Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

IHSG Paling Tertekan saat Bursa Asia Merah

IHSG Paling Tertekan saat Bursa Asia Merah
Minat|Asia Tenggara

Dua hari, dua potret tekanan

IHSG adalah indeks yang merangkum pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, sehingga penurunannya mencerminkan tekanan pada pasar saham domestik secara luas, bukan semata perubahan satu emiten. Pada Senin pagi, 26 Oktober 2026, IHSG turun 1,24% atau 67,42 poin ke level 5.371,84 dan menjadi indeks dengan koreksi terdalam di antara sejumlah indeks utama regional. Sehari kemudian, pada pukul 13.53 WIB dalam sesi II Selasa, 27 Oktober, indeks berada di 5.318,96, turun 1,01% atau 54,13 poin. Angka-angka ini menggambarkan dua waktu perdagangan yang berbeda, bukan satu sesi yang berlanjut. Namun, keduanya memperlihatkan hal serupa: tekanan jual tetap kuat, bahkan ketika pemicu dan susunan pasar regionalnya berubah.

Pada Senin pagi, bursa Asia merah secara luas: KOSPI turun 0,84%, PSEi Filipina 0,50%, Nikkei 225 0,40%, dan Shanghai Composite 0,31%. KLCI Malaysia dan Straits Times Singapura juga melemah, sementara SET Thailand stagnan. IHSG bukan sekadar ikut turun; koreksinya paling dalam dalam kelompok indeks yang dibandingkan. Perbedaan itu penting karena memberi sinyal bahwa tekanan eksternal saja belum cukup menjelaskan lemahnya pasar domestik. Kondisi di dalam negeri ikut menentukan seberapa besar guncangan regional diteruskan ke saham Indonesia.

Arus asing dan keraguan atas pemulihan

Koreksi IHSG pada Senin datang setelah indeks menguat 0,95% ke level 5.439 pada Jumat, dengan kenaikan 4,9% sepanjang pekan sebelumnya. Akan tetapi, investor asing mencatatkan jual bersih Rp1,28 triliun pada Jumat dan arus keluar sekitar Rp6,67 triliun selama sepekan. Kontras ini membuat reli akhir pekan tampak belum kokoh: pembelian domestik memang menopang indeks, tetapi belum menghapus tanda bahwa modal asing masih menjauh. Konsultasi MSCI mengenai pasar saham Indonesia menambah sorotan pada transparansi kepemilikan dan struktur pasar. Pelemahan rupiah yang bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS juga menjadi faktor risiko yang dicermati. Dengan latar demikian, penurunan pada pagi Senin lebih tepat dibaca sebagai ujian terhadap mutu pemulihan, bukan sekadar jeda setelah penguatan.

Pada Selasa, IHSG sempat dibuka di 5.357,97 dan naik hingga 5.418,14 sebelum berbalik turun sekitar pukul 10.00 WIB. Rebound singkat ke kisaran 5.370-an gagal bertahan, lalu tekanan jual kembali mendominasi. Pada pukul 13.53 WIB, nilai transaksi tercatat Rp6.233,14 miliar dengan volume 168,54 juta lot. Perubahan arah intrahari itu memperkuat kesan bahwa pembeli belum cukup meyakinkan untuk menyerap tekanan jual. Meski persentase penurunan Selasa lebih kecil daripada koreksi pagi Senin, level indeksnya lebih rendah; membandingkan persentase dari dua tanggal dan waktu berbeda tanpa konteks akan menyesatkan.

Tekanan global bertemu risiko domestik

Lingkungan global pada Senin juga kurang bersahabat. Wall Street ditutup melemah, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mendekati 5%, dan minyak Brent menembus US$116 per barel. Harga minyak yang tinggi berisiko menambah beban impor energi dan tekanan inflasi, sementara imbal hasil AS yang menarik dapat mengalihkan dana dari pasar negara berkembang. Pada Selasa, investor turut memantau konflik Timur Tengah dan perkembangan ekonomi China; meski harga minyak terkoreksi, risiko pasokan dan pelayaran masih membayangi pasar. Dua potret ini tidak boleh dilebur menjadi satu sesi: pada Senin, minyak dan imbal hasil tinggi menjadi tekanan yang disebutkan, sedangkan Selasa membawa perkembangan terbaru berupa harga minyak yang melandai di tengah ketegangan yang belum selesai.

Di dalam negeri, Bursa Efek Indonesia menyiapkan langkah pengawasan baru untuk memperkuat transparansi, termasuk perubahan terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Mulai 2 November 2026, saham kategori HSC dikecualikan dari penghitungan IHSG, bersamaan dengan perubahan jadwal evaluasi indeks. Tujuannya memperkuat kepercayaan, tetapi perubahan aturan juga menjadi hal yang perlu dipahami pelaku pasar saat menilai komposisi indeks. Untuk waktu dekat, perkiraan perdagangan tetap hati-hati dengan perhatian pada arus dana asing, stabilitas rupiah, dan sentimen global. Selama ketiga faktor itu belum membaik, IHSG berisiko tetap berfluktuasi. Penurunan paling dalam di Asia pada Senin dan pelemahan lanjutan pada Selasa menunjukkan bahwa pasar membutuhkan lebih dari sekadar reli sesaat: pemulihan perlu ditopang kepercayaan yang kembali dan tekanan jual yang mereda.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!