Konser besar adalah penggerak ekonomi, bukan sekadar tontonan
Konser internasional berskala besar adalah acara hiburan yang menarik penonton lintas daerah dan negara, sekaligus menggerakkan pengeluaran mereka untuk perjalanan, penginapan, makanan, belanja, dan layanan lokal. Karena itu, konser Kanye West di Jakarta layak dinilai sebagai peluang ekonomi, bukan hanya pertunjukan untuk pemegang tiket.
Pada 25 Oktober 2026, Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani mendorong pemerintah menjadikan konser internasional, termasuk konser Ye, sebagai prioritas pengembangan ekonomi dan menilai acara semacam itu memberi efek berganda bagi hotel, restoran, serta sektor pendukung pariwisata. Sehari kemudian, Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menyebut konser berskala besar di Jakarta sebagai tanda bahwa kota ini berpotensi menarik wisatawan mancanegara, bukan hanya mengandalkan pasar domestik. Pesannya tepat: tiket adalah pintu masuk, sedangkan nilai ekonomi yang lebih luas bergantung pada berapa banyak kebutuhan pengunjung yang dapat dipenuhi oleh bisnis setempat.
Hotel dan restoran mendapat peluang saat pengunjung tinggal lebih lama
Dampak ekonomi konser terasa paling dekat ketika penonton membayar kamar, makan, transportasi, dan kebutuhan lain selama berada di kota penyelenggara. PHRI menilai kunjungan penonton tidak harus berhenti pada datang untuk konser lalu langsung pulang; wisatawan dapat memperpanjang lama tinggal, terutama ketika jumlah pengunjung besar. Bagi hotel, tambahan malam mengisi kamar dan memperluas peluang layanan. Bagi restoran, arus pengunjung membuka kesempatan melayani pelanggan baru sebelum dan sesudah acara.
Perputaran ini juga meluas ke transportasi, pusat perbelanjaan, UMKM, dan industri kreatif lokal, menurut Apindo. Artinya, manfaat tidak otomatis terkunci pada promotor atau venue. Pelaku usaha di sekitar lokasi pun berpeluang meraih belanja pengunjung, selama mereka siap dengan jam operasional, kapasitas layanan, dan informasi yang mudah ditemukan. Pemerintah daerah dan penyelenggara sebaiknya menghubungkan agenda konser dengan penawaran wisata serta bisnis lokal. Tanpa upaya itu, sebagian besar pengeluaran pengunjung bisa berlalu tanpa memberi manfaat maksimal bagi kawasan.
Citra MICE dibangun lewat pengalaman yang tertata
Konser global juga menjadi ujian bagi industri MICE Indonesia. Menurut Apindo, keberhasilan menyelenggarakan acara berskala internasional dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan MICE sekaligus menunjukkan kesiapan infrastruktur, industri kreatif, dan ekosistem usaha. Reputasi seperti ini tidak dibentuk oleh nama besar artis saja: kelancaran transportasi, layanan akomodasi, koordinasi pelaku usaha, dan pengalaman penonton ikut menentukan apakah promotor dan mitra global percaya untuk kembali.
Apindo memandang rekam jejak acara yang baik sebagai modal untuk menarik lebih banyak konser, festival, investasi, dan peluang kerja. Pandangan itu masuk akal, tetapi reputasi harus dibuktikan dari penyelenggaraan ke penyelenggaraan. Jika layanan bagi penonton dan koordinasi dengan bisnis lokal berjalan baik, sebuah konser dapat menjadi referensi bagi acara internasional berikutnya. Jika tidak, besarnya perhatian sesaat belum tentu berubah menjadi kepercayaan jangka panjang. Inilah alasan kesiapan MICE perlu dinilai sebagai kemampuan seluruh ekosistem, bukan sekadar tersedianya panggung dan tempat acara.
Izin acara internasional perlu lebih mudah dan terkoordinasi
Peluang tersebut sulit dimaksimalkan bila proses penyelenggaraan terlalu membebani promotor. Hariyadi menyebut biaya penyelenggaraan konser di Indonesia relatif tinggi dibandingkan negara lain dan meminta pemerintah memprioritaskan kemudahan perizinan agar peluang dari industri hiburan global dapat ditangkap. Penyederhanaan izin acara internasional bukan berarti mengabaikan standar keselamatan atau kepentingan publik. Yang dibutuhkan ialah proses yang jelas, terkoordinasi, dan dapat diperkirakan, sehingga penyelenggara bisa merencanakan acara tanpa hambatan birokrasi yang tidak perlu.
Apindo juga mendorong sinergi regulator dan pelaku usaha melalui penyederhanaan perizinan, penguatan konektivitas dan infrastruktur, serta integrasi hiburan, pariwisata, dan UMKM. Langkah berikutnya harus memastikan bisnis lokal ikut tersambung dengan rencana acara, bukan baru mengetahui peluang ketika penonton tiba. Pemerintah, promotor, hotel, restoran, dan pelaku usaha terkait perlu bekerja sebagai satu rantai layanan. Kesimpulannya, konser Kanye West dapat menjadi pemicu bisnis dan penguat citra MICE, tetapi manfaat luas tidak datang otomatis: izin yang lebih mudah, persiapan matang, dan keterlibatan usaha lokal harus berjalan bersama.






