Air yang sampai ke sawah menjadi ukuran keberhasilan
Perbaikan irigasi Jateng adalah program rehabilitasi dan pembangunan saluran air yang ditujukan untuk menjaga pasokan bagi lahan pertanian serta membantu petani mengelola tanamannya. Pada 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan Rp65,5 miliar untuk pekerjaan di 25 kabupaten, dengan sasaran 409 titik dan panjang penanganan sekitar 50 kilometer. Skala ini penting, tetapi nilai program tidak semestinya diukur hanya dari jumlah titik atau panjang saluran. Ukuran yang lebih berarti adalah apakah air benar-benar mengalir sampai ke sawah saat dibutuhkan. Gubernur Ahmad Luthfi menekankan bahwa pembangunan harus memberi manfaat langsung bagi petani. Itu pendekatan yang tepat: jaringan irigasi pertanian baru layak disebut berhasil ketika mampu mendukung kegiatan produksi, bukan sekadar selesai dibangun.

Dua jenis pekerjaan untuk menjawab kebutuhan berbeda
Rencana tersebut terdiri atas rehabilitasi 334 titik jaringan irigasi tersier dan pembangunan 75 titik irigasi perpipaan. Pembagian ini menunjukkan bahwa kebutuhan air tidak selalu bisa ditangani dengan satu bentuk infrastruktur. Rehabilitasi memperbaiki jaringan yang sudah ada, sementara perpipaan menjadi salah satu pilihan untuk menyalurkan air sesuai kebutuhan serta kondisi lahan setempat. Pemerintah menyebut panjang pekerjaan di tiap lokasi akan menyesuaikan keadaan dan kebutuhan pertanian; karena itu, angka sekitar 50 kilometer merupakan akumulasi penanganan, bukan panjang seragam di setiap titik. Pilihan teknis tersebut masuk akal, tetapi pelaksanaannya perlu berpijak pada pemetaan lapangan agar investasi mengatasi kendala pasokan air yang nyata. Bagi petani, yang penting bukan jenis salurannya, melainkan kelancaran air hingga ke lahan.

Irigasi sebagai penopang produktivitas dan ketahanan pangan
Pasokan air yang lebih terjaga dapat membantu lahan pertanian menghadapi kekeringan dan memberi petani dukungan untuk mempertahankan kegiatan produksi. Karena itu, program ini layak dipandang sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian dan sektor pangan, bukan semata pekerjaan konstruksi. Pemerintah kabupaten dan kota juga telah memetakan kebutuhan air, termasuk wilayah yang memerlukan sumur, perpipaan, atau penanganan sebagai lahan tadah hujan. Pemetaan semacam itu penting karena kondisi antarlokasi berbeda. Namun, pembangunan fisik saja tidak otomatis menjamin hasil pertanian meningkat. Ketepatan sasaran, ketersediaan air, dan pengelolaan jaringan setelah proyek selesai akan menentukan apakah manfaatnya bertahan. Dengan demikian, dukungan terhadap petani perlu mencakup infrastruktur yang sesuai sekaligus pengaturan pemanfaatannya.
Pemeliharaan menentukan manfaat jangka panjang
Pekerjaan masih berada dalam tahap pengadaan dan pelaksanaan konstruksi, sementara sejumlah titik rehabilitasi ditargetkan dapat diresmikan pada akhir 2026. Tahap berikutnya tidak boleh berhenti pada peresmian. Kelompok tani dan gabungan kelompok tani diminta berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memastikan jaringan dimanfaatkan serta dirawat. Arahan tersebut patut menjadi bagian inti program: saluran yang rusak atau tidak dikelola bisa mengurangi manfaat anggaran, betapapun luas cakupan awalnya. Pemprov Jateng telah menetapkan sasaran besar, dari 409 titik hingga sekitar 50 kilometer penanganan. Kini keberhasilan harus dibuktikan lewat air yang sampai ke lahan dan jaringan yang tetap berfungsi. Jika pembangunan disertai pemeliharaan dan pengawasan bersama, perbaikan irigasi dapat menjadi dukungan nyata bagi petani dan produktivitas pangan.






