JIAT Sejaro Sakti: Proyek Irigasi Sumatera yang Macet di Atas Kertas
Proyek Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Sejaro Sakti adalah infrastruktur pertanian terhenti yang dirancang untuk memompa air tanah melalui jaringan pipa ke lahan sawah, namun kini menjadi contoh mahal tentang bagaimana proyek irigasi Sumatera bisa gagal menjawab kebutuhan petani ketika perencanaan teknis, pemilihan lokasi, dan pengawasan lapangan tidak berjalan seimbang. Dengan anggaran yang disebut mencapai Rp1,5 miliar untuk satu titik, JIAT Ogan Ilir digadang sebagai solusi kekeringan bagi petani. Nyatanya, jaringan Sejaro Sakti-OI 5 yang sempat dilaporkan mati total hanya mampu mengairi sekitar satu hektare sawah. Alih-alih menjadi penyelamat saat air sulit, distribusi air belum menjangkau lahan pertanian secara optimal dan memicu keluhan luas dari petani. Di atas kertas, papan proyek mencantumkan debit pompa 2 liter per detik dan debit sumur 4,2 liter per detik, tetapi di lapangan sawah tetap kering. Ini bukan sekadar soal teknis; ini soal akuntabilitas penggunaan uang publik.

Pipa Irigasi Bocor dan Panel Meledak: Ketika Desain dan Realitas Tidak Bertemu
Ketika petani mengeluh air tak sampai ke sawah, perwakilan kontraktor PT WIKA, Dodi Sapriansyah, turun ke lokasi pada Senin 12 Oktober 2026 untuk menindaklanjuti keluhan tersebut. Ia menyebut jaringan sempat berfungsi baik saat uji coba Agustus, namun distribusi air kemudian tidak optimal. Dugaan awal mengarah pada pipa irigasi bocor yang tertanam di dalam tanah. Humas BBWS Sumatera VIII, Nando, menambahkan bahwa panel Variable Speed Drive (VSD) SS3 mengeluarkan suara ledakan pada 5 September ketika petani menyalakan pompa, dan pemeriksaan 10 September menemukan komponen VSD terbakar. Menurutnya, tegangan listrik PLN di lapangan hanya 193–204 volt, di bawah kebutuhan minimal 220 volt. "Tegangan listrik yang berada di bawah batas toleransi diduga menyebabkan kerusakan VSD," kata Nando. BBWS menyebut kebocoran banyak terjadi di sambungan pipa karena tanah yang mengering dan menyusut setelah musim hujan. Kontraktor mengklaim siap memperbaiki karena proyek masih dalam masa pemeliharaan, tetapi fakta bahwa sistem baru berjalan sebentar lalu macet menunjukkan lemahnya antisipasi terhadap kondisi lapangan.
Lokasi Dipertanyakan, Manfaat Terbatas: Siapa Sebenarnya Penerima JIAT Ogan Ilir?
Masalah JIAT Ogan Ilir bukan hanya soal pipa bocor dan panel terbakar; lebih dalam, publik mempertanyakan logika penentuan lokasi. Selain OI 5, titik JIAT Sejaro Sakti-OI 7 dipersoalkan karena disebut tidak memiliki lahan pertanian yang dapat diairi. Perwakilan kontraktor menegaskan mereka hanya membangun di titik yang sudah ditentukan, yang otomatis mengarahkan sorotan ke proses perencanaan dan verifikasi calon penerima manfaat. Jika sebuah proyek irigasi ditempatkan di lokasi tanpa sawah memadai, maka sejak awal ia adalah infrastruktur pertanian terhenti yang menunggu gagal. BBWS menyebut proyek ini merupakan usulan pemerintah kabupaten, dengan lahan sumur disediakan pemerintah daerah melalui petani. Namun kesesuaian lokasi OI 7 diakui masih perlu diverifikasi melalui dokumen perencanaan dan keterangan instansi berwenang. Ini menguatkan kesan bahwa koordinasi antar lembaga dan pemetaan kebutuhan petani tidak dilakukan dengan cermat sebelum Rp1,5 miliar digelontorkan untuk satu titik JIAT.
Petani Gigit Jari: Infrastruktur Berdiri, Sawah Tetap Kering
Di tengah klaim teknis bahwa kebocoran pipa telah diperbaiki dan air sudah mengalir ke sawah melalui boks distribusi, suara petani menunjukkan cerita berbeda. Petani setempat, Tri Nurahman, menilai manfaat JIAT belum dirasakan secara merata, terutama oleh petani yang memiliki sawah di sekitar lokasi pembangunan. Ia menyoroti bahwa air lebih banyak dimanfaatkan petani yang lahannya dipakai untuk pembangunan sumur, sementara petani lain hanya menjadi penonton. Tri mengaku belum merasakan aliran air JIAT ke sawahnya dan memilih membangun sumur bor serta memasang mesin pompa secara mandiri. Ia bahkan membandingkan anggaran JIAT yang disebut Rp1,5 miliar per titik dengan skema bantuan sumur bor dan mesin pompa senilai Rp20 juta per petani yang menurut perhitungannya bisa menjangkau 50 petani dengan total Rp1 miliar. Di sini tampak jelas, proyek irigasi Sumatera ini lebih cepat mengalirkan kekecewaan daripada air. Ketika petani harus mencari solusi sendiri, legitimasi proyek publik ikut terkikis.
Akuntabilitas BBWS dan Pemerintah Daerah: Dari Papan Proyek ke Lahan Petani
Berdasarkan papan identitas, JIAT Sejaro Sakti adalah proyek Tahun Anggaran 2025 di bawah Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, dan BBWS Sumatera VIII. Kepala BBWS menyebut proyek ini merupakan usulan pemerintah kabupaten dan menegaskan sudah menurunkan tim untuk memeriksa keluhan masyarakat. Kontraktor mengklaim perbaikan kebocoran telah selesai dan air mengalir ke sawah, namun petani masih melaporkan sawah kering. Di titik ini, masalah bukan lagi sekadar teknis, melainkan transparansi dan akuntabilitas. Proyek irigasi Sumatera seperti JIAT Ogan Ilir seharusnya dinilai dari air yang sampai ke petani, bukan dari panjangnya laporan dan megahnya papan proyek. Tanpa audit menyeluruh atas perencanaan, pemilihan lokasi, kualitas konstruksi, hingga skema pemeliharaan, kasus ini berpotensi menjadi pola berulang. Kesimpulannya, infrastruktur pertanian terhenti seperti ini hanya bisa diperbaiki jika pemerintah daerah, BBWS, dan kontraktor bersedia membuka data, mengakui kelemahan, dan menempatkan suara petani sebagai ukuran utama keberhasilan.






