Dukungan Psikososial Bencana: Bukan Tambahan, Melainkan Tulang Punggung Pemulihan
Dukungan psikososial bencana adalah rangkaian asesmen psikologis penyintas, pendampingan kesehatan mental, dan trauma healing pascagempa yang dirancang untuk memulihkan rasa aman, fungsi sosial, dan harapan hidup korban, melalui intervensi terstruktur seperti sesi berbagi, aktivitas edukatif, hingga layanan kesehatan jiwa yang berkelanjutan di komunitas terdampak. Dalam konteks gempa di Nusa Tenggara Timur, pendekatan ini bukan pelengkap, melainkan tulang punggung pemulihan. Gempa 7,7 M pada 15 Agustus disusul sekitar 14.000–15.000 gempa susulan, dengan 185 di antaranya dirasakan warga, sehingga rasa takut berlarut menjadi risiko nyata bagi kesehatan jiwa masyarakat. Menghadapi realitas ini, organisasi kesehatan dan pemerintah tidak bisa berhenti di distribusi logistik; mereka harus turun ke tingkat emosi terdalam penyintas, di sekolah, desa, hingga posko pengungsian.

PMI: Asesmen Psikologis Penyintas dan Listening Sessions di Titik Nol Krisis
Pendekatan Palang Merah menunjukkan bahwa dukungan psikososial bencana yang efektif selalu dimulai dari mendengarkan. Di Desa Olaia, Tim Layanan Dukungan Psikososial PMI melakukan asesmen langsung kepada masyarakat pada 29 September sebagai pintu masuk membaca dampak emosional pascagempa. Asesmen ini tidak bersifat kuesioner dingin; relawan duduk bersama 57 penyintas, termasuk 25 anak dan tujuh lansia, menggali rasa takut, kekhawatiran akan gempa susulan, dan gangguan aktivitas sehari-hari seperti menenun dan bertani. Listening sessions semacam ini menegaskan bahwa statistik tidak akan pernah cukup tanpa cerita warga. "Mendengarkan menjadi langkah awal untuk menemani masyarakat dalam proses pemulihan," tegas salah satu anggota tim PSS PMI, yang menjadikan hasil asesmen sebagai dasar bentuk dukungan lanjutan sesuai kebutuhan tiap kelompok usia.

Sekolah dan Tempat Kerja: Ruang Strategis Trauma Healing Pascagempa
Pemulihan mental tidak terjadi di ruang terapi tertutup saja; ia berlangsung di kelas, kantor, dan tempat usaha. Di SD Inpres Rojabai, PMI menghadirkan layanan dukungan psikososial yang menjangkau 121 penerima manfaat—116 anak dan 5 guru—melalui aktivitas bermain, edukasi mitigasi gempa, dan penguatan perilaku hidup bersih dan sehat. Guru mengikuti Focus Group Discussion untuk berbagi pengalaman, mengidentifikasi tantangan pascagempa, dan mendiskusikan kebutuhan dukungan bagi diri sendiri dan murid. Pendekatan ini menjadikan sekolah sebagai laboratorium pemulihan rasa aman, bukan sekadar lokasi distribusi bantuan. Di sisi lain, dunia kerja pun menjadi arena penting. Program trauma healing bertajuk “Bangkit Berusaha” menyasar lebih dari 700 nasabah, mengajarkan teknik pengaturan napas, fokus pada lima benda sekitar, dan butterfly hug agar mereka mampu menenangkan diri serta membangun kembali kepercayaan diri untuk melanjutkan usaha.

Pemerintah Daerah dan Jejaring Kesehatan: Mendorong Pendampingan Kesehatan Mental yang Sistemik
Jika organisasi kemanusiaan menyalakan api pertama dukungan psikososial, pemerintah daerah seharusnya menjaga agar api tersebut tidak padam. Di Manggarai Timur, pemerintah berkomitmen melakukan deteksi dini masalah kejiwaan bagi penyintas gempa sebagai bentuk pendampingan terhadap masalah psikososial selama berada di posko. Bupati menekankan pendekatan menyeluruh—promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif—dan meminta lintas sektor hingga tingkat desa memperhatikan kondisi psikososial korban serta stigma terhadap orang dengan masalah kejiwaan. Meski penanganan ODGJ masih terbentur keterbatasan obat dan tenaga terampil, penguatan layanan jiwa di puskesmas lokal menjadi krusial agar pendampingan kesehatan mental tidak berhenti saat status tanggap darurat berakhir. Di Nagekeo, komunitas kesehatan masyarakat bekerja bersama pemerintah desa dan puskesmas untuk memberi bantuan dasar sekaligus pendampingan psikososial bagi warga dewasa dan anak-anak, menunjukkan bahwa kolaborasi multi-stakeholder sanggup memperluas jangkauan dukungan psikologis ke lapisan paling rentan.

Kolaborasi Multi-Stakeholder: Dari Ruang Asa Kolektif ke Ukuran Keberhasilan Pemulihan
Model dukungan psikososial yang muncul pascagempa NTT menunjukkan satu pelajaran penting: tidak ada aktor tunggal yang mampu merawat luka kolektif. Di Ende, Tim PSS PMI kabupaten berkolaborasi dengan tim dari berbagai kota dan provinsi dalam penugasan respons kemanusiaan, memadukan kapasitas lokal dengan dukungan eksternal untuk memperkuat layanan di sekolah dan komunitas. Di Desa Waekokak, komunitas kesehatan bekerja bersama pemerintah desa, puskesmas, ikatan alumni perguruan tinggi, dan mitra lokal untuk menyalurkan bantuan dan pendampingan psikososial bagi warga yang masih dihantui gempa susulan tujuh pekan setelah kejadian. Sementara itu, di Nagekeo, tim PSS PMI pusat bersinergi dengan relawan kabupaten dalam upaya pemulihan yang lebih baik. Keberhasilan pemulihan seharusnya tidak hanya diukur dari rumah yang kembali berdiri, tetapi dari sejauh mana penyintas mampu bercerita tanpa gemetar, bekerja lagi tanpa diliputi panik, dan merasakan bahwa mereka didampingi, bukan ditinggalkan.






