Harga bahan naik, pilihan pedagang makin sempit
Jajanan berbahan aci adalah makanan olahan tepung tapioka atau kanji yang dijual sebagai camilan terjangkau, sehingga perubahan biaya bahan bakunya cepat terasa oleh pedagang maupun pembeli. Kini, harga aci naik dan menekan usaha kecil yang mengandalkan cilok, cireng, cilor, serta makanan sejenis. Di Bandung, Dede, pedagang cilor dan bilor berusia 43 tahun, mengatakan harga tepung tapioka kemasan yang ia beli naik dari Rp12.000 menjadi Rp18.000 per kilogram dalam dua bulan terakhir. Kenaikan itu bukan persoalan angka semata: pedagang harus memilih antara menanggung biaya tambahan, mengubah produk, atau mengambil risiko pelanggan beralih. Menjaga harga tetap ramah memang penting, tetapi ruang untuk menyerap kenaikan bahan baku tidak tak terbatas.
Tekanannya meluas ke berbagai jajanan. Data pemerintah Jawa Barat menunjukkan harga tepung aci yang sebelumnya berkisar Rp10.000–Rp14.000 per kilogram kini berada di rentang Rp16.000–Rp18.000, naik hampir 30 persen. Bagi usaha kecil, lonjakan sebesar itu sulit dianggap sebagai gejolak sementara ketika bahan utama masuk ke hampir setiap adonan. Harga tepung tapioka yang meningkat juga mempersempit pilihan menjaga mutu sekaligus mempertahankan harga jual. Mengurangi kualitas demi menekan ongkos bisa merusak alasan pelanggan datang kembali; menaikkan harga pun berisiko mengurangi pembeli. Dilema ini membuat strategi bertahan sehari-hari sama pentingnya dengan menunggu pasar kembali stabil.
Ukuran mengecil atau margin menipis
Di Karanganyar, pedagang cilok Didi menghadapi kenaikan tepung kanji dan terigu yang terjadi hampir bersamaan. Harga tepung kanji per sak berisi 25 kilogram naik dari sekitar Rp320.000 menjadi Rp380.000 dan hampir menyentuh Rp400.000. Ia memilih memperkecil ukuran cilok, tetapi menjaga cita rasanya, serta belum berani menaikkan harga karena khawatir pelanggan pergi. Langkah ini memperlihatkan kompromi yang keras: beban biaya dipindahkan ke ukuran produk, bukan langsung ke uang yang dibayar pembeli. Strategi itu bisa mempertahankan harga di mata pelanggan, tetapi tidak boleh dibiarkan tanpa batas. Jika porsi terus menyusut, kepercayaan pelanggan juga dapat terkikis.
Pedagang lain menolak mengorbankan ukuran maupun mutu. Dede mempertahankan ukuran dan kualitas cilor, memilih tepung kemasan karena tepung curah yang lebih murah dapat terlihat agak hitam dan memengaruhi hasil dagangan. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa harga murah bukan satu-satunya cara menjaga pelanggan: konsistensi produk juga punya nilai. Namun, ketika margin sudah tipis, mempertahankan semuanya berarti pedagang menanggung tekanan biaya sendiri. Tidak ada pilihan yang bebas risiko; ukuran lebih kecil dapat mengecewakan, sedangkan harga tetap dengan bahan bermutu dapat menggerus keuntungan. Dilema ini menuntut pedagang menentukan batas penyesuaian yang jujur kepada pembeli, bukan sekadar menyamarkan perubahan.
Pedagang cireng bertaruh pada kestabilan
Mulyadi, pedagang cireng di Bandung, memilih mempertahankan harga sekaligus ukuran porsi karena khawatir pelanggan enggan membeli jika ada perubahan. Harga aci yang ia beli per karung naik dari Rp350.000 menjadi Rp450.000 dalam sekitar dua bulan. Cirengnya masih dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi. Keputusan untuk tidak menaikkan harga adalah taruhan: ia berharap kenaikan harga aci tidak berlanjut, sementara biaya bahan baku terus menekan usaha. Harapan itu masuk akal dari sudut pandang pedagang yang bergantung pada pelanggan rutin, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya rencana bila ongkos terus naik. Menjaga ukuran dan harga hari ini membantu mempertahankan kepercayaan, namun keberlanjutan usaha tetap memerlukan biaya yang tertutup.
Bagi pedagang cireng, pelanggan dapat membandingkan harga dan porsi dengan mudah. Itu membuat penyesuaian sekecil apa pun terasa langsung di meja jualan. Mulyadi berharap harga aci stabil dan daya beli meningkat agar usahanya lebih lancar. Harapan tersebut menegaskan bahwa persoalan ini tidak selesai hanya dengan meminta pedagang berhemat: kemampuan pembeli membayar dan harga bahan baku harus sama-sama diperhitungkan. Menahan harga tanpa batas bukan strategi yang aman, tetapi perubahan mendadak juga bisa memutus kebiasaan pelanggan. Komunikasi yang terbuka tentang perubahan biaya akan lebih sehat daripada mengecilkan porsi diam-diam atau menurunkan mutu tanpa penjelasan.
Pasokan singkong menjadi kunci
Lonjakan harga aci bukan semata urusan pedagang dan pembeli di lapak. Pasokan singkong yang terbatas disebut sebagai salah satu pemicu, dengan produksi yang menurun akibat cuaca dan masa panen raya yang belum merata di sejumlah daerah. Ketika pabrik kesulitan memperoleh bahan baku, tekanan biaya merambat hingga ke pedagang cilok dan cireng. Pemerintah Jawa Barat menyatakan akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memeriksa kondisi produksi singkong, sekaligus memperhatikan pemantauan harga dari produsen hingga pasar, ketersediaan stok, dan kelancaran distribusi. Langkah itu penting: tanpa pasokan dan distribusi yang terjaga, tuntutan agar pedagang mempertahankan harga hanya memindahkan beban ke usaha kecil.
Kesimpulannya, pedagang jajanan aci sedang membeli waktu dengan mempertahankan harga, mengatur ukuran, atau menjaga mutu sambil berharap biaya bahan baku berhenti naik. Tidak satu pun pilihan itu dapat menanggung tekanan terus-menerus tanpa dampak pada usaha atau pelanggan. Jalan keluar yang lebih adil perlu dimulai dari pasokan singkong dan distribusi tapioka yang lebih lancar, disertai penyesuaian usaha yang terbuka kepada pembeli. Selama harga aci belum stabil, kemampuan pedagang bertahan tidak seharusnya hanya bergantung pada pengurangan porsi atau keuntungan yang makin tipis.






