Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pedagang Jajanan Usia Lanjut: Ketika Rasa Menjaga Hidup

Pedagang Jajanan Usia Lanjut: Ketika Rasa Menjaga Hidup
Minat|Makanan Kaki Lima

Jajanan Tradisional dan Lansia yang Menolak Pensiun

Pedagang jajanan tradisional usia lanjut adalah penjual makanan khas yang tetap mempertahankan cara produksi, resep, dan cara berjualan turun-temurun, meski tubuh menua dan perubahan zaman memaksa mereka bersaing dengan jajanan instan dan serba modern. Mereka tidak sekadar berjualan, tetapi menjaga ingatan kolektif tentang rasa yang akrab bagi banyak generasi sekaligus menjadikan lapak sederhana sebagai sumber penghidupan di hari tua. Di tengah gempuran kafe kekinian dan makanan cepat saji, sosok seperti ini menjadi pengingat bahwa loyalitas pelanggan tidak lahir dari promosi, melainkan dari kehadiran yang konsisten setiap hari, pada jam yang sama, dengan kualitas rasa yang nyaris tidak berubah. Kisah Hasan Basri, Rubingin, dan Cek Yeti menunjukkan bahwa usia hanyalah angka ketika rasa dan kerja keras menjadi pegangan.

Pedagang Jajanan Usia Lanjut: Ketika Rasa Menjaga Hidup

Hasan Basri dan Pempek Palembang yang Menyusuri Jalan Kota

Di Palembang, Hasan Basri mengayuh sepeda di usia 75 tahun untuk menjajakan pempek Palembang keliling demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Terik matahari pada siang hari tidak menghentikannya menyusuri jalanan dengan membawa pempek Nek Anang, dari pempek telur, adaan, tahu hingga kulit, yang ia yakini akan selalu laku karena pempek adalah makanan khas yang dicari sejak pagi hingga malam.

Setiap pagi sekitar pukul 06.30, ia berangkat dengan membawa sekitar 300 pempek yang biasanya habis sebelum tengah hari. Untuk sekali pengambilan dagangan, ia mengeluarkan modal sekitar Rp650.000 dan memperoleh upah harian antara Rp50.000 hingga Rp70.000 ketika seluruh pempek terjual."Sekali ngambil 300 pempek dan seluruhnya habis terjual," kata Hasan Basri. Meski usia renta, ia memilih tetap berjualan karena bergerak membuat tubuhnya lebih bertenaga dan menjaga kemandirian. Di balik sosoknya, terlihat jelas bahwa pempek bukan sekadar makanan, tetapi jembatan antara kerja keras, martabat, dan rasa bangga sebagai pedagang jajanan tradisional.

Es Tape Legendaris Rubingin: 400 Gelas Sehari di Buk Begal

Di tepi Jalan Brosot–Nagung, Kulonprogo, gerobak es tape legendaris milik Rubingin menjadi pemandangan yang akrab bagi pengendara. Pada usia 74 tahun, ia masih mendorong gerobaknya sejauh satu kilometer setiap hari menuju lokasi yang dikenal sebagai Buk Begal, tempat ia berjualan sejak 1975. Lokasi yang dulu rawan pembegalan itu tidak membuatnya berpindah; ia memilih berjualan di siang hari, memanfaatkan suasana sejuk area persawahan sebagai bagian dari daya tarik dagangannya.

Rubingin belajar meracik es tape dengan memperhatikan pembuat es di Beskalan, lalu menyusun resep sendiri hingga dikenal luas. Saat awal berjualan, harga es tape hanya Rp15 per gelas dan roti Rp5, sebelum akhirnya menyesuaikan hingga kini Rp4.000 per gelas. Dalam sehari, ia bisa menjual sekitar 400 gelas es tape, menjadikan usaha ini sebagai penopang utama hidup keluarga sekaligus menyekolahkan tiga anaknya. Menurutnya, rahasia bertahan bukan sekadar terus berdagang, tetapi menjaga kualitas rasa dan kesegaran agar pelanggan tidak kapok dan kembali lagi.

Kumbu Kacang Merah Cek Yeti: Cetakan Kayu, Rasa yang Tak Tergantikan

Di kawasan 13 Ulu, Palembang, Cek Yeti yang berusia 53 tahun mempertahankan pembuatan kumbu kacang merah, jajanan bingen khas Palembang, secara manual dengan resep keluarga turun-temurun. Setelah salat Isya, ketika banyak rumah mulai sepi, aktivitas di rumahnya justru baru menghangat. Adonan berwarna merah marun yang sudah disangrai dan didinginkan diambil sedikit demi sedikit lalu dimasukkan ke dalam cetakan kayu tua, enam lubang diisi satu per satu dengan teliti.

Tidak ada mesin di dapur Cek Yeti; semua dikerjakan dengan tangan. Kacang merah dicuci, direbus sekitar dua jam, lalu diolah menjadi adonan yang menghasilkan sekitar 350 kumbu dari 5 kilogram kacang merah setiap hari. Setiap kue diperiksa satu per satu; jika ada bagian gosong atau bentuk kurang bagus, langsung dipisahkan dan tidak dijual karena baginya kualitas tidak bisa ditawar. Di balik harga Rp1.250 per buah, tersembunyi proses panjang dan komitmen terhadap rasa legit, gurih, serta tekstur lembut kumbu kacang merah yang menjadi kenangan lidah banyak orang.

Konsistensi, Loyalitas, dan Tanggung Jawab Generasi Berikutnya

Kisah Hasan Basri, Rubingin, dan Cek Yeti memperlihatkan pola yang sama: pedagang jajanan tradisional ini tidak bertahan karena kebetulan, melainkan karena keputusan sadar untuk konsisten. Hasan menjaga alur distribusi pempek Palembang ke gang-gang kota, meski harus melawan panas dan usia. Rubingin setia di Buk Begal selama puluhan tahun, menjadikan es tape racikannya sebagai bagian dari rute harian banyak orang. Cek Yeti mengorbankan kemudahan mesin demi menjaga karakter kumbu kacang merah yang dikerjakan manual dengan cetakan kayu.

Loyalitas pelanggan lintas generasi lahir dari ketekunan seperti ini. Anak yang dulu ikut orang tuanya membeli es tape legendaris kini datang bersama anaknya sendiri; pelanggan pempek dan kue bingen membawa cerita masa kecil setiap kali membeli. Namun, di balik romantisme rasa, ada pertanyaan penting: siapa yang akan meneruskan? Pada Rubingin dan Cek Yeti, estafet mulai disiapkan di keluarga mereka. Jika generasi muda tidak tertarik, bukan tidak mungkin jajanan ini hanya tinggal nostalgia di kepala. Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya memotret dan memuji, tetapi juga rutin membeli dan mendukung, agar roda sepeda, gerobak, dan cetakan kayu mereka tidak berhenti terlalu cepat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!