Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mal Sorong Modern City dan Babak Baru Ekonomi Papua Barat Daya

Mal Sorong Modern City dan Babak Baru Ekonomi Papua Barat Daya
Minat|Asia Tenggara

Mal modern Sorong sebagai simbol loncatan ekonomi baru

Mal Sorong Modern City adalah sebuah pusat perbelanjaan modern berskala besar yang dibangun di kawasan Pantai Reklamasi Jalan Yos Sudarso, dirancang bukan hanya sebagai tempat belanja, tetapi sebagai ikon baru kota, katalis pertumbuhan ekonomi lokal, dan penanda modernisasi infrastruktur ritel timur yang menghubungkan gaya hidup urban dengan potensi dagang kawasan pesisir.

Grand opening Mal Sorong Modern City (SMC) pada Jumat, 23 Oktober 2026, menegaskan satu pesan utama: ekonomi Papua Barat Daya memasuki fase yang lebih percaya diri. Mal modern Sorong ini resmi beroperasi setelah struktur utama rampung 100 persen oleh pengembang PT Moderen Multi Graha, menutup rangkaian pembangunan yang dimulai dari ground breaking Februari 2025 hingga topping off pada April 2026. Kehadiran gubernur, wali kota, dan tokoh-tokoh yang terlibat sejak tahap perizinan menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar bisnis, melainkan keputusan politik-ekonomi untuk menggeser pusat konsumsi dan aktivitas perdagangan ke Sorong. Di tengah wacana pemerataan pembangunan, SMC menjadi argumen konkret bahwa kawasan timur tidak lagi sekadar pasar pinggiran, tetapi panggung utama pertumbuhan.

Skala fisik besar, ambisi lebih besar: dari 3 hektare ke ekosistem ritel

Dibangun di atas lahan sekitar 3 hektare dengan empat lantai, Mal Sorong Modern City memiliki luas GFA ± 33.700 m² dan NFA ± 22.400 m², dan diklaim sebagai mal terbesar, termodern, serta pertama dengan view laut di Papua Barat Daya. Angka-angka ini penting karena mengirim sinyal bahwa kota ini tidak lagi puas dengan fasilitas ritel skala menengah. Dengan keterisian tenant yang sudah mencapai 85–90 persen dan sekitar 70 persen di antaranya dipastikan buka saat grand opening, SMC lahir bukan sebagai bangunan kosong, tetapi sebagai ekosistem ekonomi yang langsung hidup.

Masuknya deretan brand nasional—dari department store, hypermarket, bioskop, pusat permainan, hingga jaringan kuliner—menunjukkan bahwa pelaku usaha besar mulai menganggap Sorong sebagai titik strategis, bukan cabang pinggiran. Ini memperkuat posisi SMC sebagai simpul baru infrastruktur ritel timur, melengkapi pengalaman pengembang yang sebelumnya membangun pusat perbelanjaan di Jayapura lebih dari 15 tahun lalu. Secara praktis, warga kini mendapatkan akses ke pilihan barang dan layanan yang lebih luas tanpa harus terbang ke kota lain, sementara pelaku usaha lokal menghadapi standar baru dalam kualitas layanan dan pengalaman belanja.

Dampak ke ekonomi Papua Barat Daya: dari multiplier effect ke perubahan perilaku belanja

Inti dari kehadiran mal modern Sorong ini adalah efek gandanya terhadap ekonomi Papua Barat Daya. Lamberthus Jitmau secara terang menyebut SMC diharapkan menjadi ikon baru sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi di provinsi ini, dengan multiplier effect bagi perekonomian Kota Sorong dan wilayah sekitarnya. Efek tersebut tidak berhenti pada penyerapan tenaga kerja langsung, tetapi merembet ke sektor pendukung: transportasi, pemasok makanan, jasa kebersihan, keamanan, hingga usaha kecil yang menyuplai kebutuhan tenant.

Lebih jauh, gubernur mengajak masyarakat mengurangi belanja di kota lain dan memprioritaskan konsumsi di Sorong, agar pusat perbelanjaan ini tetap hidup dan memicu pertumbuhan lanjutan. Pernyataan ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi lokal bukan hanya urusan investor, tetapi juga perubahan perilaku belanja warga. Founder Multi Modern Group bahkan menargetkan masyarakat Sorong dan Papua Barat Daya tidak perlu lagi ke luar daerah untuk memenuhi kebutuhan hiburan dan konsumsi, karena di Sorong Modern City mereka bisa makan, menonton, dan berbelanja dalam satu lokasi. Jika ajakan ini berhasil, kebocoran belanja ke luar daerah akan berkurang dan sirkulasi uang akan lebih banyak berputar di tingkat lokal.

Modernisasi infrastruktur ritel timur dan tantangan bagi pelaku lokal

Sorong Modern City tidak berdiri di ruang hampa. Ia melanjutkan rangkaian pembangunan strategis yang sebelumnya telah diperjuangkan di kota ini, mulai dari bandara, pelabuhan, pasar modern, reklamasi pantai, stadion, hingga infrastruktur jalan. Dalam konteks itu, SMC adalah simpul baru yang menghubungkan infrastruktur transportasi dan logistik dengan infrastruktur ritel timur yang kian modern. Pengalaman grup pengembang membangun pusat perbelanjaan di Jayapura menjadi acuan untuk menjadikan SMC sebagai pusat aktivitas ekonomi baru di Papua Barat Daya.

Namun modernisasi selalu membawa konsekuensi. Pelaku usaha kecil dan menengah lokal harus beradaptasi dengan standar layanan, harga, dan kualitas yang ditawarkan brand besar. Tantangannya: bagaimana mereka tidak tenggelam, tetapi ikut naik kelas dengan memanfaatkan arus pengunjung mal. Di sisi lain, pemerintah daerah yang berkomitmen menciptakan iklim usaha kondusif perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi lokal tidak hanya menguntungkan jaringan ritel besar, tetapi juga membuka ruang bagi UMKM untuk masuk sebagai tenant, pemasok, atau mitra layanan. Tanpa kebijakan yang berpihak, modernisasi bisa berubah menjadi pemusatan keuntungan, bukan pemerataan kesempatan.

Menciptakan sejarah, bukan sekadar menikmati: arah baru Sorong sebagai kota ritel

Di balik angka dan seremoni, pesan paling tajam datang dari Lamberthus Jitmau: pejabat di Tanah Papua diminta tidak hanya datang untuk menikmati sejarah, tetapi menciptakan sejarah yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Mal Sorong Modern City adalah contoh konkret bagaimana keputusan perizinan, perencanaan, dan keberanian mengambil risiko investasi dapat berujung pada fasilitas yang kini dinikmati publik. Pembangunan, seperti diingatkannya, tidak jatuh dari langit, tetapi lahir dari konsep yang matang dan perjuangan panjang.

Kehadiran SMC menandai Sorong sebagai kandidat kuat kota termaju di kawasan timur, bukan hanya karena gedung tinggi, tetapi karena kemampuan menggerakkan pertumbuhan ekonomi lokal melalui infrastruktur ritel modern. Ke depan, ukuran keberhasilan bukan sekadar seberapa ramai mal ini dikunjungi, tetapi seberapa jauh ia mengubah pola kerja, pola usaha, dan pola pikir masyarakat tentang kemajuan. Jika SMC mampu menjadi ruang pertemuan antara modal besar dan kreativitas lokal, maka ia bukan hanya pusat belanja, melainkan tonggak sejarah baru ekonomi Papua Barat Daya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!