KuybeliKuybeli

Adinda Sardjono: MUA Berdaya, Ibu Tangguh, dan Generasi Unggul di Baliknya

Adinda Sardjono: MUA Berdaya, Ibu Tangguh, dan Generasi Unggul di Baliknya
Minat|Tren Makeup

Perempuan Kuat di Balik Generasi Unggul

Masa depan generasi unggul tidak hanya lahir dari kurikulum atau sistem pendidikan, tapi juga dari sosok perempuan yang berdaya. Ketika perempuan diberi ruang, akses, dan kesempatan, maka keluarga, komunitas, hingga bangsa ikut bertumbuh dengan lebih sehat dan sejahtera.

Begitu pula yang diyakini Adinda Sardjono, seorang Professional Makeup Artist dan Educator yang melihat langsung betapa masih banyak perempuan, terutama di pelosok, harus berjuang keras hanya untuk mendapat hak dasarnya.

Menurutnya, di balik senyum para perempuan hebat, masih tersimpan berbagai persoalan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Tantangan Perempuan: Antara Akses, Budaya, dan Kemandirian

Bagi Adinda, salah satu problem paling mendasar yang masih dihadapi perempuan, terutama di desa, adalah minimnya akses terhadap hal-hal penting yang seharusnya menjadi hak semua orang:

  • Pendidikan yang layak

  • Informasi yang benar dan mudah dijangkau

  • Kemandirian ekonomi

  • Layanan kesehatan yang memadai

  • Perlindungan hukum yang berpihak pada perempuan

  • Pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman

Banyak perempuan masih terjebak dalam budaya patriarki yang membatasi ruang gerak dan peran mereka. Akibatnya, mereka kekurangan bekal untuk mandiri, berkembang, atau keluar dari situasi yang tidak sehat, baik secara sosial maupun ekonomi.

Ketika perempuan tidak punya akses, masa depan generasi ikut terancam.

Kunci Pemberdayaan: Komunitas, Edukasi, dan Kemandirian

Bagi Adinda, perempuan punya potensi luar biasa, asalkan diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Ia melihat beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan:

  • Menghadirkan pendidikan berbasis komunitas, bukan hanya formal, tetapi juga pelatihan keterampilan praktis.

  • Mendorong kewirausahaan mikro dengan pendampingan dan akses permodalan yang realistis.

  • Mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender dan hak perempuan, dimulai dari lingkup keluarga dan tokoh lokal.

  • Memperluas akses layanan kesehatan yang ramah perempuan.

  • Menguatkan perlindungan hukum agar perempuan berani bicara dan melindungi dirinya.

Ketika perempuan desa diberdayakan, bukan hanya hidup mereka yang berubah, tetapi juga masa depan generasi di sekitar mereka ikut terangkat.

Kolaborasi Tiga Kekuatan: Perempuan, Pemerintah, dan Masyarakat

Menciptakan perubahan tidak bisa dilakukan sendirian. Menurut Adinda, solusi terbaik justru hadir dari kolaborasi antara perempuan itu sendiri, pemerintah, dan masyarakat.

Perempuan perlu:

  • Percaya diri dan berani bermimpi besar

  • Terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri

  • Aktif mencari peluang lewat pendidikan, komunitas, atau pelatihan

  • Berani keluar dari zona nyaman dan tidak takut gagal

Pemerintah diharapkan:

  • Memberikan akses pendidikan dan pelatihan yang inklusif

  • Menghadirkan program pemberdayaan ekonomi yang nyata bagi perempuan

  • Menyediakan perlindungan hukum dan layanan kesehatan yang ramah perempuan

  • Menyediakan dukungan psikologis yang mudah dijangkau

Sedangkan masyarakat idealnya:

  • Menghapus stigma dan batasan gender yang tidak relevan lagi

  • Menciptakan lingkungan suportif, mulai dari keluarga hingga komunitas

  • Memberi ruang, panggung, dan apresiasi bagi perempuan untuk berkarya

Ketika tiga kekuatan ini bersinergi, perempuan tidak hanya bertahan — mereka akan melesat.

Hari Ibu: Lebih dari Sekadar Seremoni

Hari Ibu Refleksi Perjuangan, Cinta, dan Pengorbanan Seorang Ibu

Di balik banyaknya tuntutan peran yang harus dijalankan perempuan — sebagai istri, ibu, pekerja, pengasuh, sekaligus penjaga nilai keluarga — mereka tetap didorong untuk “berhasil” di semua lini.

Seorang ibu dituntut untuk mempersiapkan generasi masa depan yang unggul, bahkan ketika ia sendiri masih bergulat dengan keterbatasan. Dengan segala kekurangan, seorang ibu tetap berjuang sekuat tenaga demi masa depan anak-anaknya.

Maka, apresiasi untuk para ibu bukan sekadar ucapan tahunan, melainkan penghormatan atas perjuangan yang terjadi setiap hari.

Bagi Adinda, Hari Ibu bukan momen seremonial. Ini adalah waktu untuk refleksi: melihat kembali perjalanan cinta, pengorbanan, dan kekuatan seorang ibu.

Sebagai anak, ia memandang ibunya sebagai sosok luar biasa yang membentuk dirinya hari ini — perempuan kuat, kreatif, penuh cinta, dan tidak pernah lelah mendampingi anak-anaknya. Nilai-nilai hidup dan keterampilan yang ia pelajari dari sang ibu menjadi fondasi dalam hidupnya, baik sebagai individu maupun profesional.

Menjadi Ibu: Perjalanan Spiritual, Emosional, dan Fisik

Sebagai ibu, Hari Ibu justru menjadi momen bagi Adinda untuk berhenti sejenak, merenung, dan bersyukur.

Bagi dirinya, menjadi ibu adalah sebuah perjalanan:

  • Spiritual: belajar ikhlas, berserah, dan mencintai tanpa syarat.

  • Emosional: naik turun perasaan, antara lelah dan bahagia, cemas dan bangga.

  • Fisik: kelelahan, badan yang tak selalu prima, namun tetap berusaha hadir.

Membagi waktu antara karier dan keluarga jelas tidak mudah. Namun setiap pelukan dan senyum anak adalah bentuk penghargaan paling tulus yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Bagi Adinda, di balik semua peran yang ia jalani, peran sebagai ibu adalah yang paling mulia dan bermakna. Dari sanalah ia mendapatkan cinta, kekuatan, dan semangat hidup.

Harapan Seorang Ibu untuk Tiga Buah Hati

Harapan terbesar Adinda untuk anak-anaknya bukan sekadar soal prestasi akademis atau pencapaian materi. Lebih dalam dari itu, ia ingin mereka tumbuh sebagai pribadi yang:

  • Baik dan peka terhadap sesama

  • Bahagia dan mengenal arah hidupnya

  • Tahu apa yang ia perjuangkan dan mengapa

Ia berharap anak-anaknya memiliki:

  • Hati yang penuh kasih dan sikap rendah hati

  • Keberanian untuk menjadi diri sendiri, tanpa harus sempurna

  • Kemampuan bertanggung jawab atas setiap pilihan

Adinda juga ingin mereka tidak takut gagal, dan mau terus belajar dari pengalaman — baik yang manis maupun pahit. Di tengah dunia yang serba cepat dan kompetitif, ia ingin anak-anaknya tetap memegang:

  • Nilai-nilai hidup yang kokoh

  • Kepekaan sosial

  • Kekuatan karakter

Yang paling penting, ia ingin mereka selalu tahu bahwa mereka dicintai tanpa syarat, dan bahwa rumah akan selalu menjadi tempat untuk pulang, apa pun yang terjadi.

Warisan Cinta dari Sang Ibu

Sebagai ibu, Adinda tidak mengklaim dirinya sempurna. Namun ia berusaha untuk selalu hadir, mendampingi, dan menjadi contoh tentang bagaimana mencintai hidup dengan tulus.

Ia banyak terinspirasi dari sosok ibunya sendiri — perempuan yang diam-diam mengajarkan arti keteguhan, kreativitas, dan cinta tanpa batas.

Sang ibu bukan hanya seorang ibu di rumah, tetapi juga seorang desainer penuh talenta. Gaun pernikahan Adinda dijahit langsung dengan tangannya, penuh detail, penuh cinta, dan begitu personal.

Kini, di usia senja, ibunya masih belum berhenti berkarya. Ia menjadi seorang baker yang tidak pernah lelah belajar dan mencoba hal baru. Semangatnya yang tidak kenal usia membuat Adinda percaya bahwa perempuan bisa:

  • Kuat dan lembut dalam satu waktu

  • Berkarya sambil tetap merawat keluarga

  • Setia pada panggilan hati

Dari ibunya, ia belajar bahwa setiap karya yang dibuat dengan hati akan selalu punya makna, apa pun bentuknya.

Awal Karier di Dunia Makeup

Perjalanan Adinda di dunia makeup dimulai sejak usia 19 tahun, saat ia memutuskan untuk serius menjadikannya sebagai karier profesional.

Ia mengawali langkah dengan mengikuti pendidikan formal di sekolah makeup, membekali diri dengan teknik dan pengetahuan dasar yang kuat, bukan hanya sekadar belajar otodidak.

Di usia 23 tahun, ia menikah dengan suami berkewarganegaraan Singapura dan kemudian menetap di Shanghai untuk mendukung karier sang suami. Di periode ini, meski tidak aktif penuh sebagai makeup artist, ia tetap menjaga koneksi dengan dunia kecantikan dan terus mengasah kemampuan secara mandiri.

Memasuki awal 2015, ketika kembali menetap di Singapura, Adinda mulai kembali benar-benar menekuni profesi sebagai makeup artist secara profesional.

Ia:

  • Melayani klien untuk makeup pribadi dan acara-acara khusus

  • Membuka kelas makeup untuk personal use

  • Menghadirkan kelas profesional bagi calon makeup artist yang ingin masuk industri

Sampai sekarang, ia terus aktif sebagai makeup artist sekaligus educator, membantu klien dan para peserta kelas untuk tampil percaya diri melalui teknik makeup yang tepat dan sesuai karakter masing-masing.

Bertahan di Industri yang Bergerak Cepat

Dunia kecantikan bergerak dengan kecepatan luar biasa. Tren berubah, standar berkembang, dan persaingan semakin ketat.

Adinda menyadari, untuk tetap relevan, dibutuhkan:

  • Kreativitas tanpa henti

  • Inovasi dalam teknik dan layanan

  • Kemampuan membaca karakter dan kebutuhan klien

Ia aktif membagikan konten edukatif dan inspiratif di media sosial, seperti:

  • Tips makeup yang mudah dipraktikkan

  • Teknik dasar bagi pemula

  • Rekomendasi produk

  • Cuplikan behind-the-scenes dunia seorang makeup artist

Tujuannya bukan hanya promosi, tetapi juga edukasi gratis bagi lebih banyak orang.

Bagi Adinda, makeup bukan sekadar ikut tren, melainkan cara memperkuat karakter dan kepercayaan diri seseorang. Karena itu, ia sangat mengedepankan pendekatan personal:

  • Memahami kepribadian klien

  • Menyesuaikan dengan kebutuhan acara

  • Melihat gaya hidup dan kenyamanan klien

Dengan demikian, hasil makeup terasa lebih autentik, personal, dan bermakna.

Prestasi di Dunia Kecantikan

Sepanjang karier, Adinda bersyukur telah meraih sejumlah pencapaian yang memperkuat posisinya sebagai makeup artist sekaligus memperkaya makna profesinya.

Beberapa pencapaian yang ia syukuri antara lain:

  • Kepercayaan dari brand-brand makeup ternama untuk mengundangnya sebagai pengajar dan pembicara dalam kelas maupun workshop.

  • Kesempatan membagikan ilmu dan pengalaman kepada generasi baru pelaku industri kecantikan di Singapura.

Ia juga merasa terhormat dinobatkan sebagai salah satu “Indonesia’s Best Makeup Artists” yang berbasis di Singapura. Sebuah pengakuan yang bukan hanya soal kualitas karya, tapi juga konsistensi, profesionalisme, dan dedikasi yang ia bangun selama bertahun-tahun.

Namun di atas semua penghargaan formal, bagi Adinda ada satu prestasi yang paling berharga:

Ketika klien merasa cantik, percaya diri, dan yakin telah memilih makeup artist yang tepat — di situlah penghargaan tertinggi yang tidak bisa diukur dengan apa pun.

Baginya, kepercayaan dan kebahagiaan klien adalah pencapaian yang tak ternilai.

Kunci sukses yang selalu ia pegang:

  • Bekerja dengan hati

  • Menjunjung kejujuran

  • Menjaga sikap yang elegan dan profesional

  • Konsisten belajar dan berkembang

  • Memperlakukan setiap klien dengan hormat dan sepenuh hati

Dari Kuas Makeup ke Dapur: Hobi Kuliner yang Jadi Bisnis

Kegiatan utama Adinda memang masih berfokus pada layanan makeup untuk berbagai acara, seperti:

  • Bridal makeup

  • Special event makeup

  • Kelas makeup personal maupun profesional

Selain melayani klien secara langsung, ia juga aktif mengajar dan berbagi ilmu, ikut berkontribusi mencetak generasi baru makeup artist.

Namun di luar dunia rias, ada satu sisi lain dari Adinda yang tidak kalah menarik: dunia kuliner.

Hobi memasak dan baking mulai tumbuh kuat sejak masa pandemi Covid-19, ketika industri makeup sempat berhenti total. Di masa penuh ketidakpastian itu, ia kembali membuka buku-buku resep peninggalan ibunya — tulisan tangan khusus untuk Adinda — dan mulai memasak serta membuat kue-kue Indonesia khas rumahan.

Dari dapur rumahnya, lahirlah sebuah bisnis kuliner online kecil-kecilan yang ia kelola sendiri, dengan dukungan penuh dari sang suami, yang bahkan ikut turun tangan mengantar pesanan ke pelanggan.

Menu yang ia buat antara lain:

  • Aneka masakan khas Indonesia rumahan

  • Berbagai jenis kue dan kudapan yang lekat dengan memori keluarga

Bisnis ini masih berjalan hingga sekarang, meski lebih bersifat musiman, terutama saat low season di pekerjaan makeup, misalnya setelah musim pernikahan atau menjelang libur panjang.

Bagi Adinda, memasak bukan sekadar aktivitas dapur. Ini adalah:

  • Terapi relaksasi

  • Cara mengekspresikan diri

  • Bentuk me time yang tetap produktif

  • Sumber kebahagiaan yang ia bagi ke orang lain

Ia menemukan bahwa, entah lewat kuas makeup atau spatula baking, selama dilakukan dengan hati, karya seorang perempuan selalu punya ruang untuk menyentuh banyak orang.

Penutup: Perempuan Berdaya, Generasi yang Lebih Kuat

Kisah Adinda menunjukkan bahwa perempuan bisa memegang banyak peran sekaligus — seniman rias, pendidik, istri, ibu, sekaligus pelaku usaha kuliner — tanpa kehilangan jati diri.

Pemberdayaan perempuan bukan hanya soal memberi akses, tetapi juga tentang menghadirkan dukungan, ruang, dan kepercayaan bahwa mereka mampu.

Dari seorang ibu yang menjahit gaun nikah, hingga seorang anak yang kini menjadi makeup artist dan educator di kancah internasional, lalu kembali pada peran sebagai ibu bagi generasi berikutnya — lingkaran cinta dan keteguhan itu terus berputar.

Dan di sanalah, generasi unggul sesungguhnya mulai dibentuk: dari hati perempuan yang berdaya, yang memilih untuk terus berkarya, mendidik, dan mengasihi tanpa batas.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!