and Inclusion” memang fashion show dengan anak-anak POTADS di garis depan. Dari 30 anak yang mendaftar, 10 anak terpilih untuk berjalan percaya diri di area lobi hotel, mengenakan rancangan Edith House.

Bagi banyak brand, menggunakan model profesional adalah pilihan aman. Namun di sini, risiko dikambil demi dampak sosial. Fashion show ini menjadi ruang pengalaman, bukan sekadar tontonan: anak-anak berlatih tampil di depan publik, mengekspresikan diri, dan membangun rasa percaya diri. Pengurus POTADS, Rani Rosdayantika, menegaskan bahwa inklusivitas bukan hanya memberi kesempatan, tetapi menciptakan ruang di mana anak-anak merasa diterima dan dihargai. Itulah esensi fashion inklusif komunitas: menggeser lensa dari “kasihan” menjadi “setara” dan “berdaya”.

Kolaborasi Desainer Berkelanjutan dan UMKM: Eco Printing sebagai Sikap

Di tengah maraknya greenwashing, kolaborasi desainer berkelanjutan dalam acara ini terasa lebih jujur. Karya Edith House yang menggunakan teknik eco printing menjadi inti narasi UMKM fashion berkelanjutan. Alih-alih motif sintetis massal, mereka memanfaatkan bentuk dan pigmen warna alami dari tumbuhan untuk menciptakan motif pada kain, termasuk kayu secang yang memberi nuansa merah hingga oranye.

Pendekatan ini bukan sekadar estetika alamiah. Setiap helai kain menjadi pernyataan bahwa kreativitas fesyen dapat berjalan berdampingan dengan pemanfaatan material alami dan kekayaan lokal. Dipadukan dengan produk berkelanjutan dari Madda Craft 1432, fashion show UMKM lokal ini menyusun ekosistem kecil: desainer yang peduli lingkungan, produsen kriya yang berpihak pada komunitas, dan hotel yang menyediakan akses audiens. Di sinilah hospitality bergerak dari ruang konsumsi menuju ruang kurasi, mengangkat cerita kerja tangan lokal agar tidak karam di tengah arus fast fashion.

Table Manner dan Hospitality yang Lebih Manusiawi

Dimensi inklusi di acara ini tidak berhenti di catwalk. Setelah fashion show, anak-anak dan pendamping POTADS mengikuti sesi table manner di Dwangsa9 Indonesian Restaurant. Mereka belajar tata cara makan, penggunaan peralatan, hingga etika dasar di meja makan dalam suasana hangat dan interaktif. Di sinilah makna hospitality digeser: bukan lagi sekadar memanjakan tamu, tetapi berbagi keterampilan hidup yang bisa membentuk memori positif jangka panjang.

Marketing Communication Manager PHM Hotels, Greta Indri, mengingatkan bahwa hospitality adalah soal membuat setiap orang merasa diterima dan dihargai. Publik sering melihat hotel sebagai ruang eksklusif; program seperti ini meretakkan batas itu. Dengan membuka restoran sebagai ruang belajar, hotel mengirim pesan jelas: fasilitas kelas atas sah dinikmati sebagai ruang tumbuh anak-anak berkebutuhan khusus, bukan hanya latar swafoto. Ini adalah hospitality yang lebih humanis: mengundang, bukan mengintimidasi.

Merdeka sebagai Kolaborasi: Pelajaran bagi Industri Hospitality

“Celebrate Creativity and Inclusion” menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan bisa diterjemahkan menjadi kolaborasi lintas komunitas yang konkret: fashion inklusif, dukungan UMKM lokal, material berkelanjutan, hingga edukasi table manner. Melalui kerja bersama THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa, Edith House, POTADS Community, dan Madda Craft 1432, setiap individu diberi ruang untuk berpartisipasi dan berkarya.

Pesan untuk industri hospitality jelas. Pertama, momentum budaya seperti perayaan kemerdekaan tidak seharusnya berakhir pada promo kamar; ia bisa menjadi titik temu ekosistem kreatif lokal. Kedua, fashion show UMKM lokal yang mengutamakan kolaborasi desainer berkelanjutan dan fashion inklusif komunitas tidak hanya menambah agenda acara, tetapi mengubah citra hotel menjadi mitra kreatif ekonomi. Ketiga, dukungan pada UMKM fashion berkelanjutan adalah investasi reputasi jangka panjang. Ketika tamu mulai peduli etika dan lingkungan, hotel yang memihak pada inklusi dan keberlanjutan akan lebih relevan daripada sekadar mewah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!