Dari Green Bean ke Parfum: Lompatan Nilai Tambah Kopi Air Bening
Parfum kopi lokal dari Desa Air Bening adalah produk wewangian yang memanfaatkan biji kopi robusta setempat sebagai bahan utama, dikembangkan melalui Badan Usaha Milik Desa untuk mengubah komoditas kopi yang selama ini dijual sebagai biji kering menjadi olahan bernilai tambah yang membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa dan memperluas pasar kopi di luar konsumsi minuman. Langkah berani BUMDes Sumber Rejeki ini pada dasarnya adalah pernyataan politik ekonomi: kopi desa tidak lagi puas berhenti di level green bean. Selama ini, sebagian besar hasil panen hanya dipasarkan sebagai biji kopi kering, dengan sedikit yang diolah menjadi bubuk dan produk turunan. Kini, parfum dan lilin aromaterapi berbahan kopi menjadi simbol pergeseran dari sekadar menjual bahan mentah menuju inovasi produk kopi yang lebih kreatif. Pemerintah desa sadar, tanpa hilirisasi, petani akan terus bergantung pada harga komoditas yang fluktuatif dan sering tidak adil.
BUMDes Rejang Lebong Menjadikan Kopi Sebagai Industri Kreatif
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumber Rejeki di Air Bening tidak lagi diposisikan sebagai pengelola usaha konvensional, melainkan motor penggerak industri kreatif berbasis kopi. Unit usaha yang dikembangkan mencakup peternakan sapi, pengelolaan wisata alam Telaga Tujuh Warna dan Danau Tapak, serta hilirisasi kopi menjadi parfum aromatik dan lilin kopi. Ini bukan sekadar diversifikasi, tetapi strategi sadar untuk membangun ekosistem ekonomi desa yang saling menguatkan. Kepala Desa Nusa Jaya Saputra menegaskan bahwa parfum dan lilin kopi sudah melalui tahap uji coba dan mulai diproduksi dalam skala kecil, sebagai kreativitas anak-anak BUMDes. "Produksinya juga sudah berjalan, tetapi masih dalam skala kecil. Ke depan, akan terus kami kembangkan," ujarnya. Undangan Kementerian Desa kepada BUMDes Sumber Rejeki sebagai salah satu dari tiga BUMDes yang tampil di Trade Expo Indonesia di BSD Tangerang, 14–18 Oktober 2026, menunjukkan bahwa inovasi produk kopi ini mulai dipandang layak naik panggung nasional.
Ribuan Hektare Kebun Kopi: Modal Besar yang Terlalu Lama Tidur
Desa Air Bening berada di kaki Bukit Daun dengan potensi wisata alam dan perkebunan kopi robusta seluas ribuan hektare, menghasilkan sekitar 5.000 ton kopi per tahun. Lahan bersertifikat saja mencapai sekitar 700 hektare, sementara lahan non-sertifikat dan kawasan kerja sama Hutan Kemasyarakatan (HKm) menambah luasan hingga ribuan hektare. Hampir seluruh wilayah desa menggantungkan penghidupan pada kebun kopi. Dengan skala sebesar ini, menjual kopi sebatas green bean adalah bentuk pemborosan potensi. Selama bertahun-tahun, struktur ekonomi desa dikunci oleh pola jual bahan mentah. Pemerintah desa kini mendorong pemanfaatan kopi menjadi produk olahan lain agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Pengembangan parfum kopi lokal dan lilin aromatik menjadi cara konkret mengubah surplus produksi menjadi nilai tambah kopi yang bisa dinikmati langsung oleh warga, bukan hanya oleh tengkulak atau pabrik di luar desa. Di sinilah inovasi produk kopi bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar ribuan hektare kebun kopi tidak terus menjadi sumber keuntungan bagi pihak luar.
Dampak ke Petani: Dari Komoditas Murah ke Produk Bernilai
Ketika hampir seluruh rumah tangga di Air Bening bergantung pada kopi, setiap langkah hilirisasi punya dampak langsung ke dapur petani. Parfum kopi lokal dan lilin aromaterapi membuka jalur baru: kopi tidak berhenti di gudang pengepul, tetapi masuk ke rantai nilai yang lebih panjang. Pemerintah desa secara terang menyebut bahwa tujuan inovasi ini adalah agar kopi tidak hanya bergantung pada penjualan biji kering, melainkan menjadi produk kreatif dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Pengembangan produk turunan dinilai dapat membuka peluang usaha baru sekaligus memperluas pasar kopi dari desa tersebut. Artinya, petani berpotensi mendapat bagian dari margin produk akhir, bukan hanya harga dasar komoditas. Rencana pembentukan sekolah kopi sebagai sarana edukasi teknis dari pembibitan hingga hilirisasi juga menunjukkan keseriusan membangun kapasitas petani agar mampu ikut serta dalam rantai produksi parfum dan olahan lainnya. Jika konsisten, BUMDes Rejang Lebong bisa menjadi contoh bagaimana desa mengorganisasi ekonomi sirkular sederhana: dari kebun, ke pabrik kecil, ke wisata, dan kembali lagi ke kesejahteraan warga.
Langkah Lanjut: Infrastruktur, Edukasi, dan Pasar Parfum Kopi
Meski parfum dan lilin kopi sudah diproduksi, skalanya masih terbatas karena desa sedang memperluas jangkauan pasar. Di titik ini, tantangan utama bukan lagi ide, melainkan konsistensi produksi, kualitas, dan akses distribusi. Pemerintah desa mengajukan dukungan pembangunan jalan usaha tani menuju sentra perkebunan kopi sepanjang 5 kilometer, serta fasilitas pengeringan kopi, sebagai prasarana dasar agar rantai produksi dari kebun ke pabrik kecil berjalan lancar. Rencana sekolah kopi yang memberikan edukasi teknis dari pembibitan hingga pascapanen dan hilirisasi adalah investasi jangka panjang yang patut diapresiasi. Plt Bupati Hendri Praja menyambut positif inisiatif BUMDes dan melihat potensi sinergi kopi dengan pariwisata melalui konsep agrowisata berbasis edukasi. Jika dukungan ini konsisten, pasar wewangian berbasis kopi yang relatif belum jenuh bisa menjadi ruang tumbuh baru bagi desa. Kesimpulannya, parfum kopi bukan sekadar produk unik; ia adalah strategi politik ekonomi desa untuk keluar dari jebakan komoditas murah dan menempatkan petani sebagai pelaku utama industri kreatif lokal.






