Destry di Kursi Gubernur BI: Stabilitas sebagai Kontrak Sosial Baru
Gubernur Bank Indonesia baru adalah sosok yang memimpin bank sentral dengan mandat menjaga stabilitas moneter, mengawal sistem keuangan, dan memastikan likuiditas perbankan memadai agar kebijakan pemerintah bisa berjalan tanpa mengganggu kepercayaan pasar dan nilai tukar. Di bawah mandat inilah Destry Damayanti resmi menerima tanggung jawab sebagai Gubernur Bank Indonesia yang baru, setelah dilantik oleh Mahkamah Agung pada Rabu, 2 September 2026. Pelantikan ini menandai awal masa jabatannya untuk periode 2026-2031, setelah Perry Warjio mengundurkan diri dari kursi gubernur. Langkah transisi ini bukan sekadar formalitas; ini adalah kontrak sosial baru bahwa stabilitas akan tetap diutamakan di tengah ketidakpastian global. "Stabilitas yang terjaga menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan" adalah pesan eksplisit yang menyertai pergantian pucuk pimpinan ini.
Likuiditas Rp 930 Triliun: Bantalan atau Kenyamanan Semu?
Prioritas pertama Destry sebagai Gubernur BI baru adalah memastikan stabilitas likuiditas perbankan, terutama ketika bank-bank Himbara diminta agresif mendukung proyek pemerintah. Ia menegaskan likuiditas di sistem perekonomian akan tetap terjaga sehingga bank bisa fokus pada penugasan, mulai dari program Makan Bergizi Gratis hingga Koperasi Desa Merah Putih. Di balik keyakinan itu, BI menyiapkan bantalan likuiditas melalui operasi moneter, termasuk instrumen repo dan FX Swap, dengan dana asing yang masuk dan dirupiahkan mencapai sekitar Rp 920–Rp 930 triliun. Menurut Destry, angka ini mencerminkan likuiditas yang kembali ke sistem keuangan domestik. Penilaiannya juga bertumpu pada rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga yang disebut masih cukup baik. Pertanyaannya: apakah bantalan ini cukup ketika penyerapan ke program pemerintah terus meningkat?
Sinergi Fiskal-Moneter: Harapan Tinggi setelah Pengalaman LPS
Di luar urusan likuiditas harian, agenda besar lain di era Destry adalah memperkuat sinergi fiskal moneter. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka menyambut pelantikannya sebagai Gubernur BI periode 2026–2031 dan menilai pengalaman panjang Destry sebagai Deputi Gubernur Senior serta di Dewan Komisioner LPS sebagai modal penting. Purbaya menyebut kedekatan dan pengalaman bersama di LPS membuatnya yakin kebijakan fiskal-moneter akan "lebih sinkron, lebih sinergi" di bawah koordinasi baru ini. Pengakuan jujurnya bahwa ia "agak lalai, terlambat menilai kondisi likuiditas" menjadi alarm bahwa koordinasi sebelumnya belum cukup tajam. Karena itu, KSSK disebut akan memakai pertemuan rutin untuk mempertajam instrumen pemantau ekonomi dan likuiditas pasar. Artinya, sinergi bukan jargon, tetapi koreksi atas kesalahan penilaian masa lalu.

Stabilitas sebagai Syarat Pertumbuhan Berkualitas
Narasi besar yang dibawa Destry adalah bahwa stabilitas bukan tujuan kosmetik, melainkan prasyarat untuk pertumbuhan ekonomi berkualitas. Dalam konteks ini, pergantian gubernur yang dilakukan setelah pengunduran diri Perry Warjio dimaksudkan menjaga kesinambungan arah kebijakan moneter dan menghindari guncangan kepercayaan. Komitmen menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah ditempatkan sebagai tugas utama bank sentral di tengah derasnya arus dana asing yang kembali ke sistem. Namun stabilitas yang disebut sebagai kunci utama pertumbuhan ke depan hanya akan berarti bila publik merasakan keamanannya, sementara pemerintah mendapatkan ruang fiskal melalui dukungan perbankan. Dengan likuiditas yang dijamin aman dan sinergi fiskal-moneter yang dijanjikan lebih sinkron, ekspektasi terhadap Gubernur BI baru sangat tinggi: stabilitas harus terasa, bukan sekadar tercatat di laporan.






