Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Biji Kopi ke Botol Parfum: Desa Menambah Nilai Panen

Dari Biji Kopi ke Botol Parfum: Desa Menambah Nilai Panen
Minat|Parfum

Mengolah Panen Menjadi Produk Baru

Parfum kopi lokal adalah produk wewangian yang dikembangkan dari identitas aroma kopi setempat untuk mengubah hasil panen menjadi barang olahan bernilai tambah dan membuka jalur usaha selain penjualan biji. Di Desa Air Bening, Rejang Lebong, kopi selama ini menjadi sumber penghidupan warga, tetapi pemerintah desa mulai mendorong produk turunan agar nilai ekonominya meningkat. Melalui BUMDes, warga menguji produksi parfum dan lilin beraroma kopi dalam skala kecil.

Langkah itu bertumpu pada basis pertanian yang besar: perkebunan kopi bersertifikat diperkirakan mencapai 700 hektare dan meluas hingga ribuan hektare jika lahan Hutan Kemasyarakatan turut dihitung. Produksi Robusta kawasan tersebut disebut melampaui 5.000 ton per tahun. Namun, selama ini sebagian besar hasilnya dijual sebagai biji kering. Diversifikasi memberi desa kesempatan untuk tidak hanya bergantung pada harga dan pasar bahan mentah. Kepala desa Nusa Jaya Saputra menyebut produksi parfum dan lilin telah berjalan, tetapi masih kecil, dan akan terus dikembangkan.

Dari Biji Kopi ke Botol Parfum: Desa Menambah Nilai Panen

Keterampilan sebagai Modal Usaha

Di Desa Dagang Kerawan, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, pemerintah desa mengadakan pelatihan meracik minyak wangi pada Rabu, 28 Oktober 2026, di aula desa. Kegiatan ini melengkapi gagasan Air Bening: bukan mengolah kopi secara langsung, melainkan membekali warga dengan keterampilan untuk menjajaki usaha di sektor wewangian. Pelatihan memperkenalkan proses pembuatan, karakter aroma, serta pentingnya menjaga mutu dan konsistensi sebelum produk dipasarkan.

Kepala desa Muhammad Nur berharap keterampilan tersebut menjadi awal usaha mandiri dan melahirkan wirausaha baru. Harapan itu masuk akal, tetapi pelatihan saja tidak menjamin usaha bertahan. Warga juga perlu mengenali calon pembeli, menentukan kemasan dan identitas produk, menghitung biaya produksi, serta membangun kepercayaan melalui mutu yang stabil—hal-hal yang turut ditekankan dalam materi pelatihan. Dengan pendampingan berkelanjutan, keterampilan meracik bisa berkembang menjadi usaha rumahan dan membuka kesempatan kerja jika usaha tumbuh serta memiliki pasar stabil.

Diversifikasi Harus Diikuti Dukungan

Dua inisiatif ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif desa dapat tumbuh dari dua pintu: mengolah komoditas pertanian menjadi produk baru dan melatih warga menciptakan produk yang bisa dijual. Parfum kopi lokal memberi identitas yang berakar pada hasil panen, sementara pelatihan di Dagang Kerawan membantu warga mempelajari keterampilan usaha. Keduanya berpotensi memperluas pasar dan menciptakan pekerjaan, tetapi peluang itu bergantung pada kualitas, konsistensi, dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen.

Inovasi produk pertanian tidak seharusnya berhenti pada prototipe atau acara pelatihan. Air Bening masih perlu mengembangkan produksi skala kecilnya; pemerintah desa juga berharap ada dukungan untuk pembangunan Sekolah Kopi, perbaikan jalan perkebunan, dan fasilitas pengeringan. Di Dagang Kerawan, pendampingan setelah pelatihan dapat membantu peserta beralih dari belajar meracik ke menguji produk dan mencari pembeli. Kesimpulannya, mengubah panen menjadi produk bernilai tambah adalah strategi yang menjanjikan, tetapi keberhasilannya ditentukan oleh kesinambungan dukungan dan keterlibatan warga.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!