Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

CEPAK Perluas Pencegahan Perkawinan Anak dari Remaja hingga Keluarga

CEPAK Perluas Pencegahan Perkawinan Anak dari Remaja hingga Keluarga
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Pencegahan harus dimulai sebelum keputusan menikah

Pencegahan perkawinan anak adalah upaya melindungi hak anak untuk belajar, menjaga kesehatan, tumbuh aman, dan merencanakan masa depan sebelum memasuki tanggung jawab perkawinan. Karena itu, program CEPAK patut dinilai bukan hanya dari sosialisasinya, melainkan dari seberapa jauh pengetahuan dan dukungan dapat hadir dalam keseharian remaja.

Pada 29 Oktober 2026, Ketua TP PKK Kabupaten Pasuruan, drg. Merita Rusdi Sutejo, menyosialisasikan CEPAK kepada ratusan mahasiswi Akademi Kebidanan Sakinah. Ia mengingatkan bahwa perkawinan usia anak berisiko menghambat pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan kesempatan meraih masa depan. Pesan ini tepat sasaran: edukasi remaja membantu mereka mengenali hak-hak sendiri dan menimbang konsekuensi keputusan besar sebelum menghadapinya.

Namun, informasi saja tidak cukup bila tekanan untuk menikah datang dari lingkungan sekitar. Merita juga menekankan kesiapan mental, fisik, pendidikan, dan ekonomi—serta mengingatkan bahwa menikah bukan perlombaan. Dengan begitu, edukasi tidak sekadar larangan; ia memberi alasan dan bekal agar remaja mampu membayangkan pilihan hidup yang lebih luas.

Keluarga dan kader membuat pesan lebih dekat

Di Gowa, pendekatan CEPAK dipadukan dengan PAAREDI, Sosialisasi Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital. Kegiatan Pokja I TP PKK Gowa berlangsung di Hotel Horison Ultima Makassar pada Selasa, 3 November. Ketua TP PKK Gowa, Andi Tenri Indah Darmawangsyah, mengajak kader dari tingkat kabupaten hingga desa dan kelurahan menjadi garda terdepan dalam edukasi masyarakat.

Penekanan pada peran keluarga penting karena orang tua membentuk ruang tempat anak bertanya, menyampaikan kekhawatiran, dan membicarakan masa depan. Kader, pada gilirannya, dapat memperluas percakapan itu ke lingkungan masyarakat. Andi Tenri Indah meminta keluarga memberi ruang bagi anak untuk menuntaskan wajib belajar dan mengejar cita-cita, sementara kader didorong menyampaikan edukasi tentang pendewasaan usia perkawinan.

Perkawinan anak juga berkaitan dengan risiko kesehatan ibu dan bayi, termasuk kemungkinan bayi kurang gizi atau mengalami stunting ketika ibu belum siap secara fisik. Itu membuat pencegahan bukan semata urusan pilihan pribadi, tetapi juga perlindungan kesehatan dan masa depan generasi muda.

CEPAK Perluas Pencegahan Perkawinan Anak dari Remaja hingga Keluarga

Edukasi remaja perlu ditopang lingkungan

Dua kegiatan tersebut menyoroti lapisan pencegahan yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Edukasi remaja menumbuhkan pemahaman langsung tentang hak, risiko, dan kesiapan. Penguatan keluarga dan komunitas membantu memastikan pesan itu tidak berhenti setelah acara sosialisasi: orang tua dapat memberi dukungan di rumah, sementara kader PKK menghubungkan edukasi dengan masyarakat yang lebih luas.

Mengandalkan salah satunya saja akan menyisakan celah. Remaja yang memahami risikonya tetap membutuhkan keluarga yang mau mendengar dan lingkungan yang tidak mendorong perkawinan terlalu dini. Sebaliknya, keluarga dan kader perlu menyampaikan informasi dengan cara yang menghormati suara anak, bukan menggantikan pertimbangan mereka.

Langkah berikutnya harus berupa edukasi berkelanjutan, bukan berhenti pada satu pertemuan. Di Pasuruan, kader PKK didorong memperluas sosialisasi ke masyarakat; di Gowa, orang tua dan kader kecamatan, desa, serta kelurahan diharapkan menjadi perpanjangan tangan edukasi dan perlindungan anak.

Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama

Program CEPAK menawarkan arah yang masuk akal ketika edukasi remaja berjalan beriringan dengan penguatan peran keluarga dan komunitas. Sosialisasi kepada mahasiswi Akbid Sakinah menunjukkan pentingnya membekali anak muda dengan pemahaman hak dan risiko; kegiatan CEPAK dan PAAREDI di Gowa menegaskan perlunya pola asuh, dukungan orang tua, serta kader yang aktif menjangkau warga.

Ukuran keberhasilan pencegahan perkawinan anak bukan banyaknya pesan yang disampaikan, melainkan apakah anak mendapat ruang untuk belajar, berkembang, dan memilih masa depannya tanpa tekanan. Remaja perlu pengetahuan, keluarga perlu menjadi tempat aman untuk berdialog, dan kader perlu menjaga edukasi tetap hadir di tengah masyarakat. Ketiganya harus bergerak bersama agar perlindungan tidak berhenti sebagai imbauan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!