Kemenangan tak menghapus masalah lapangan
Rumput JIS adalah permukaan lapangan Jakarta International Stadium yang menjadi tempat Persija menjamu lawan, dan kondisinya dapat menentukan seberapa lancar pemain mengalirkan bola serta menjalankan strategi. Seusai Persija mengalahkan Persik Kediri 2-1 pada Senin, 26 Oktober 2026, kapten Rizky Ridho menilai kualitas rumput menyulitkan tim menampilkan permainan terbaik. Keluhannya penting justru karena datang setelah tiga poin berhasil diraih: kemenangan tidak serta-merta membuktikan bahwa kondisi kandang sudah memadai. Persija sempat tertinggal oleh gol Imanol Garcia pada menit ke-10, lalu membalikkan keadaan lewat Denis Kolinger pada menit ke-64 dan Ridho dua menit kemudian. Hasilnya menjaga laju tim, tetapi pertandingan yang berakhir positif tetap menyisakan pertanyaan tentang mutu fasilitas yang seharusnya mendukung permainan.

Permainan mengalir terganggu, bola mati menentukan
Menurut Ridho, lapangan JIS yang tidak maksimal membuat pemain kesulitan mengalirkan bola, dan hambatan itu juga dirasakan Persik. Dampaknya terlihat pada pola gol: seluruh gol dalam Persija vs Persik bermula dari situasi bola mati. Persik mencetak gol melalui sepak pojok, sementara dua gol Persija berawal dari tendangan bebas. Ini bukan bukti bahwa rumput menjadi satu-satunya penyebab alur permainan tersendat, tetapi menjadi petunjuk konkret bahwa laga lebih banyak ditentukan oleh bola mati daripada kombinasi terbuka yang ingin disuguhkan kedua tim. Ridho juga meminta maaf kepada Jakmania karena merasa timnya tidak dapat memberi hiburan permainan seperti yang diharapkan. Kritik itu layak didengar: penonton datang bukan hanya untuk melihat hasil, melainkan juga sepak bola yang mengalir dan menunjukkan kemampuan para pemain.
Target juara menuntut perawatan yang konsisten
Ridho menyebut persoalan ini terasa berulang, sementara Persija dituntut bermain bagus dan menang di tengah ambisi menjadi juara. Ia tidak menolak JIS dipakai untuk kegiatan lain, termasuk konser yang dapat membuka ruang bagi pelaku UMKM. Namun, penggunaan stadion semestinya berjalan seiring dengan perawatan lapangan, bukan mengorbankan kesiapan rumput untuk pertandingan. Ridho berharap pengelola menjaga kualitas rumput agar tim tuan rumah maupun tamu dapat bermain dalam kondisi ideal. Ia juga mengusulkan langkah seperti menggulung lapangan atau cara lain untuk mencegah kerusakan. Itu adalah tuntutan yang masuk akal: stadion multifungsi tetap bisa menjadi aset, asalkan jadwal kegiatan disertai perlindungan dan pemulihan permukaan yang terencana.
Tiga poin penting, tetapi standar kandang juga penting
Kemenangan 2-1 membuat Persija mengoleksi 18 poin dari tujuh pertandingan dan bertahan di puncak klasemen, unggul empat poin dari Dewa United Banten FC. Posisi itu memperkuat alasan mengapa kualitas lapangan tidak boleh diperlakukan sebagai keluhan sampingan. Jika Persija ingin terus bersaing sekaligus menyajikan sepak bola yang lebih baik, kandang harus membantu pemain menerapkan permainan, bukan memaksa mereka terus menyesuaikan diri dengan kondisi yang menghambat. Pengelola JIS dan klub perlu memastikan kegiatan nonsepak bola diikuti perawatan yang jelas dan konsisten. Pada akhirnya, kemenangan atas Persik patut dirayakan, tetapi hasil tersebut tidak menghapus pekerjaan rumah: rumput JIS harus cukup baik untuk mendukung pertandingan yang layak bagi kedua tim dan para penonton.






