Cakupan luas, hasil harus terasa di sawah
Perbaikan irigasi adalah rehabilitasi atau pembangunan saluran dan sarana penyalur air agar pasokan dapat mencapai lahan pertanian secara memadai. Pada 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan Rp65,5 miliar untuk pekerjaan tersebut di 25 kabupaten, dengan sasaran 409 titik dan panjang penanganan sekitar 50 kilometer. Skala ini patut dinilai bukan hanya dari banyaknya lokasi, tetapi dari apakah air benar-benar mengalir hingga ke sawah. Gubernur Ahmad Luthfi menyampaikan prioritas itu saat menghadiri Parade Alat dan Mesin Pertanian di Ungaran pada 3 November 2026. Pesannya tepat: petani merasakan manfaat dari aliran yang sampai, bukan dari kategori teknis saluran atau angka proyek semata. Karena pekerjaan tersebar di banyak kabupaten, ketepatan sasaran dan kesinambungan pemeliharaan akan menentukan arti anggaran ini.
409 titik terdiri dari dua jenis pekerjaan
Rincian program menunjukkan dua bentuk penanganan. Sebanyak 334 titik merupakan rehabilitasi jaringan irigasi tersier, sedangkan 75 titik lainnya berupa pembangunan irigasi perpipaan. Dengan demikian, sebagian besar pekerjaan berfokus pada pembenahan jaringan yang sudah ada, sementara pembangunan perpipaan menjadi bagian tersendiri untuk menjangkau kebutuhan setempat. Gabungan keduanya menyusun total 409 titik, bukan satu proyek seragam dengan panjang yang sama di setiap lokasi. Menurut Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Opik Mahendra, keseluruhan pekerjaan setara dengan sekitar 50 kilometer jaringan irigasi. Panjang tiap lokasi menyesuaikan kebutuhan serta kondisi lahan. Perbedaan kondisi ini membuat pendekatan berbasis titik masuk akal, tetapi pelaksanaan tetap perlu memastikan setiap segmen terhubung dengan sumber air dan jaringan yang berfungsi.
Anggaran besar perlu diikuti koordinasi dan perawatan
Anggaran irigasi Jateng sebesar Rp65,5 miliar menempatkan pekerjaan lintas 25 kabupaten dalam skala yang berarti, tetapi angka itu sendiri belum menjamin air mengalir dengan lancar. Pemerintah provinsi meminta kelompok tani dan gabungan kelompok tani berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten atau kota agar lokasi pekerjaan sesuai kebutuhan dan infrastruktur yang dibangun dirawat. Penekanan ini penting karena jaringan irigasi tidak berhenti berfungsi saat konstruksi selesai: pengelolaan lokal ikut menentukan manfaatnya bagi petani. Pemprov juga memetakan kebutuhan air untuk mengantisipasi kekeringan, termasuk wilayah yang memerlukan sumurisasi, pipanisasi, atau penanganan lahan tadah hujan. Artinya, 409 titik bukan sekadar daftar proyek; program perlu dipadukan dengan kebutuhan air spesifik tiap kawasan agar perbaikan saluran dan pembangunan perpipaan menjawab persoalan di lapangan.
Tahap pelaksanaan menjadi ujian berikutnya
Perbaikan irigasi Jateng masih berada dalam proses pengadaan dan pelaksanaan konstruksi, sementara pemerintah provinsi menargetkan sejumlah titik rehabilitasi dapat diresmikan pada akhir 2026. Target itu memberi batas waktu yang jelas, tetapi ukuran keberhasilan seharusnya melampaui seremoni: saluran dan pipa harus berfungsi, air harus sampai ke lahan, dan petani perlu terlibat dalam perawatan. Dengan pekerjaan yang tersebar di 25 kabupaten dan panjang jaringan sekitar 50 kilometer, pengawasan serta koordinasi setempat menjadi bagian tak terpisahkan dari hasil proyek. Kesimpulannya, cakupan program ini cukup besar untuk memberi dukungan nyata, tetapi nilainya akan ditentukan oleh mutu pelaksanaan dan keberlanjutan jaringan. Anggaran Rp65,5 miliar layak disebut berhasil hanya jika 409 titik itu membantu menjaga pasokan air pertanian, bukan berhenti sebagai capaian konstruksi.






