Akses keuangan harus disertai kecakapan
Literasi keuangan UMKM adalah kemampuan pelaku usaha memahami dan mengelola uang, memilih layanan keuangan yang sesuai, serta merencanakan kebutuhan bisnis secara sehat dan terarah. Tanpa kecakapan itu, akses digital yang makin luas belum tentu membantu usaha bertahan atau berkembang.
Itulah alasan festival dan program pendampingan lebih penting bila melampaui promosi produk: pelaku usaha perlu belajar mengambil keputusan, bukan sekadar mengenal layanan. Di Kediri, Pemerintah Kota Kediri dan OJK Kediri menggelar Kediri Financial Festival (Finfest) 2026 pada 24–25 Oktober untuk memperluas akses keuangan dan mendorong pengembangan UMKM. Wali Kota Vinanda Prameswati menekankan bahwa kreativitas bernilai ekonomi harus ditopang pengelolaan keuangan, permodalan yang aman, serta pemahaman legalitas dan keberlanjutan usaha.
Arah ini tepat: usaha kreatif tidak otomatis menjadi usaha sehat. Finfest menyediakan akses langsung untuk mengenal dan menggunakan layanan, termasuk membuka rekening, mencari pembiayaan, dan berinvestasi. Namun, manfaatnya akan bertahan hanya jika peserta mampu menilai kecocokan produk dan risiko, bukan sekadar pulang membawa informasi.
Festival perlu mengubah pengetahuan menjadi tindakan
Finfest Kediri mempertemukan edukasi dengan akses nyata. Sebanyak 32 stan lembaga jasa keuangan dari sektor perbankan, pasar modal, asuransi, pembiayaan, dan penjaminan hadir bersama 70 UMKM binaan yang menawarkan produk lokal. Pada penyelenggaraan sebelumnya, transaksi selama dua hari tercatat mencapai Rp5,7 miliar. Angka itu menunjukkan daya tarik pertemuan langsung, tetapi transaksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa kemampuan mengelola uang ikut meningkat.
Karena itu, rangkaian edukasi, lomba video, kompetisi Stocklab, dan kegiatan literasi lainnya patut dinilai dari dampak setelah festival: apakah peserta lebih paham cara membandingkan layanan, mengelola arus kas, serta menghindari keputusan yang membebani usaha. Festival literasi keuangan yang baik seharusnya menjadi pintu menuju kebiasaan, bukan acara satu kali.
SampoernaFest di Palembang, yang diinisiasi Bank Sampoerna, kembali digelar di Lapangan Atletik Jakabaring pada 25 Oktober 2026. Festival ini menghubungkan pengelolaan keuangan yang bijak dengan pemanfaatan layanan digital. Digitalisasi memang memudahkan transaksi sehari-hari, tetapi perencanaan keuangan tetap diperlukan agar kemudahan tidak berubah menjadi pengeluaran tanpa kendali.

UMKM melek digital juga harus aman
Kemampuan memakai kanal digital tidak sama dengan kesiapan menghadapi risikonya. Program Pelaku Usaha Jagoan Pencari Cuan (PUJAAN) Vol. 5 dari BUKA Group mengangkat tema “Jagoan Buka Peluang” dan menekankan literasi keuangan, literasi digital, serta keamanan siber bagi UMKM. Program ini berpuncak pada penganugerahan di Jakarta pada 27 Oktober 2026.
Kebutuhan tersebut nyata karena akses keuangan digital yang makin terbuka tidak selalu diiringi pemahaman tentang pengelolaan uang usaha dan risiko seperti penipuan daring maupun pinjaman daring ilegal. PUJAAN menyediakan akses permodalan melalui kompetisi dengan hadiah puluhan juta rupiah dan mengadakan mentoring serta diskusi seputar pengelolaan dan keamanan uang digital, investasi, serta keputusan bisnis.
Inilah sisi yang tak boleh dipisahkan dari ambisi menjadikan UMKM melek digital. Keamanan digital UMKM bukan pelengkap pelatihan pemasaran daring; ia melindungi uang, akses akun, dan kelangsungan transaksi. Pendampingan juga lebih berguna daripada edukasi sesaat karena pelaku usaha dapat membahas persoalan yang muncul ketika menerapkan pengetahuan pada bisnisnya sendiri.

Ukuran keberhasilan adalah usaha yang lebih siap
Finfest, SampoernaFest, dan PUJAAN memakai pendekatan berbeda, tetapi membawa pesan yang sama: akses harus berjalan bersama pemahaman. Kediri mempertemukan UMKM dengan layanan formal dan edukasi; Palembang mengaitkan kebiasaan finansial dengan kanal digital; PUJAAN menambahkan pendampingan untuk keamanan dan keputusan usaha. Kombinasi seperti ini lebih menjanjikan daripada sekadar memperbanyak aplikasi atau pilihan pembiayaan.
Penyelenggara dan mitra keuangan sebaiknya mengukur hasil melalui perubahan yang dirasakan pelaku usaha: pencatatan yang lebih tertib, pilihan pembiayaan yang dipahami, kebiasaan menabung, serta kewaspadaan terhadap penipuan dan pinjaman ilegal. Festival dapat membuka pintu, tetapi tindak lanjut dan pendampinganlah yang membantu UMKM menerapkan pengetahuan saat mengelola usaha.
Kesimpulannya, literasi keuangan dan keamanan digital bukan dua agenda terpisah. Keduanya merupakan bekal dasar agar UMKM bisa memanfaatkan layanan digital tanpa mengabaikan risiko dan kesehatan usaha. Festival akan bernilai ketika pengetahuan yang dibagikan berlanjut menjadi keputusan yang lebih aman, terencana, dan mendukung pertumbuhan.






