Dakwah Ekonomi sebagai Arah Baru Perjuangan Syarikat Islam
Dakwah ekonomi Syarikat Islam adalah strategi gerakan yang memadukan nilai keislaman, penguatan koperasi umat Muslim, pengelolaan zakat dan wakaf, serta pengembangan ekonomi syariah Indonesia untuk mewujudkan kemandirian ekonomi umat dan mengurangi ketergantungan pada kekuatan kapitalisme global. Kongres Nasional Majelis Tahkim Syarikat Islam ke-42 di Surabaya yang dihadiri ribuan peserta menetapkan tema “dakwah ekonomi menuju kemerdekaan sejati” sebagai kompas kepemimpinan baru. Ini bukan sekadar slogan; ia adalah pernyataan politik-ekonomi bahwa kemerdekaan politik tanpa kedaulatan ekonomi hanyalah setengah jalan. Hamdan Zoelva menegaskan ketergantungan pada produk impor sebagai ancaman yang harus dijawab dengan kemandirian dan kedaulatan ekonomi umat. Dengan demikian, dakwah ekonomi syarikat diposisikan sebagai fase perjuangan baru yang mengembalikan ruh Serikat Dagang Islam: memerdekakan umat melalui kekuatan usaha kolektif, bukan sekadar retorika keagamaan.
Lima Pilar Dakwah Ekonomi dan Penguatan Koperasi Umat
Keputusan pasca kongres jelas: penguatan ekonomi umat menjadi arah strategis melalui lima pilar dakwah ekonomi, yaitu ekonomi syariah, koperasi, zakat dan wakaf, ekologi berkelanjutan, serta kewirausahaan umat. Di sini, koperasi umat Muslim bukan hanya instrumen bisnis, tetapi alat distribusi keadilan yang menantang dominasi ratusan korporasi besar atas akses permodalan. Hamdan Zoelva sebelumnya sudah menempatkan koperasi, ekonomi syariah, ZISWAF, dan ekonomi ekologis sebagai fokus gerakan ekonomi SI. Di bawah Ferry Juliantono, fokus itu dipertajam menjadi agenda dakwah ekonomi yang eksplisit. "Arah kebijakan SI akan difokuskan pada lima pilar, yaitu ekonomi syariah, koperasi, zakat dan wakaf, ekologi berkelanjutan, serta kewirausahaan umat," tegas Ferry. Pengembangan koperasi berbasis pesantren, masjid, dan tempat ibadah menunjukkan bahwa SI memilih basis komunitas sebagai mesin kemandirian ekonomi umat, bukan bergantung pada pusat kekuatan finansial yang jauh dari akar sosial.
Kolaborasi Ekonomi Lintas Sektor: Dari Wacana ke Ekosistem Nyata
Yang membedakan fase ini dari periode sebelumnya adalah keberanian SI mengadopsi kolaborasi ekonomi lintas sektor sebagai strategi utama, bukan tambahan. Dakwah ekonomi syarikat dijalankan melalui sinergi Kementerian Koperasi, Kementerian Agama, Kementerian Ketenagakerjaan, Baznas, dan Masyarakat Ekonomi Syariah. Ini adalah pengakuan bahwa kemandirian ekonomi umat tidak mungkin lahir dari satu organisasi saja. Baznas mengelola 32 sumber dana potensial yang ditaksir setara sepersepuluh PDB nasional, dan telah memberdayakan lebih dari 300 ribu mustahik, dengan 15 ribu di antaranya naik kelas menjadi pemberi manfaat. Kolaborasi dengan SI membuka peluang agar dana sosial itu berubah menjadi ekosistem produksi dan kerja, bukan sekadar bantuan konsumtif. Jaringan SI dari wilayah hingga cabang akan dikerahkan untuk membebaskan masyarakat dari jeratan pinjaman ilegal dan memperluas jaring pengaman pangan hingga lapisan terbawah. Jika dikelola tepat, lebih dari sejuta anggota SI dapat menjadi mesin penyerapan tenaga kerja baru.
Masjid, Pesantren, dan Koperasi Desa: Basis Kemandirian Ekonomi Umat
Strategi SI pasca kongres menunjukkan pergeseran penting: ekonomi syariah Indonesia tidak lagi dibayangkan hanya sebagai sektor keuangan formal, tetapi sebagai jaringan usaha yang tumbuh dari masjid, pesantren, dan desa. Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai ratusan ribu masjid dan puluhan ribu pesantren dapat dioptimalkan sebagai pusat aktivitas ekonomi umat, salah satunya melalui pembangunan minimarket umat di lingkungan rumah ibadah, dengan keuntungan yang kembali untuk kesejahteraan jamaah. Integrasi jaringan jamaah SI dengan program Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih ditargetkan menjadi mesin pemerataan bagi pengusaha Muslim skala mikro. Di sini, koperasi umat Muslim menjadi simpul yang menghubungkan spiritualitas, solidaritas sosial, dan produksi ekonomi. Penguatan ekonomi dipandang bukan sekadar usaha, tetapi bagian dari menjaga kemandirian umat agar tidak termarginalkan, sebagaimana ditegaskan Nasaruddin ketika merujuk sejarah Serikat Dagang Islam sebagai pergerakan nasional paling awal.
Kebangkitan Serikat Dagang Islam: Tantangan Implementasi dan Harapan
Kongres ke-42 menandai tekad Syarikat Islam untuk menghidupkan kembali semangat Serikat Dagang Islam sebagai fase perjuangan baru. Menteri Agama meyakini bahwa memerdekakan umat harus melalui penguatan ekonomi agar tidak menjadi kaum termarginalkan, dan pernyataannya menegaskan kaitan sejarah SI dengan agenda pemberdayaan ekonomi yang kini dihidupkan lagi. Namun, kebangkitan ini akan diuji pada level implementasi: mampukah SI mengubah kolaborasi ekonomi lintas sektor menjadi program konkret yang dirasakan jamaah di masjid, santri di pesantren, dan pelaku usaha mikro di desa? Ferry meminta kader mengawal kepemimpinannya dan mengingatkannya bila keliru, sebuah sikap yang menunjukkan kesadaran bahwa gerakan ekonomi umat menuntut transparansi dan kontrol sosial yang kuat. Jika jaringan SI benar-benar bergerak dari wacana menuju program nyata, dakwah ekonomi syarikat berpotensi menjadi salah satu motor utama kemandirian ekonomi umat di era baru.






