TJSL Tambang Bukan Lagi Sekadar Formalitas
Program TJSL tambang adalah rangkaian inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dijalankan perusahaan pertambangan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasional, mencakup pendidikan, kesehatan masyarakat, pelestarian lingkungan, pencegahan stunting lokal, hingga pemberdayaan ekonomi komunitas, dan dirancang terintegrasi agar dampaknya terasa nyata di tingkat keluarga serta komunitas kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, wajah BUMN tanggung jawab sosial di sektor tambang berubah signifikan: dari paket bantuan seremonial menjadi intervensi sosial yang lebih strategis. PT Timah, misalnya, menyentuh 15.605 penerima manfaat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) hingga Semester I 2026, meliputi pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Ini bukan angka kecil; ini sinyal bahwa operasi tambang di Bangka Belitung, Riau, Kepulauan Riau hingga Jakarta mulai mengakui bahwa daya hidup bisnis terkait langsung dengan kesehatan komunitas sekitar.
Kesehatan Publik: Dari Mobil Sehat ke Jamban Sehat
Jika dulu CSR kesehatan masyarakat identik dengan pengobatan gratis sesaat, pola yang muncul sekarang jauh lebih sistemik. PT Timah mengembangkan Program Oto Sihat (mobil sehat) dan Program Kemunting yang fokus pada kegiatan mencegah stunting. Layanan berbasis komunitas seperti ini menggeser pendekatan dari mengobati ke mencegah. Di Belitung Timur, perusahaan ini menjadi mitra program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang digagas dinas terkait, termasuk membantu pembangunan jamban sehat bagi dua keluarga berisiko stunting di Desa Burung Mandi. Di atas kertas, dua jamban tampak remeh. Namun di lapangan, akses sanitasi layak adalah batas tipis antara lingkungan pengasuh balita yang sehat dan sumber penyakit kronis. Penanganan stunting jelas tidak cukup dengan susu dan vitamin; tanpa air bersih dan MCK layak, intervensi gizi akan selalu bocor. Di sinilah TJSL tambang menunjukkan bahwa kesehatan publik dimulai dari infrastruktur dasar di rumah-rumah warga.
Pencegahan Stunting Lokal Butuh Pendekatan Multi-Sektor
Stunting sering diposisikan semata sebagai urusan dinas kesehatan, padahal faktanya jauh lebih kompleks. Upaya pencegahan dan penurunan angka stunting di Belitung Timur dijalankan melalui kolaborasi pemerintah daerah dan berbagai pihak, termasuk perusahaan melalui program TJSL tambang. Program Genting menargetkan keluarga berisiko stunting—ibu hamil, baduta, ibu menyusui—dengan intervensi rumah layak huni, sanitasi termasuk jamban sehat, bantuan nutrisi, hingga dukungan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ini inti pendekatan pentahelix: pemerintah daerah mengakui penanganan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak, dari perusahaan, perguruan tinggi, hingga komunitas lokal. Pernyataan pejabat daerah bahwa “kalau kita hanya menunggu program pemerintah, tentu ada keterbatasan” adalah pengakuan jujur bahwa APBD saja tidak cukup. Di titik ini, CSR kesehatan masyarakat berhenti menjadi pilihan, dan berubah menjadi komponen wajib ekosistem pembangunan lokal.
Pemberdayaan Ekonomi Komunitas: Menjembatani Kesehatan dan Kesejahteraan
Kesehatan tanpa pendapatan yang layak akan mudah kembali rapuh. Karena itu menarik bahwa program TJSL PT Timah dirancang terintegrasi dengan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) serta Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK). Dukungan ekonomi masyarakat dilakukan melalui Program Ketahanan Pangan, koperasi binaan, serta berbagai program PUMK bagi pelaku UMK. Pada Semester I 2026, realisasi program unggulan PUMK telah mencapai 8 dari target 16 kegiatan atau 50 persen dari target tahunan. Di level keluarga berisiko stunting, intervensi Genting juga memasukkan dukungan pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai bagian paket bantuan. Ini langkah penting: keluarga yang penghasilannya naik punya daya beli nutrisi lebih baik dan kemampuan merawat sanitasi rumah. Namun, tantangannya kini adalah kualitas pendampingan bisnis kecil, agar UMK binaan tidak sekadar bergantung pada pinjaman murah, melainkan naik kelas dan menciptakan lapangan kerja baru di sekitar wilayah tambang.
Dari Praktik CSR ke Model Tanggung Jawab Sosial BUMN
Rangkaian program ini menunjukkan bahwa BUMN tanggung jawab sosial di sektor tambang sedang bergeser ke model yang lebih serius dan terukur. TJSL yang terintegrasi dengan PPM dan PUMK bukan hanya deretan proyek, tetapi kerangka kerja yang menghubungkan kesehatan publik, pendidikan, pelestarian budaya, hingga ekonomi lokal. Di Belitung Timur, dukungan perusahaan terhadap program Genting memperluas jangkauan intervensi di tengah keterbatasan program pemerintah dan diharapkan terus diperkuat agar semakin banyak keluarga ibu hamil dan baduta mendapatkan dukungan. Ke depan, tantangan utamanya adalah konsistensi dan transparansi: tanpa ukuran dampak yang jelas, CSR kesehatan masyarakat berisiko kembali menjadi slogan. Namun jika pola pencegahan stunting lokal, pembangunan jamban sehat, dan pemberdayaan ekonomi komunitas dijalankan berkelanjutan, sektor tambang bisa berubah dari sumber beban ekologis menjadi motor kualitas hidup di komunitas pertambangan. Dan itu seharusnya menjadi standar baru, bukan pengecualian.






