Kepedulian yang hadir saat warga membutuhkan
Babinsa yang membantu warga sakit adalah prajurit teritorial yang memberi pertolongan langsung, menghubungkan warga dengan layanan kesehatan, atau mendampingi mereka memperoleh perawatan ketika kesulitan datang. Peran ini penting karena akses pengobatan tidak selalu mudah dijalani sendiri. Dua peristiwa di Tirtayasa, Serang, dan Kabupaten Karo memperlihatkan kepedulian semacam itu dalam tindakan nyata, bukan sebatas pernyataan. Di Tirtayasa, Sertu Oni Khaeroni dan Kopka Hendrik Atty menerima penghargaan dari Dandim 0602/Serang, Kolonel Inf Marsen Sinaga, pada Senin (2/11/2026), setelah menolong warga binaan yang sakit. Sementara itu, Serka Sudino Sihombing mengawal warga berobat ke Puskesmas Simpang Empat di Karo. Kedua kisah ini layak dibaca sebagai contoh dukungan sosial yang praktis: kehadiran seorang pendamping dapat membantu warga melewati langkah awal menuju perawatan.
Dari laporan warga hingga pertolongan medis
Di Tirtayasa, aksi Sertu Oni dan Kopka Hendrik bermula dari laporan warga tentang seorang warga binaan yang membutuhkan pertolongan medis segera. Keduanya bergerak cepat, memberikan pertolongan pertama, lalu mengoordinasikan evakuasi dan bantuan medis sampai warga tersebut memperoleh perawatan yang layak. Penghargaan yang diberikan di Aula Sultan Ageng Tirtayasa, Kodim 0602/Serang, menandai pengakuan atas respons tersebut, tetapi nilai utamanya terletak pada hasil yang dirasakan warga. Dalam keadaan sakit, waktu dan bantuan untuk mengakses pertolongan dapat sangat berarti. Tindakan itu juga menunjukkan bahwa kepekaan terhadap laporan lingkungan merupakan bagian penting dari pelayanan lokal. Babinsa bantu warga bukan hanya lewat tindakan darurat, melainkan dengan memastikan kebutuhan mendesak tidak berhenti sebagai kabar yang diterima.
Pendampingan berobat dan kerja sama layanan kesehatan
Di Kabupaten Karo, Serka Sudino Sihombing dari Koramil 04/Simpang Empat mendampingi warga binaannya yang sakit untuk menjalani pemeriksaan dan memperoleh penanganan medis di Puskesmas Simpang Empat, Jalan Kiras Bangun, Desa Ndokum Siroga, pada Senin (2/11). Pendampingan ini membantu warga mendapatkan layanan dengan lebih cepat dan layak, sekaligus membuka ruang koordinasi antara Babinsa dan petugas fasilitas kesehatan. Setelah mengantar warga, Sudino berdialog dengan kepala puskesmas, dokter, tenaga kesehatan, dan staf administrasi. Langkah tersebut memberi dimensi lebih luas pada praktik Babinsa dampingi berobat: kepedulian personal dapat menjadi pintu bagi komunikasi yang berguna antara warga, aparat teritorial, dan penyedia layanan. Bagi warga yang tengah menghadapi masalah kesehatan, bantuan semacam ini terasa konkret karena hadir tepat di jalur menuju perawatan.
Kepedulian perlu berlanjut menjadi layanan rutin
Pertemuan di Simpang Empat juga menghasilkan agenda kesehatan untuk wilayah setempat: pendampingan Posyandu berkelanjutan, penyuluhan kesehatan berkala, penanganan dan pencegahan stunting secara terpadu, serta fogging massal untuk mengantisipasi demam berdarah dengue. Rencana ini penting karena bantuan saat seseorang jatuh sakit akan lebih berarti jika disertai upaya pencegahan dan edukasi yang konsisten. Dua kisah dari Serang dan Karo memang berbeda—satu berujung pada penghargaan setelah pertolongan darurat, satu lagi berupa pendampingan ke puskesmas dan koordinasi layanan—namun keduanya menunjukkan dukungan praktis prajurit teritorial bagi warga yang membutuhkan bantuan kesehatan. Kesimpulannya, kepedulian lokal paling kuat ketika tidak berhenti pada gestur: ia harus hadir saat warga membutuhkan pertolongan, lalu diteruskan melalui kerja sama yang menjaga kesehatan masyarakat.






