Akses digital perlu diimbangi kecakapan
PUJAAN adalah program Buka Group yang membekali pelaku usaha mikro kecil dan menengah dengan literasi keuangan, kecakapan digital, pendampingan, dan akses permodalan untuk mendukung perkembangan usaha. Tahun ini, PT Bukalapak.com Tbk kembali menghadirkan Pelaku Usaha Jagoan Pencari Cuan (PUJAAN) Vol. 5 bertema “Jagoan Buka Peluang”; puncak penganugerahan kompetisi modalnya berlangsung pada Selasa (27/10). Program ini menjawab persoalan yang kerap luput dari pembicaraan tentang digitalisasi: akses layanan keuangan makin luas, tetapi belum tentu disertai pemahaman mengelola uang usaha atau mengenali risiko seperti penipuan daring dan pinjaman daring ilegal. Karena itu, literasi keuangan UMKM dan keamanan digital UMKM bukan pelengkap teknologi, melainkan bekal agar peluang baru tidak berubah menjadi kerugian.
Arah program ini tepat karena kecakapan digital seharusnya membuat usaha lebih mampu berkembang, bukan sekadar hadir di platform daring. Pelaku UMKM didorong menggunakan teknologi untuk menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha baru, dan meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan. Namun, pertumbuhan tersebut bergantung pada keputusan yang cermat: memahami arus uang, menilai pilihan investasi, serta menjaga transaksi dan akun bisnis. Tanpa bekal itu, penggunaan layanan digital bisa memperbesar paparan terhadap penipuan maupun keputusan keuangan yang merugikan. PUJAAN menempatkan peluang dan perlindungan dalam satu kerangka, sebuah pendekatan yang lebih berguna bagi usaha kecil daripada dorongan digitalisasi tanpa pendampingan.
Belajar, mendampingi, lalu membuka akses modal
Rangkaian program PUJAAN Vol. 5 mencakup webinar sebagai bekal awal, dilanjutkan mentoring bagi para finalis pada puncak penganugerahan. Pendampingan diarahkan untuk memperkuat kemampuan mengelola dan menjaga uang digital, memahami investasi, serta mengambil keputusan bisnis secara lebih tepat. Susunan ini penting: materi memberi dasar, sementara mentoring dapat membantu peserta menghubungkan pengetahuan dengan persoalan yang mereka hadapi dalam kegiatan usaha. Program ini juga menyediakan kompetisi dengan hadiah puluhan juta rupiah sebagai akses permodalan untuk mendukung pengembangan UMKM. Dengan begitu, PUJAAN tidak berhenti pada kampanye edukasi, tetapi menggabungkan pembelajaran dan dukungan usaha. Nilai akhirnya tetap bergantung pada kemampuan peserta menerapkan bekal tersebut dalam rutinitas keuangan dan keamanan bisnis.
Cakupan peserta tahun ini diperluas: kompetisi terbuka bagi pelaku UMKM perempuan Mitra Bukalapak serta pelaku UMKM laki-laki maupun perempuan di bawah binaan itemku. Seluruh pemenang dari empat kategori Mitra Bukalapak dan tiga kategori itemku berhak memperoleh akses permodalan tunai dan produk investasi dari BMoney, beserta fasilitas lain. Perluasan ini memberi ruang partisipasi lebih inklusif, sementara fokus pemberdayaan perempuan tetap menjadi bagian dari program. Meski begitu, dukungan kompetisi hanya menjangkau peserta dan pemenang; manfaat literasi yang lebih luas akan ditentukan oleh seberapa jauh pembelajaran dan pendampingan dapat membantu pelaku usaha mengambil keputusan yang lebih aman setelah program.
Peluang digital harus berjalan bersama perlindungan
Daya tarik PUJAAN bukan semata akses modal, melainkan pengakuan bahwa kemampuan mencari peluang dan kemampuan menghindari risiko harus tumbuh beriringan. Pelaku usaha yang memahami pengelolaan uang dapat mengarahkan keuntungan secara lebih produktif dan mempertimbangkan langkah untuk memperluas skala usaha. Sementara itu, kewaspadaan terhadap penipuan dan pinjaman ilegal membantu melindungi hasil kerja yang sudah dibangun. Kombinasi ini relevan ketika transaksi, pemasaran, dan layanan keuangan makin banyak dijalankan secara digital. Bagi usaha mikro kecil, satu keputusan yang keliru dapat mengganggu operasional; karena itu, keamanan bukan urusan teknis semata, tetapi bagian dari ketahanan bisnis.
PUJAAN Vol. 5 menawarkan susunan dukungan yang masuk akal: webinar, mentoring, penguatan literasi keuangan dan keamanan digital, serta kompetisi modal. Kekuatan pendekatan ini terletak pada keterkaitan antara pengetahuan dan praktik, bukan pada teknologi sebagai tujuan akhir. Program seperti ini dapat membantu peserta memanfaatkan peluang digital sekaligus memahami cara melindungi diri dari risikonya. Bagi UMKM, ukuran keberhasilannya bukan hanya partisipasi dalam kompetisi, tetapi apakah bekal tersebut membuat pengelolaan uang lebih tertib, keputusan bisnis lebih terukur, dan aktivitas digital lebih aman. Itulah alasan literasi keuangan UMKM perlu diperlakukan sebagai fondasi pertumbuhan, bukan materi tambahan.






