Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pendampingan Psikososial Pascagempa: Menjaga Waras di Tengah Reruntuhan

Pendampingan Psikososial Pascagempa: Menjaga Waras di Tengah Reruntuhan
Minat|Kesehatan Mental

Dukungan psikososial gempa: dari mengatasi takut hingga memulihkan kehidupan

Dukungan psikososial gempa adalah serangkaian asesmen, konseling, aktivitas edukatif, dan trauma healing bencana yang dirancang untuk membantu penyintas memproses ketakutan, meredakan tekanan emosional, menjaga kelangsungan pendidikan, serta memulihkan relasi sosial sehingga mereka bisa kembali berfungsi dalam keluarga, sekolah, dan komunitas secara berdaya. Tanpa pendampingan penyintas gempa yang terarah, pemulihan pascagempa mudah direduksi menjadi soal tenda dan logistik, padahal kerusakan yang paling panjang sering mengendap di pikiran dan perilaku. Itulah mengapa organisasi kesehatan dan lembaga kemanusiaan kini mendorong deteksi dini kesehatan mental sebagai komponen wajib respons bencana. Pendekatan ini bukan pelengkap; ia adalah penentu apakah komunitas yang terguncang dapat bangkit utuh, bukan hanya berdiri secara fisik.

PMI: asesmen, mendengarkan cerita, dan pemulihan sekolah

Pendekatan Palang Merah jelas menunjukkan bahwa dukungan psikososial gempa tidak bisa dikerjakan dari balik meja. Di Ende, layanan dukungan psikososial di SD Inpres Rojabai hadir langsung di ruang sekolah dan menjangkau 121 penerima manfaat, terdiri atas 116 anak dan 5 guru. Anak-anak diajak bermain, belajar mitigasi gempa, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, sementara guru mengikuti FGD untuk mengurai beban dan mengidentifikasi kebutuhan dukungan. Di Nagekeo, relawan melakukan asesmen dampak psikologis di SDK Gawalea dan permukiman RT 30 untuk memetakan rasa takut, kondisi tempat tinggal, dan keberlanjutan pendidikan anak. Di Desa Olaia, tim duduk bersama 57 warga — 25 anak dan 32 orang dewasa termasuk tujuh lansia — dengan pendekatan ramah agar mereka nyaman bercerita tentang ketakutan dan kebutuhan setelah gempa. PMI juga menegaskan bahwa "mendengarkan menjadi langkah awal untuk menemani masyarakat dalam proses pemulihan". Ini bukan sesi curhat semata, melainkan asesmen hidup yang menjadi dasar pendampingan lanjutan guna memulihkan proses belajar mengajar, rasa aman, dan jaringan sosial.

Pendampingan Psikososial Pascagempa: Menjaga Waras di Tengah Reruntuhan

Deteksi dini kesehatan mental: langkah berani pemerintah daerah

Langkah pemerintah daerah Manggarai Timur melakukan deteksi dini kesehatan mental pada penyintas gempa patut dibaca sebagai pergeseran paradigma: kesehatan jiwa bukan urusan belakang, melainkan bagian inti penanganan bencana. Bupati menegaskan perlunya pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam penanganan jiwa. Rapat lintas sektor pun menyepakati penguatan peran instansi untuk segera melakukan deteksi dini terhadap penyintas yang mungkin menjadi Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Ini krusial mengingat data mencatat 783 Orang Dengan Gangguan Jiwa, dengan 715 telah tertangani obat, 51 masih dipasung, dan satu bebas pasung. Menghadapi kondisi pengungsian yang penuh tekanan, arahan agar perangkat daerah bekerja sama dengan kecamatan dan desa untuk memberi obat-obatan dan pendampingan psikososial adalah pengakuan terang bahwa trauma tidak boleh dibiarkan berlarut hingga berubah menjadi pasung baru, baik secara fisik maupun sosial.

Trauma healing bencana untuk pekerja dan pelaku usaha: jangan lupakan ekonomi emosional

Pemulihan pascagempa bukan hanya urusan sekolah dan pengungsian; dunia kerja dan usaha kecil sama rapuhnya di bawah tekanan emosional. Program trauma healing bencana yang dijalankan lembaga pembiayaan untuk karyawan dan lebih dari 700 nasabah dalam tajuk "Bangkit Berusaha" menunjukkan kesadaran bahwa ketakutan dan rasa tidak berdaya bisa mematikan ekonomi keluarga. Pendampingan psikologis diisi teknik pengaturan napas, latihan fokus mengenali lima benda di sekitar, hingga butterfly hug — tangan disilangkan di dada sambil menepuk bergantian untuk menenangkan diri. Seorang karyawan mengaku teknik ini membuatnya dapat menenangkan diri tanpa menunggu orang lain, dan kemudian menggunakannya saat menghadapi nasabah yang emosinya belum stabil. Nasabah diajak berbagi cerita, mengekspresikan emosi, dan membangun kepercayaan diri agar berani melanjutkan usaha mereka. Pendekatan semacam ini, yang juga digarap berbagai jaringan alumni kesehatan masyarakat dan perusahaan pangan terhadap komunitasnya, menegaskan bahwa dukungan psikososial harus menjangkau ruang kerja dan kantong pendapatan, bukan berhenti di tenda pengungsian.

Pendampingan Psikososial Pascagempa: Menjaga Waras di Tengah Reruntuhan

Pemulihan pascagempa: dari pendidikan hingga keberlanjutan sosial

Jika pemulihan pascagempa dipahami hanya sebagai pembangunan ulang rumah dan fasilitas publik, maka kita sedang menyiapkan generasi yang sekolahnya kembali berdiri tetapi psikisnya rapuh. PMI jelas menempatkan keberlanjutan pendidikan anak sebagai bagian dari dukungan psikososial, dengan asesmen yang mempertimbangkan kondisi sekolah, tempat tinggal, dukungan sosial, dan kebutuhan layanan lain sebelum menentukan bentuk pendampingan. Di lapangan, gempa memaksa proses belajar berlangsung di tenda darurat selama hampir satu bulan karena bangunan sekolah retak dan banyak rumah siswa rusak, bahkan ada yang dinilai tidak layak huni. Di desa lain, aktivitas menenun dan bertani sempat terhenti, membuat warga lebih banyak berkutat pada pekerjaan rumah dan penataan ulang kehidupan. Ketika lansia masih diliputi ketakutan dan butuh rasa aman, jelas bahwa pemulihan sosial belum selesai. Dukungan psikososial yang memulihkan rasa aman, menyalakan kembali rutinitas ekonomi, dan memastikan anak tetap belajar adalah jembatan agar komunitas tidak sekadar kembali normal, tetapi menjadi lebih siap dan saling menjaga. Dalam konteks ini, upaya terkoordinasi organisasi kesehatan, NGO, dan pemerintah bukan kemewahan, melainkan syarat sebuah masyarakat yang ingin waras setelah bencana.

Pendampingan Psikososial Pascagempa: Menjaga Waras di Tengah Reruntuhan

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!