Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Petani Lokal ke Pasar Dunia: Ekspor Kemiri NTB Lewat Program TJSL

Dari Petani Lokal ke Pasar Dunia: Ekspor Kemiri NTB Lewat Program TJSL
Minat|Asia Tenggara

TJSL Kemiri NTB: Dari Program Sosial Menjadi Strategi Ekspor

Program pemberdayaan agroindustri kemiri di Nusa Tenggara Barat adalah inisiatif terarah yang menghubungkan petani kemiri, fasilitas pascapanen, pendanaan sosial-lingkungan, dan akses ekspor untuk menciptakan rantai nilai bernilai tambah tinggi yang berkelanjutan. Inti dari program pemberdayaan petani ini adalah penggunaan skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kementerian Keuangan, lewat Special Mission Vehicle (SMV), untuk membangun ekosistem agroindustri kemiri yang tidak berhenti pada panen biji mentah, tetapi naik kelas menjadi produk olahan bernilai ekspor.

Peluncuran program TJSL Kementerian Keuangan ini dilakukan di Mataram dan diinisiasi oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), mengusung tema pemberdayaan ekosistem agroindustri kemiri di NTB. Langkah ini bukan sekadar seremoni; ditandai dengan penandatanganan MoU antara LPEI dan Pemerintah Provinsi NTB yang disaksikan gubernur, pesan yang hendak ditegaskan adalah jelas: kemiri NTB disiapkan menjadi komoditas ekspor strategis, bukan lagi sekadar produk sampingan perkebunan lokal.

Mengapa Kemiri NTB Dipaksa Naik Kelas

Kemiri NTB ditargetkan tembus pasar global karena potensinya sebagai komoditas ekspor bernilai tambah sudah lama ada, tetapi terlalu lama dibiarkan berhenti di tingkat bahan baku. Di sinilah program ekspor kemiri NTB mengambil posisi: memaksa naik kelas lewat standar kualitas, pengolahan, dan penguatan akses pasar. “Kemiri NTB memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Tantangannya adalah bagaimana kita menghubungkan potensi di tingkat petani dengan standar kualitas, pengolahan, dan akses pasar global,” tegas Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso.

Fokus pada nilai tambah terlihat dari prioritas pengolahan pascapanen, penyediaan alat penunjang produk kemiri, dan inovasi produk turunan minyak kemiri. Ini bukan pola lama berbasis volume, melainkan strategi berbasis kualitas dan diversifikasi produk. Ekspor kemiri NTB bahkan sudah mulai dibuktikan dengan pelepasan kemiri ke Jepang bersama vanilla ke Amerika Serikat sebanyak 1,4 ton senilai Rp 3,8 miliar, sebuah sinyal bahwa pasar global siap, sepanjang mutu dan kontinuitas pasokan terjaga.

Arsitektur Ekosistem Agroindustri Kemiri: Hulu, Hilir, dan Energi

Yang menarik dari pengembangan agroindustri kemiri ini adalah pendekatannya yang menyentuh seluruh rantai nilai. LPEI berfokus pada pengolahan pascapanen dan pengadaan alat penunjang produk kemiri, sementara PT Sarana Multi Infrastruktur menangani penerapan bibit di Lombok, Sumbawa, dan Bima. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia bertugas memperkuat kapasitas petani lewat pelatihan, dan PT Sarana Multigriya Finansial mendukung pembangunan sarana produksi.

Dimensi energi dan inovasi produk juga tidak diabaikan. PT Geo Dipa Energi memasang panel surya untuk mendukung proses produksi, sedangkan PT Indonesia Infrastructure Finance dan PT Sejahtera Eka Graha mendorong inovasi produk turunan minyak kemiri, dan PT Penjaminan Jamkrida NTB membantu pengelolaan pascapanen. Inilah esensi pengembangan ekosistem agroindustri kemiri: bukan sekadar membantu satu titik, tetapi menjahit hulu–hilir menjadi satu sistem yang sanggup memenuhi standar ekspor berkelanjutan.

Target Angka: Petani Harus Ikut Naik, Bukan Hanya Volume Ekspor

Program ini akan kehilangan legitimasi jika hanya mengejar angka ekspor tanpa menaikkan posisi petani. Karena itu, target yang dipasang cukup tegas: jumlah petani yang terlibat ditargetkan meningkat menjadi 550–720 orang dengan produksi 2.400–3.600 ton per tahun. Lebih penting lagi, pendapatan petani diharapkan naik 20%–25%, sambil menambah 3–6 negara tujuan ekspor dan meningkatkan nilai ekonomi lokal sekitar Rp 30 miliar–Rp 40 miliar per tahun.

Dalam peluncuran program, LPEI dan Pemprov NTB juga menandatangani nota kesepahaman pengembangan kapasitas UKM, koperasi, dan BUM Desa berorientasi ekspor. Artinya, ekspor kemiri NTB tidak diserahkan kepada korporasi besar saja; desa dan pelaku usaha kecil didorong ikut terlibat. Jika target ini tercapai, ekspor bukan lagi istilah abstrak, melainkan jalan nyata bagi petani kemiri untuk keluar dari jebakan harga bahan baku murah.

Apakah TJSL Kemenkeu Cukup untuk Menjadikan Kemiri Komoditas Strategis?

Pertanyaannya: apakah skema TJSL Kementerian Keuangan cukup untuk mengokohkan kemiri sebagai komoditas ekspor strategis daerah? Dari desainnya, jawaban awal cenderung positif. Program ini secara eksplisit bertujuan mengembangkan ekosistem industri kemiri di NTB agar lebih unggul dan berkelanjutan, mengintegrasikan pengelolaan hulu–hilir petani inti, serta membuka akses pasar baru bagi kemiri NTB di pasar global.

Namun keberhasilan akhir akan ditentukan oleh konsistensi: apakah pendampingan petani berjalan terus, apakah standar kualitas dijaga, dan apakah kontrak ekspor diperluas, bukan hanya aksi pelepasan simbolik. Gubernur NTB menyambut baik program ini dan berharap sinergi pemerintah pusat dan daerah terus ditingkatkan. Kesimpulannya, TJSL memberi kerangka yang kuat; tugas berikutnya adalah menjaga agar setiap ton ekspor kemiri NTB selalu kembali sebagai nilai tambah yang nyata di tingkat petani, bukan berhenti di laporan program.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!