Lumut sebagai teknologi lingkungan
AeroSpora adalah dinding lumut pintar karya siswa yang memadukan kemampuan alami lumut menyaring udara dengan sensor, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan untuk memantau lingkungan serta merawat tanaman secara otomatis. Gagasannya menarik karena menghubungkan solusi berbasis alam dengan rekayasa STEM, bukan mengandalkan perangkat elektronik sebagai jawaban tunggal. Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta, yang beranggotakan Azka, Vania, Keanu, dan Aqeela, meraih juara pertama kategori SMA/SMK/MA dalam Samsung Solve for Tomorrow 2026 lewat proyek ini. Kemenangan itu menunjukkan bahwa inovasi siswa dapat berangkat dari persoalan sehari-hari dan menghasilkan prototipe yang bisa dipahami publik. Namun, gelar juara adalah pengakuan atas gagasan dan pengembangannya, bukan bukti bahwa perangkat sudah terbukti menurunkan polusi dalam skala luas.

Cara kerja: mengukur, memprediksi, lalu mengaburkan
AeroSpora dirancang berukuran 120 × 50 sentimeter dengan ketebalan 20 sentimeter. Sensor mengukur PM2.5, suhu, kelembapan udara, dan kelembapan media tanam. Data diproses oleh mikrokontroler ESP32 dan ESP32-S3; model TinyML memperkirakan risiko lumut mengering, lalu sistem mengaktifkan pengabutan otomatis sebelum tanaman kekurangan air. Pendekatan pencegahan ini lebih masuk akal daripada menunggu media tanam kering, sementara air kondensasi dari pendingin ruangan dirancang sebagai salah satu sumber penyiraman. Pengguna dapat melihat data lingkungan secara langsung melalui dasbor VERA (Visual Environment Real-time Analytics), yang memanfaatkan tablet bekas sebagai stasiun pemantau. Dengan demikian, AI pemurni udara di sini terutama membantu menjaga kondisi biofilter dan menyajikan informasi; sumber yang tersedia tidak membuktikan bahwa AI sendiri menghilangkan partikel.

Potensi yang menjanjikan, bukti yang masih dibutuhkan
Alasan proyek ini relevan terlihat dari paparan tim: konsentrasi PM2.5 di Jakarta tercatat 41 µg/m³ pada Oktober 2026, sekitar 2,5 kali pedoman harian WHO sebesar 15 µg/m³. AeroSpora ditujukan untuk lobi dan area semi-indoor, dengan konsumsi daya sekitar 15–25 watt serta cakupan ruangan yang dirancang mencapai 50–80 meter persegi. Tim juga menyebut target harga Rp1,2 juta, tetapi angka tersebut merupakan sasaran pengembangan, bukan hasil penjualan atau uji independen. Inilah batas penting yang perlu ditegaskan: luas cakupan dan spesifikasi daya belum menjawab seberapa banyak PM2.5 benar-benar tersaring, dalam berapa lama, atau bagaimana hasilnya dibandingkan alat konvensional. Potensinya ada, tetapi klaim kinerja harus menunggu pengujian terukur dan transparan.

Dari prototipe menuju dampak nyata
Nilai AeroSpora bukan hanya pada lumut sebagai biofilter, tetapi juga pada cara proyek ini menjadikan data kualitas udara lebih terlihat dan perawatan tanaman lebih terarah. Dasbor dapat membantu pengguna memahami perubahan PM2.5 secara real-time, sedangkan pemakaian tablet bekas dan air kondensasi AC memberi gagasan pemanfaatan ulang yang layak diuji lebih lanjut. Tim ingin terus menyempurnakan perangkat agar kelak dapat diterapkan lebih luas. Langkah berikutnya seharusnya mencakup uji independen di berbagai kondisi ruangan, pencatatan kinerja dalam jangka panjang, serta perbandingan hasil sebelum dan sesudah pemasangan. Tanpa bukti itu, AeroSpora tetap prototipe yang menjanjikan, bukan pengganti solusi pengendalian polusi. Kesimpulannya, inovasi siswa ini menunjukkan perpaduan alam dan AI yang patut dikembangkan—dan keberhasilannya kelak harus diukur dari data, bukan hanya penghargaan.






