Keluhan yang tak bisa diabaikan
Rumput JIS adalah permukaan lapangan sepak bola di Jakarta International Stadium yang harus mendukung keselamatan pemain, mutu pertandingan, dan kenyamanan penonton. Karena itu, kondisinya bukan soal tampilan stadion semata, melainkan bagian penting dari kelayakan sebuah laga. Setelah Persija menang 2-1 atas Persik Kediri dalam lanjutan Super League pada Senin (26/10), pelatih Shin Tae Yong dan pemain Rizky Ridho menyoroti kondisi lapangan. Shin menilai rumput sangat buruk dan meminta pihak terkait mengevaluasi pengelolaannya. Tegurannya tegas: “Sebenarnya tidak boleh bermain bola dengan kondisi lapangan seperti itu.” Keluhan Persija makin beralasan karena masalah ini disebut berulang. Ridho mengatakan tim dituntut bermain baik dan mengejar gelar, tetapi kondisi lapangan justru menyulitkan. Kritik dari pihak yang bertanding semestinya diperlakukan sebagai sinyal serius, bukan sekadar reaksi setelah laga.
Dampaknya melampaui hasil pertandingan
Keluhan itu bukan hanya tentang apakah pemain bisa mengontrol bola dengan nyaman. Ridho juga menyebut lapangan buruk membuat Persik tidak leluasa memainkan kombinasi umpan pendek, sehingga Persija merasa kurang menghormati lawannya saat menyambut mereka di JIS. Dengan kata lain, kondisi lapangan JIS berpengaruh pada mutu kompetisi dan pengalaman kedua tim. Shin mengaitkan lapangan yang layak dengan kemampuan tim menampilkan permainan terbaik serta memberi hiburan kepada suporter yang datang ke stadion. Itu alasan yang seharusnya menjadi perhatian pengelola: penonton tidak datang hanya untuk melihat skor, tetapi juga sepak bola yang dimainkan dengan baik. Kemenangan Persija tidak menghapus persoalan tersebut. Jika rumput membatasi permainan, kualitas laga ikut menurun, sementara pemain dan penonton menanggung dampaknya.
Janji perbaikan perlu diikuti evaluasi
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan rumput akan segera disempurnakan oleh Jakpro, pengelola JIS. Ia menjelaskan lapangan diperbaiki sekitar sepekan setelah stadion digunakan untuk konser dan laga dapat digelar kembali. Sebagai perbandingan, menurut Pramono, pemulihan setelah konser sebelumnya bisa memerlukan dua hingga tiga bulan. Waktu pemulihan yang lebih singkat patut dicatat, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan lapangan sudah siap untuk pertandingan. Justru, keluhan pemain setelah laga menunjukkan bahwa kecepatan pemulihan harus sejalan dengan kualitas hasilnya. Pramono menyebut ada kekurangan dan berharap perbaikan segera dilakukan. Janji itu penting, tetapi ukuran keberhasilannya mesti terlihat di lapangan: rumput harus konsisten mendukung pertandingan, bukan sekadar memungkinkan stadion kembali dipakai.
Ukur hasilnya dari lapangan
Pemprov DKI menyatakan akan mengevaluasi kondisi rumput bersama Jakpro. Staf Khusus Gubernur Bidang Komunikasi Sosial Chico Hakim mengatakan masukan dari Persija dan tim lawan akan disampaikan kepada pengelola untuk ditindaklanjuti. Pemprov juga menyebut kualitas fasilitas JIS perlu mendukung kompetisi sekaligus memberi kenyamanan bagi pemain dan penonton. Evaluasi bersama adalah langkah yang tepat, tetapi publik layak mengharapkan tindak lanjut yang bisa dinilai, bukan hanya pernyataan. Masukan dari kedua tim perlu diterjemahkan menjadi perawatan dan pemulihan rumput yang memenuhi kebutuhan sepak bola, termasuk setelah konser atau acara besar. Kesimpulannya, sorotan Persija telah membuka persoalan yang lebih luas daripada satu pertandingan. Pramono Anung sudah menjanjikan perbaikan dan Pemprov DKI berencana mengevaluasi lapangan; kini Jakpro perlu membuktikan bahwa janji itu menghasilkan rumput JIS yang layak secara konsisten.






