Inovasi yang berangkat dari persoalan sekitar
FIKSI Nasional adalah ajang kompetisi bagi siswa SMA dan SMK untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, serta kewirausahaan lewat gagasan yang menjawab kebutuhan masyarakat dan mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai guna. Lima tim dari sekolah binaan Astra, melalui Yayasan Astra–Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA MDR), lolos ke final yang berlangsung di Bali pada 12–17 Oktober 2026. Empat tim meraih medali: satu emas, dua perak, dan satu perunggu. Prestasi ini layak dibaca bukan semata sebagai kemenangan lomba, melainkan bukti bahwa inovasi siswa lebih kuat ketika berangkat dari persoalan yang mereka kenal. Jaring ikan, limbah rumah tangga, sisa hasil perikanan, eceng gondok, dan limbah sagu menjadi bahan untuk menguji gagasan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ajang yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusat Prestasi Nasional itu mencakup kategori Rencana Usaha dan Pengembangan Usaha. Dengan demikian, siswa tidak hanya diminta menciptakan produk, tetapi juga merumuskan cara mengembangkannya. Namun, medali tetap merupakan titik awal: manfaat bagi nelayan, petani, dan pengguna lain perlu dibuktikan melalui penerapan serta pengujian yang memadai.

Jaring berwarna daun jati untuk kebutuhan nelayan
Medali emas diraih Carli Mayos Talan dan Gabriella Gwuen Radjah dari SMKN 1 Pandawai, Nusa Tenggara Timur, lewat Net Green. Jaring ikan alami ini menggunakan warna daun jati agar jaring lebih tersamarkan di dalam air. Gagasannya menanggapi kebutuhan nelayan untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan; kamuflase itu berpotensi membantu meningkatkan hasil tangkapan. Nilai inovasinya terletak pada pemilihan bahan dan pendekatan yang berangkat dari konteks lokal, bukan pada klaim bahwa hasil tangkapan pasti bertambah.
Potensi penerapannya ada pada kegiatan perikanan, tetapi efektivitas penyamaran dan dampaknya terhadap tangkapan belum boleh dianggap terbukti. Pengujian di kondisi perairan berbeda diperlukan untuk mengetahui daya tahan warna, kinerja jaring, dan kecocokannya dengan kebutuhan nelayan. Sikap hati-hati ini tidak mengurangi nilai gagasan; justru membuat jalur dari prototipe menuju penggunaan nyata lebih jelas.
Limbah menjadi bahan pendukung pertanian
Dua medali perak menunjukkan bagaimana bahan yang kerap dibuang dapat diarahkan kembali untuk pertanian. Reno Hartanto Sudiwo dan Afinsa Oktafiani dari SMKN 1 Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, merancang Biomolic, cairan berbahan limbah rumah tangga yang ditujukan sebagai pupuk, pestisida alami, sekaligus aktivator kompos. Tiga fungsi dalam satu produk menjawab persoalan pemanfaatan sisa rumah tangga dan kebutuhan petani akan bahan pendukung budidaya. Potensi penerapannya bergantung pada mutu dan konsistensi cairan, serta pembuktian manfaatnya untuk tanaman dan pengomposan.
Medali perak lainnya diraih Claudensius Bangun Syahputra dan Ferdi Ahmad Farobbi dari SMKN 1 Pandak, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bionusa Grow mengolah limbah ikan, udang, dan eceng gondok menjadi pupuk tiga fungsi untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan memperbaiki kualitas tanah. Gagasan ini menyasar dua masalah sekaligus: sisa bahan perikanan dan tanaman air yang perlu dimanfaatkan, serta kebutuhan memperbaiki kondisi tanah. Jika formulasi dan penggunaannya terbukti sesuai, pendekatan tersebut dapat menghubungkan pengelolaan limbah dengan kebutuhan pertanian.
Limbah sagu mengingatkan pentingnya ragam solusi
Ragam karya siswa binaan Astra yang ditampilkan dalam FIKSI juga mencakup penyerap bau berbahan limbah sagu. Gagasan ini memperluas fokus dari pertanian dan perikanan ke pemanfaatan sisa produksi sagu, dengan potensi memberi fungsi baru pada bahan yang sebelumnya menjadi limbah. Namun, sumber yang tersedia tidak menyebut tim peraih medali untuk karya tersebut ataupun rincian uji kinerja produknya. Karena itu, limbah sagu tepat dipahami sebagai bagian dari spektrum inovasi yang ditampilkan, bukan sebagai dasar untuk mengklaim bahwa produk itu termasuk empat karya pemenang.
Kesimpulannya, capaian lima tim di final dan empat medali menunjukkan nilai pendidikan yang penting: persoalan setempat dapat menjadi bahan belajar sekaligus sumber gagasan usaha. Jaring ikan alami, Biomolic, Bionusa Grow, dan penyerap bau dari limbah sagu menawarkan arah penerapan yang masuk akal, tetapi manfaatnya harus dinilai lewat pengujian dan kebutuhan pengguna. Medali memberi pengakuan; pembuktian di lapangan yang akan menentukan apakah inovasi siswa ini benar-benar berguna.







