World Tourism Day Indonesia: Bukan Sekadar Peringatan, Tapi Panggung Identitas
World Tourism Day Indonesia adalah momentum ketika pelaku pariwisata menjadikan hari pariwisata dunia sebagai panggung kolektif untuk menampilkan perayaan seni budaya, memperkaya pengalaman wisata lokal, dan mempertemukan wisatawan dengan warisan tradisi di hotel, pusat perbelanjaan, serta ruang publik yang dirancang lebih hidup dan interaktif. Dalam konteks inilah, perayaan World Tourism Day layak dibaca sebagai pernyataan sikap: pariwisata bukan hanya soal kunjungan dan angka, tetapi soal bagaimana destinasi berani mengangkat jati diri budaya mereka ke garis depan. Kuncinya ada pada kolaborasi antara seni, hiburan, kuliner, dan keramahan para pelaku hotel wisata budaya yang mengemas tradisi menjadi pengalaman sehari-hari bagi tamu dan pengunjung. Ketika hotel dan pusat wisata serius menggarap dimensi budaya, World Tourism Day berubah dari seremoni menjadi etalase identitas.
Sunset Kecak di Living World Denpasar: Bali Turun ke Pusat Kota
Di Sriwedari Roof Garden, Living World Denpasar membawa suasana Pura dan tebing pantai ke tengah kota lewat Sunset Kecak, pertunjukan tradisional Bali yang digelar pada Minggu, 27 September 2026. Alih-alih menunggu wisatawan datang ke destinasi alam, pusat perbelanjaan ini mengundang budaya turun langsung ke ruang urban. Rangkaian World Tourism Day Indonesia di sini memadukan seni, budaya, hiburan, destinasi wisata, dan produk lokal dalam satu ruang yang terbuka bagi masyarakat dan wisatawan.
Suara “cak…cak…cak” mengiringi penari yang bergerak dalam lingkaran, sementara pengunjung perlahan duduk dan larut dalam ritme kolektif khas Kecak. Sunset Kecak menjadi puncak pertunjukan tradisional Bali, didahului alunan Rindik yang menyambut tamu sejak sore hari. Dalam format ini, perayaan seni budaya tidak lagi terasa eksklusif atau seremonial; ia menjadi pengalaman wisata lokal yang hangat, santai, dan mudah diakses di tengah kota. Inilah bentuk pariwisata yang lebih egaliter: siapa pun berhak duduk, menyimak, dan ikut merayakan.

Dari Workshop Budaya hingga Pameran Destinasi: Merangkai Pengalaman Wisata Lokal
Kekuatan konsep World Tourism Day di Living World Denpasar terletak pada keberanian menggabungkan pertunjukan dengan pengalaman langsung. Pengunjung tidak hanya menonton, tetapi diajak berinteraksi melalui aktivitas edukasi budaya bersama sanggar dan komunitas seni Bali, mulai dari belajar menari Bali hingga membuat gelang Bali yang selama ini akrab sebagai cendera mata wisatawan. Di sini, pengalaman wisata lokal bukan sebatas agenda tur, melainkan praktik tubuh, gerak, dan keterampilan tangan yang melibatkan pengunjung secara personal.
Area exhibition menghadirkan partner pariwisata seperti Bali Zoo, AeroXSpace Adventure, MSB Bali, dan Bali Bird Park, yang memberi informasi destinasi sekaligus menawarkan tiket dengan harga promosi khusus selama acara berlangsung. Kutipan yang pantas dicatat: “Melalui area tersebut, pengunjung dapat memperoleh informasi mengenai destinasi wisata sekaligus membeli tiket masuk dengan harga promosi khusus selama kegiatan berlangsung”. Perayaan World Tourism Day Indonesia di sini memadukan seni tradisional, hiburan, informasi destinasi, dan produk lokal dalam satu rangkaian pengalaman wisata yang utuh.
THE 1O1 Palembang Rajawali: Hotel Wisata Budaya yang Hidup dari Lobi hingga Sarapan
Di Palembang, World Tourism Day mengambil bentuk berbeda namun bernada sama: kedekatan dengan kearifan lokal. THE 1O1 Palembang Rajawali merayakan momentum pariwisata dunia dengan menghadirkan berbagai pengalaman bernuansa budaya dan kuliner lokal bagi para tamu pada 27 September 2026. Di lobi hotel, Tarian Zapin Muara ditampilkan sebagai atraksi utama, menjadikan ruang tunggu sebagai panggung yang menyambut tamu dengan identitas Palembang, bukan sekadar dekorasi generik.
Sebagai hotel wisata budaya, mereka tidak berhenti di pertunjukan. Nuansa lokal mengalir sampai ke breakfast corner dengan sajian bergaya kopitiam, lalu berlanjut ke sesi pass around yang menyajikan pempek dan minuman tradisional es sago sebagai pengalaman wisata yang dapat dirasakan langsung oleh para tamu. Hotel ini juga menghadirkan photo corner tematik untuk mengabadikan momen World Tourism Day dan menyiapkan dekorasi penyambutan khusus di kamar. Bahkan, ada special offer berupa diskon 10% untuk Food & Beverage yang berlaku khusus pada 27 September 2026, mengikat sisi budaya dan komersial dalam satu paket pengalaman.
Kolaborasi Seni, Kuliner, dan Keramahtamahan: Arah Baru World Tourism Day
Jika Denpasar menghadirkan perpaduan Sunset Kecak, Rindik, workshop budaya, serta pameran destinasi dan produk lokal, Palembang menonjolkan Zapin Muara, kopitiam, pempek, dan es sago dalam format hotel wisata budaya. Keduanya menunjukkan hal serupa: perayaan World Tourism Day menggabungkan hiburan, seni, budaya, dan pengalaman destinasi wisata dalam satu narasi yang konsisten tentang identitas lokal.
Yang menarik, perayaan seni budaya tidak lagi diperlakukan sebagai selingan, melainkan inti dari pengalaman. Di Living World Denpasar, seni tradisional Bali bahkan dipadukan dengan The Beatles Tribute Performance untuk menjangkau wisatawan dari berbagai latar belakang. Di THE 1O1 Palembang Rajawali, rangkaian aktivitas World Tourism Day dirancang agar dapat dinikmati langsung oleh para tamu, mulai dari pertunjukan seni tradisional hingga sajian khas Palembang. Kesimpulannya tegas: arah baru World Tourism Day Indonesia adalah menjadikan budaya dan pengalaman wisata lokal sebagai wajah utama, sementara hotel dan pusat wisata bertindak sebagai kurator yang mempertemukan wisatawan dengan warisan tempat yang mereka datangi.






