Dongeng Keliling sebagai Jawaban atas Tantangan Literasi Anak
Program dongeng keliling adalah inisiatif literasi berbasis cerita yang dibawa langsung ke sekolah atau komunitas, memadukan aktivitas mendongeng, permainan edukatif, dan penampilan seni untuk mengalihkan perhatian anak dari layar gadget menuju buku dan budaya baca yang menyenangkan sejak usia dini. Di tengah kekhawatiran orang tua dan guru terhadap dominasi gawai, pendekatan seperti ini bukan sekadar hiburan, tetapi strategi sadar untuk mengembalikan imajinasi anak ke dunia cerita tertulis. Program Karedok (Kreasi Aksi Rekreasi Dongeng Keliling) misalnya, digelar oleh dinas perpustakaan dan kearsipan Jakarta Utara dan melibatkan ratusan pelajar kelas 1 hingga 6 di SDN Tugu Utara 09 sebagai bagian dari kampanye minat baca anak yang terencana.

Karedok: Mengemas Literasi Sekolah Dasar Jadi Pengalaman Kolektif
Karedok menunjukkan bahwa literasi sekolah dasar bisa dirancang sebagai pengalaman kolektif yang seru, bukan tugas akademik yang kaku. Di SDN Tugu Utara 09, ratusan siswa kelas 1–6 mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari mendongeng, akustik literasi, permainan edukatif, hingga penampilan seni seperti marawis, tari daerah, pencak silat, dan pembacaan surat-surat pendek Al-Qur’an. Alih-alih menggurui, pemerintah daerah memilih pendekatan partisipatif: anak menjadi penonton sekaligus pelaku, panggung seni dipakai sebagai pintu masuk ke buku. Pesan yang disampaikan pejabat daerah pun jelas: budaya membaca dikaitkan dengan karakter—rajin belajar, jujur, patuh kepada orang tua dan guru, dan tidak mudah menyerah. Ini memperkuat kesan bahwa membaca bukan aktivitas terpisah, tetapi bagian dari pembentukan generasi yang cerdas dan berbudaya literasi sejak dini.
Mengalihkan Anak dari Gadget ke Buku: Pendekatan Sistematis Pemerintah Daerah
Kekuatan program dongeng keliling terletak pada keberaniannya mengakui masalah: anak lebih tertarik pada layar daripada lembaran buku. Sudin perpustakaan dan kearsipan di Jakarta Utara tidak berhenti pada slogan anti-gadget; mereka mengusulkan alternatif konkret berupa kegiatan literasi rutin di ruang terbuka dan sekolah, yang "mendukung program pemerintah dalam membatasi penggunaan gawai pada anak". Pesan kepada siswa pun tegas: perbanyak membaca dan kurangi waktu dengan gawai, sekaligus saling mengajak teman ke perpustakaan. Di Kotabaru, layanan bercerita “jemput bola” menyasar daerah yang jauh dari perpustakaan agar minat baca anak meningkat. Ini menunjukkan pendekatan sistematis: literasi dibawa mendekat ke anak, bukan menunggu anak datang; gadget ditandingi bukan dengan larangan belaka, tetapi dengan pengalaman membaca yang hangat, kolektif, dan penuh aktivitas.
Storytelling Komunitas Kotabaru: Kolaborasi dan Jemput Bola Literasi
Kotabaru memberi contoh bagaimana storytelling komunitas bisa mengakar jika didukung visi politik dan kolaborasi lokal. Dinas perpustakaan dan kearsipan di sana menggelar kegiatan story telling bagi anak usia dini, diikuti empat TK—Harapan Kita, As Shifa, An-Nur, dan Gedambaan—dengan model layanan bercerita jemput bola untuk daerah yang jauh dari perpustakaan. Program ini disebut sebagai unggulan literasi yang mendukung visi kepala daerah "Kotabaru Hebat, Kotabaru Cerdas" dan menyasar seluruh kecamatan secara bertahap. Pentingnya kolaborasi tampak dari keterlibatan PT Arutmin yang memfasilitasi tempat, mendukung literasi untuk anak SD hingga PAUD, serta bekerja sama dalam program perpustakaan keliling bulanan di Desa Sarang Tiung dan sekitar operasional perusahaan. Pendongeng yang tampil bahkan juara lomba bercerita tingkat kabupaten dan menggunakan alat peraga edukatif untuk menarik perhatian dan memotivasi anak agar tertarik membaca.
Ke Mana Arah Program Dongeng Keliling dan Storytelling Komunitas?
Jika konsisten, program dongeng keliling dan storytelling komunitas bisa menjadi tulang punggung ekosistem literasi anak di banyak daerah. Di Jakarta Utara, Karedok sudah dirancang sebagai kegiatan rutin di ruang publik dan sekolah dengan tujuan "meningkatkan minat baca masyarakat agar kaya akan literasi". Pejabat daerah secara terbuka berharap program ini berkesinambungan dan meluas ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Di Kotabaru, layanan bercerita dan perpustakaan keliling dibangun dalam kerangka visi kepala daerah dan dukungan perusahaan lokal, dengan rencana menyasar seluruh kecamatan secara bertahap. Namun keberlanjutan tidak bisa hanya bergantung pada acara sesekali; yang menentukan adalah apakah sekolah, orang tua, dan komunitas mau menjadikan buku dan cerita sebagai bagian dari rutinitas anak. Dongeng keliling sudah membukakan pintu—tantangannya kini adalah menjaga agar anak tetap masuk dan betah tinggal di dunia literasi.






