Karhutla bukan sekadar krisis lingkungan
Karhutla Kalimantan adalah kebakaran hutan dan lahan yang memicu kerusakan habitat serta kabut asap, sehingga mengancam kesehatan, keselamatan, dan kegiatan sehari-hari masyarakat. Selama empat bulan, kabut asap Kalimantan telah menjadi persoalan yang melampaui batas wilayah dan menarik perhatian figur publik dari dalam maupun luar negeri. Sorotan ini penting bukan karena ketenaran dapat memadamkan api, melainkan karena perhatian publik bisa membantu menjaga krisis tetap terlihat. Namun, unggahan dan pernyataan tidak boleh disamakan dengan bantuan langsung: keduanya punya daya dan batas berbeda. Skala dampak yang dilaporkan juga menuntut lebih dari simpati. Kebakaran merusak kawasan alam, sementara paparan asap mengganggu kesehatan dan aktivitas warga. Karena itu, respons figur publik paling bermakna ketika perhatian yang mereka bangun mendorong dukungan bagi warga terdampak dan memperkuat tuntutan akan penanganan yang terukur.

Nathalie Holscher memilih bantuan langsung
Nathalie Holscher mengambil langkah yang konkret: setelah tampil di Pontianak, ia menyatakan seluruh pendapatan dari penampilannya akan disumbangkan untuk masyarakat yang terdampak kabut asap akibat karhutla di Kalimantan Barat dan sekitarnya. Ia menyampaikan keputusan itu melalui Instagram, berterima kasih kepada penonton, dan mengajak masyarakat mendoakan keadaan Kalimantan. Di akhir penampilan, ia berharap situasi segera membaik dan menyebut honor malam itu akan dialokasikan untuk membantu penanganan dampak kebakaran. Aksi tersebut mendapat sambutan positif dari warganet. Nilainya bukan pada besaran dana—yang tidak disebutkan—melainkan pada keputusan mengarahkan hasil pekerjaannya kepada warga yang menghadapi dampak bencana. Donasi menyediakan bantuan langsung, tetapi tidak menggantikan tugas pemerintah memadamkan api, melindungi kesehatan warga, dan mencegah kebakaran berulang. Kepedulian personal patut diapresiasi tanpa dibebani harapan bahwa tindakan satu selebritas dapat menyelesaikan krisis.
Sorotan internasional mengangkat skala krisis
Leonardo DiCaprio dan Greta Thunberg menempuh jalur berbeda: mereka menggunakan jangkauan publik untuk membuat krisis lebih terlihat. Pada 3 Oktober 2026, DiCaprio mengunggah video di Instagram dan menyebut situasi itu “urgent”. Ia menyoroti lebih dari 800.000 hektare hutan yang hangus—setara 10 kali luas Kota New York—serta ancaman terhadap lebih dari separuh populasi orangutan Kalimantan dan owa berjanggut putih. Ia juga mengingatkan bahwa gambut yang mengering akibat krisis iklim dan pembukaan lahan lebih mudah terbakar, sementara lebih dari lima juta orang terancam dampak paparan asap. Greta Thunberg, sementara itu, membagikan ulang unggahan aktivis lingkungan Kalimantan, Emmanuela Shinta. Dalam unggahan yang ia sebarkan, disebutkan 306.309 orang dirawat karena infeksi saluran pernapasan akut, termasuk 75.000 anak di bawah lima tahun. Pernyataan dan penguatan unggahan memperlebar perhatian; keduanya bukan donasi Nathalie dan tidak boleh dinilai seolah-olah bentuk bantuannya sama.
Perhatian harus berujung pada tindakan
Dampak kabut asap terasa dalam hal-hal biasa: kualitas udara yang buruk memaksa warga menunda aktivitas luar ruang, dari olahraga dan piknik hingga agenda sosial. Bagi yang sakit atau kesulitan bernapas, gangguan itu jauh lebih berat daripada perubahan rencana. Di luar DiCaprio dan Thunberg, anggota parlemen Malaysia Kalam Salan mendesak pemerintah segera memadamkan titik api dan menghentikan pembakaran, sedangkan kreator konten Joseph Lee memakai aksi protes untuk menggambarkan sulitnya bernapas akibat asap. Bentuk-bentuk respons ini memperlihatkan jangkauan kepedulian, tetapi sorotan internasional tidak otomatis menghasilkan solusi. Harapan yang disampaikan dalam laporan tentang perhatian figur dunia ialah koordinasi dan penanganan yang lebih baik untuk memadamkan api, melindungi satwa, serta menjaga kesehatan warga terdampak. Kesimpulannya, donasi Nathalie menawarkan bantuan langsung, sementara suara para figur dunia memperbesar tekanan dan kesadaran. Keduanya berguna dengan cara berbeda; ukuran akhirnya adalah apakah perhatian itu membantu mempercepat tindakan nyata.






