Uji lima hari menguji lebih dari sekadar armada
Bus listrik Serang adalah layanan transportasi umum berbasis tenaga listrik yang sedang diuji untuk menilai kesesuaiannya dengan kebutuhan perjalanan warga dan kemungkinan operasional jangka panjang. DAMRI bersama Pemerintah Kota Serang menggelar uji coba DAMRI pada 19–23 Oktober 2026 sebagai langkah menjajaki angkutan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dua armada—medium bus dan microbus—beroperasi setiap hari pukul 06.00 hingga 17.00. Uji coba tersebut menindaklanjuti pertemuan DAMRI dengan Wali Kota Serang Budi Rustandi pada 22 September. Tujuannya bukan sekadar memperkenalkan kendaraan baru: lima hari operasi perlu memberi gambaran tentang kecocokan rute, jam layanan, dan kebutuhan mobilitas warga. Hasil evaluasi akan menjadi bahan untuk merancang layanan permanen, sehingga keputusan berikutnya semestinya bertumpu pada pengalaman penumpang dan kebutuhan operasional, bukan hanya daya tarik teknologi listrik.

Rute kampus memberi awal yang konkret
Dalam tahap percobaan, medium bus melayani Terminal Pakupatan–Universitas Serang Raya (UNSERA), sedangkan microbus menghubungkan Perumahan Visenda dengan UIN Banten. Kedua trayek berjalan pada jam yang sama, pukul 06.00–17.00, sehingga warga dapat mencoba layanan pada koridor yang mengaitkan terminal dan kawasan hunian dengan kampus.
Pilihan rute UNSERA UIN masuk akal sebagai titik awal karena perjalanan kampus memberi sasaran layanan yang jelas, termasuk bagi pelajar dan mahasiswa. Namun, dua koridor saja belum membuktikan bahwa jaringan tersebut menjawab perjalanan harian yang lebih luas. Pemerintah perlu menilai apakah jam keberangkatan, titik naik-turun, dan koneksi ke tujuan lain benar-benar praktis bagi penumpang. Tarif bus listrik selama uji coba gratis, sehingga periode ini juga menjadi kesempatan bagi warga untuk merasakan layanan tanpa beban ongkos dan bagi pengelola untuk mengamati minat pengguna.
Pilihan tarif harus berpijak pada biaya dan daya beli
Gratis saat uji coba tidak otomatis berarti layanan akan tetap tanpa ongkos. Pemkot Serang masih mengkaji tiga skema untuk operasional yang ditargetkan mulai Januari 2027: gratis, bersubsidi, atau tarif penuh. Penentuan pilihan akan mempertimbangkan biaya operasional kendaraan dan kemampuan keuangan daerah. Dengan demikian, keputusan yang baik harus menyeimbangkan akses warga dengan kemampuan pemerintah membiayai layanan secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Serang, Diat Hermawan, memberi contoh untuk rute Pakupatan–UNSERA: tarif penuh Rp5.000 dapat disertai subsidi Rp3.000, sehingga penumpang membayar Rp2.000; alternatifnya, tarif penuh atau layanan gratis. Ia juga menjelaskan bahwa ongkos gratis tetap menyisakan biaya operasional yang harus ditanggung pemerintah. Kajian tarif dan pembiayaan ditargetkan selesai setelah uji coba. Menurut saya, subsidi yang terukur layak dipertimbangkan agar ongkos tidak menjadi penghalang, tanpa menutup mata pada kemampuan anggaran daerah.
Angkot belum menyatakan keberatan, tetapi harus dilibatkan
Pemkot mengklaim belum menerima penolakan atau gejolak dari sopir angkot selama uji coba. Diat Hermawan mengatakan para pelaku transportasi akan dilibatkan dalam penyusunan kebijakan. Klaim bahwa belum ada komplain merupakan sinyal awal yang baik, tetapi belum cukup untuk memastikan penerimaan jangka panjang, terutama jika cakupan dan jadwal layanan berubah.
Dishub menilai bus beroperasi dengan pola berbeda: penumpang naik dan turun di titik atau halte, sementara angkot lebih fleksibel. Angkot juga dapat menjadi pengumpan bagi penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan ke wilayah lain. Gagasan ini lebih menjanjikan daripada memperlakukan kedua layanan sebagai pesaing, tetapi memerlukan koordinasi rute dan titik perpindahan yang jelas. Pemkot menargetkan koridor transportasi umum beroperasi pada 2027. Keberhasilan bus listrik Serang karena itu tidak cukup diukur dari kendaraan yang berjalan; manfaatnya bergantung pada tarif yang terjangkau, koneksi yang berguna, dan pelibatan sopir angkot sejak perencanaan.






