Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Angkot Bertahan di Era Bus Modern sebagai Feeder Transportasi Massal

Angkot Bertahan di Era Bus Modern sebagai Feeder Transportasi Massal
Minat|Asia Tenggara

Angkot Feeder Transportasi: Bukan Korban, Melainkan Tulang Punggung Baru

Angkot feeder transportasi adalah model di mana angkutan kota tradisional difungsikan sebagai penghubung utama dari permukiman dan jalan lingkungan menuju bus massal perkotaan, dengan rute yang ditata ulang dan sistem pembayaran yang terintegrasi sehingga penumpang dapat berpindah moda secara mulus tanpa harus membayar berulang kali, sekaligus menjaga keberlangsungan mata pencaharian sopir angkot di tengah modernisasi angkutan umum. Dalam perdebatan soal modernisasi angkutan umum, banyak orang menganggap angkot sebagai masalah: semrawut, berebut penumpang, dan memicu kemacetan. Namun kebijakan terbaru di Balikpapan dan Serang menunjukkan arah berbeda. Alih-alih digusur, angkot dirangkul menjadi bagian resmi dari integrasi transportasi kota. Ini bukan kompromi setengah hati, melainkan pilihan politik: kota ingin maju tanpa mengorbankan sektor informal yang selama puluhan tahun mengisi celah layanan transportasi.

Balikpapan: Skema BTS dan Bayar Sekali sebagai Jaminan bagi Sopir Angkot

Balikpapan mengambil langkah paling tegas: Dishub memastikan pengembangan transportasi modern tidak akan mematikan angkot lokal. Angkot justru diubah perannya menjadi feeder pendukung bus Balikpapan City Trans (Bacitra). Kuncinya ada pada skema Buy The Service (BTS), di mana pemerintah membeli layanan angkot sehingga pengusaha tidak lagi berjudi dengan nasib rute dan jumlah penumpang. Kepala Dishub Balikpapan M Fadli Pathurrahman menyatakan, “Pengusaha angkutan kota tidak perlu merasa khawatir apakah rute baru nanti memiliki potensi penumpang atau tidak, karena seluruh potensi tersebut sepenuhnya akan kami intervensi”. Integrasi transportasi kota ini tidak dilakukan asal-asalan; ada kajian Rencana Umum Jaringan Trayek Balikpapan Connectivity bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya sebagai dasar teknis penataan jaringan.

Dampak praktis bagi warga terasa jelas. Angkot tetap vital melayani jalan lingkungan dan pemukiman, termasuk ke pasar, antar anak sekolah, dan kawasan wisata. Di sinilah konsep angkot feeder transportasi bekerja: angkot mengangkut penumpang dari kantong permukiman, lalu mengalirkannya ke koridor Bacitra sebagai bus massal perkotaan. Dishub menyiapkan sistem pembayaran tunggal (one payment), sehingga penumpang yang transit dari angkot ke Bacitra cukup membayar sekali. Ini menghapus rasa rugi yang sering muncul saat harus ganti moda. Penataan trayek juga diarahkan untuk memperluas jangkauan Bacitra ke pinggiran kota yang belum terlayani optimal, seperti Teritip di Balikpapan Timur dan Karang Joang KM 23 di Balikpapan Utara. Modernisasi angkutan umum di Balikpapan, dengan demikian, tampil sebagai upaya sadar menyeimbangkan efisiensi sistem dengan perlindungan sektor informal.

Serang: Penataan Koridor Angkot Menyambut Bus Listrik

Serang memilih jalur penataan koridor angkot menjelang pengoperasian bus listrik sebagai transportasi massal kota. Pemerintah kota menyiapkan pengaturan jalur angkutan umum agar kendaraan dari luar daerah yang memasuki wilayah perkotaan mengikuti koridor yang telah ditentukan. Ini adalah langkah penting untuk mengurangi kemacetan dan tumpang tindih rute yang selama ini menjadi ciri angkot di banyak kota. Wali Kota Budi Rustandi menegaskan targetnya: ketika bus listrik resmi beroperasi pada 2027, tidak ada lagi angkot dari luar daerah yang bebas masuk ke dalam kota; semua harus mengikuti koridor yang diatur. Di balik pernyataan keras itu, terlihat ambisi menjadikan bus listrik sebagai tulang punggung baru bus massal perkotaan, dengan angkot yang tertata sebagai pengumpan, bukan pesaing liar di jalan.

Serang juga sedang mengevaluasi uji coba bus listrik selama lima hari, dari 19 hingga 23 Oktober 2026, sebagai bahan pertimbangan sebelum layanan resmi dioperasikan pada 2027. Di sisi tarif, pemerintah kota secara terbuka menyatakan harapan agar ongkos bus listrik tetap terjangkau, terutama bagi pelajar. Ini menunjukkan bahwa modernisasi angkutan umum tidak boleh menjadi kemewahan yang meminggirkan pengguna utama angkot: warga berpenghasilan rendah dan siswa. Penataan koridor angkot di Serang, bila konsisten, berpotensi mengurangi kemacetan di area perkotaan sekaligus memberi kepastian bagi sopir angkot lokal. Mereka tidak dihapus, tetapi diarahkan untuk menjadi bagian dari integrasi transportasi kota yang lebih tertib dan efisien.

Modernisasi Angkutan Umum yang Melindungi Sektor Informal

Kebijakan Balikpapan dan Serang mengirim pesan penting: modernisasi angkutan umum tidak harus identik dengan penghapusan angkot. Di Balikpapan, Dishub secara eksplisit menegaskan bahwa pengembangan transportasi modern tidak akan mematikan angkot. Di Serang, pemerintah kota menyiapkan regulasi melalui Peraturan Wali Kota untuk mengatur mekanisme operasional angkutan umum, bukan sekadar mengganti semua moda dengan bus listrik. Program-program ini mencerminkan upaya menyeimbangkan modernisasi transportasi dengan perlindungan sektor informal. Sopir angkot, yang selama ini beroperasi tanpa jaminan pendapatan, mulai dilihat sebagai mitra yang perlu diberi kepastian melalui skema BTS, penataan SOP, kelayakan armada, dan pola pelayanan yang lebih profesional di Balikpapan.

Dari perspektif keadilan sosial, pendekatan ini jauh lebih masuk akal dibanding model “hapus angkot, ganti bus besar” yang sering memicu konflik. Angkot feeder transportasi memungkinkan kota mendapatkan manfaat integrasi transportasi kota—rute yang efisien, kemacetan berkurang, dan layanan massal yang nyaman—tanpa memutus mata pencaharian ribuan keluarga. Penumpang diuntungkan oleh sistem bayar sekali di Balikpapan dan harapan tarif terjangkau di Serang. Sementara itu, sopir angkot memperoleh posisi lebih jelas dalam ekosistem bus massal perkotaan. Ini adalah bentuk modernisasi yang mengakui bahwa sektor informal bukan penghalang, melainkan fondasi yang perlu diatur ulang agar bisa tumbuh bersama sistem transportasi massal yang baru.

Kesimpulan: Kota Maju Harus Mengajak Angkot, Bukan Mengusirnya

Balikpapan dan Serang menunjukkan bahwa kota bisa maju tanpa menjadikan angkot sebagai korban. Dengan menjadikan angkot feeder transportasi bagi bus massal perkotaan, kedua kota ini menggeser narasi: angkot bukan lagi simbol kekacauan, melainkan penghubung penting dalam integrasi transportasi kota. Skema BTS, sistem bayar sekali, penataan koridor, dan regulasi yang sedang disiapkan adalah langkah konkret untuk menyatukan modernisasi angkutan umum dengan perlindungan sektor informal. Tantangannya jelas: implementasi harus konsisten, pengawasan ketat, dan sopir angkot dilibatkan dalam proses. Namun arah kebijakannya sudah tepat. Kota lain yang sedang merencanakan bus listrik atau BRT seharusnya belajar dari sini: masa depan transportasi massal tidak harus memutus masa lalu, tetapi bisa dibangun di atas jaringan angkot yang ditata ulang dan diberi peran baru yang lebih bermartabat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!