Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Industri Game ASEAN Menuju Rp255,6 Triliun: Peluang dan Regulasi

Industri Game ASEAN Menuju Rp255,6 Triliun: Peluang dan Regulasi
Minat|Asia Tenggara

Industri Game ASEAN: Mesin Baru Ekonomi Digital

Industri game ASEAN adalah ekosistem ekonomi digital yang mencakup pengembangan, penerbitan, perangkat keras, ritel, dan e-sports, yang bersama-sama menyumbang nilai tambah besar terhadap produk domestik bruto kawasan dan membuka ratusan ribu lapangan kerja. Saat ini, lima negara utama menyumbang nilai tambah sekitar Rp147,6 triliun ke PDB gabungan, setara 0,23% dari total PDB mereka. Angka ini bukan sekadar statistik; ini sinyal bahwa game telah naik kelas dari hiburan menjadi sektor strategis ekonomi digital. Pesan utama laporan yang dirujuk pemerintah jelas: industri game sudah menjadi bagian penting perekonomian dan masih punya ruang sangat luas untuk berkembang. Jika pemerintah menganggapnya hanya sektor sampingan, mereka berisiko mengabaikan salah satu mesin pertumbuhan baru yang paling menjanjikan di pasar game Asia Tenggara.

Industri Game ASEAN Menuju Rp255,6 Triliun: Peluang dan Regulasi

Dari Rp147,6 Triliun ke Rp255,6 Triliun: Siapa Motor Utamanya?

Nilai tambah industri game di lima negara utama ASEAN diproyeksikan naik dari sekitar Rp147,6 triliun menjadi Rp255,6 triliun pada 2030, asalkan ada penguatan kebijakan publik yang mendukung. Proyeksi ini bukan janji otomatis; ia bergantung pada pilihan regulasi hari ini. Indonesia dan Thailand masing-masing menyumbang 21% terhadap nilai tambah industri ini, sementara Malaysia memimpin dengan 31%, disusul Singapura 16% dan Filipina 12%. Komposisi ini menunjukkan pasar game Asia Tenggara tidak didominasi satu negara saja, melainkan terbagi dalam beberapa pusat kekuatan. Menariknya, laporan tersebut menegaskan bahwa rantai nilai game jauh melampaui penjualan gim dan aplikasi, mencakup perangkat keras, ritel, hingga penyelenggara e-sports. Tanpa pemahaman menyeluruh tentang rantai nilai ini, kebijakan yang lahir cenderung parsial dan gagal menangkap keseluruhan kontribusi ekonomi digital.

Ledakan E-sports: Kekuatan Baru yang Belum Diatur Serius

Segmen e-sports telah menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan e-sports regional, dan pasar ini diakui sebagai pendorong penting perekonomian industri game Asia Tenggara. Di Indonesia, kontribusi e-sports terhadap nilai perekonomian industri game mencapai Rp7,78 triliun atau sekitar 24% dari total Rp32,5 triliun, tertinggi di kawasan. Laporan yang sama memproyeksikan kontribusi e-sports nasional bisa menembus Rp1 miliar dan menyumbang sekitar 30,3% dari total nilai perekonomian industri game pada 2030, sekaligus membuka lebih dari 139.000 lapangan kerja. Pertumbuhan ini digambarkan sebagai yang paling pesat dibanding segmen lain. Namun, di tengah lonjakan ini, regulasi untuk mendorong industri e-sports dinilai masih minim dibandingkan negara tetangga. Artinya, kita sedang menyaksikan sektor yang berlari kencang tanpa jalur kebijakan yang jelas—situasi yang berpotensi menghambat skala pertumbuhan e-sports regional dalam beberapa tahun ke depan.

Kesenjangan Pengetahuan: Mengapa Regulasi Tertinggal?

Pertumbuhan industri game melesat, tetapi pemahaman tentang kontribusi ekonominya tidak berkembang secepat itu. Informasi tentang segmen mana yang paling banyak menciptakan nilai, seberapa besar kontribusinya terhadap perekonomian, dan keunggulan masing-masing negara masih belum tergambar utuh. Bagi pemerintah, kesenjangan informasi ini masalah serius karena kebijakan efektif butuh bukti kuat. Di sinilah laporan komprehensif yang disusun Access Partnership menjadi penting dan disambut baik sebagai salah satu studi pertama yang memetakan industri game di lima negara berdasarkan rantai nilainya. Namun, laporan tersebut bahkan mengesampingkan kontribusi perusahaan asing, sehingga berpotensi belum mencerminkan keseluruhan dampak ekonomi industri game di kawasan. Tanpa data yang lebih lengkap, regulasi industri game akan cenderung reaktif, bukan strategis, dan berisiko mengabaikan efek limpahan seperti investasi langsung, transfer keterampilan, dan akses ke pasar baru yang disebut sebagai pendorong utama pertumbuhan.

Regulasi sebagai Penentu: Dari Perpres ke Ekosistem ASEAN

Besarnya potensi pertumbuhan industri game ke depan akan bergantung pada pilihan kebijakan, pengembangan talenta, dan kolaborasi antara pemerintah serta pelaku industri. Di tingkat nasional, sudah ada Peraturan Presiden tentang percepatan pengembangan industri game yang ditindaklanjuti dengan rencana strategis dan langkah konkret. Namun, pemerintah sendiri mengakui bahwa upaya ini tidak bisa dilakukan sendirian; diperlukan keterlibatan asosiasi, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menyamakan pemahaman dan tujuan. Di level ASEAN, logikanya sama: tanpa koordinasi regulasi industri game, kawasan akan sulit memaksimalkan pasar game Asia Tenggara sebagai satu ekosistem. Laporan tersebut menegaskan, “industri gim telah menjadi bagian penting dari perekonomian kita dan masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang”, dan dengan dukungan regulasi, talenta, serta kolaborasi yang tepat, industri ini berpotensi menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi digital kawasan. Pilihannya sederhana: merancang regulasi pro-pertumbuhan sekarang, atau menyaksikan peluang Rp255,6 triliun berpindah ke wilayah lain.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!