Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Timbulsloko hingga Kalimati, Gotong Royong Angkut Berton-ton Sampah

Dari Timbulsloko hingga Kalimati, Gotong Royong Angkut Berton-ton Sampah
Minat|Asia Tenggara

Aksi bersih membuka persoalan yang lebih besar

Pengelolaan sampah pesisir adalah rangkaian upaya mengurangi sampah yang masuk ke pantai, sungai, dan muara, lalu mengangkut serta mengolahnya agar tidak kembali mencemari perairan dan mengganggu kehidupan warga. Dua aksi gotong royong di Timbulsloko dan Kalimati memperlihatkan kekuatan kerja bersama sekaligus batasnya: membersihkan tumpukan penting, tetapi tanpa sistem yang berjalan setiap hari, sampah akan kembali.

Pada Selasa, 27 Oktober 2026, lebih dari 300 warga, pelajar, dan perwakilan unit pelaksana teknis mengumpulkan 1.247,094 kilogram sampah dalam aksi bersih pantai Timbulsloko, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Demak. Kegiatan yang digelar Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa bersama Pemerintah Kabupaten Demak itu menunjukkan bahwa partisipasi publik dapat menghasilkan pengangkutan nyata, bukan sekadar kampanye.

Namun, sekitar 1,2 ton yang terangkat tidak bisa menutupi persoalan sampah pantai Sayung. Warga mengeluhkan tidak tersedianya tempat sampah dan tempat pembuangan, sementara bank sampah yang pernah ada kini tidak beroperasi. Aksi lapangan berhasil membersihkan lokasi, tetapi fasilitas yang absen membuat pencegahan sehari-hari sulit dilakukan.

Dari Timbulsloko hingga Kalimati, Gotong Royong Angkut Berton-ton Sampah

Angka besar, beban yang belum tertangani

Skala masalah di Demak jauh melampaui hasil satu hari kerja bakti. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah memperkirakan timbulan sampah kabupaten mencapai sekitar 220 ribu ton per tahun, tetapi baru sekitar 30 persen yang terkelola; sekitar 70 persen masih belum tertangani. Angka ini menuntut kebijakan dan sarana permanen, bukan ketergantungan pada kegiatan bersih-bersih berkala.

Asal sampah pesisir Sayung pun belum dipetakan secara rinci hingga tingkat kecamatan. Kajian pemerintah daerah menunjukkan sebagian besar sampah dapat datang dari hulu melalui sungai, selain dari aktivitas kapal. Karena aliran tidak berhenti di batas desa, pengelolaan harus menghubungkan wilayah hulu dan hilir, sekaligus memastikan warga punya cara praktis untuk memilah dan membuang sampah.

Pemerintah Demak masih mengkaji penanganan pesisir, termasuk fasilitas terpadu atau TPS3R, pengolahan organik menjadi kompos dan pupuk cair, serta investasi pirolisis untuk plastik yang diharapkan berjalan pada 2027. Rencana tersebut relevan, tetapi warga Timbulsloko membutuhkan layanan dasar sebelum teknologi besar hadir. Tanpa tempat penampungan dan pengangkutan yang teratur, sampah akan terus menumpuk di tepi pantai.

Dari Timbulsloko hingga Kalimati, Gotong Royong Angkut Berton-ton Sampah

Kalimati menunjukkan skala kerja berbeda

Di Sungai Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, gotong royong lintas pihak telah mengangkut lebih dari 15 ton sampah hingga Rabu, 28 Oktober 2026. Pembersihan dimulai pada Senin dan melibatkan warga, pemerintah desa dan kecamatan, dinas lingkungan hidup, dinas pekerjaan umum, serta organisasi Sungai Watch. Jumlahnya jauh di atas hasil aksi di Timbulsloko, meski perbandingan ini tidak otomatis mengukur tingkat pencemaran karena panjang dan cakupan penanganannya berbeda.

Tim menargetkan pembersihan sepanjang 800 meter aliran sungai. Sekitar 700 meter atau 90 persen sudah ditangani, sedangkan pekerjaan tersisa berada di kawasan muara. Ini menjadi langkah penting: sampah yang tertinggal di muara berisiko terbawa arus pasang kembali ke aliran sungai, sehingga pengangkutan tidak boleh berhenti saat bagian sungai tampak bersih.

Bagi warga yang mencari ikan, sampah bukan sekadar gangguan pemandangan. Nelayan setempat Razak mengatakan hasil tangkapan sulit diperoleh bahkan saat musim ikan karena ikan enggan mendekati perairan yang penuh sampah. Dampak langsung terhadap mata pencaharian membuat penanganan Kalimati mendesak sekaligus menegaskan bahwa kebersihan sungai berkaitan erat dengan kehidupan ekonomi warga.

Dari Timbulsloko hingga Kalimati, Gotong Royong Angkut Berton-ton Sampah

Muara harus dibersihkan, sumber sampah harus dicegah

Pemerintah Banyuwangi melanjutkan penanganan Kalimati hingga muara dan menyiapkan ekskavator bersama pemerintah provinsi untuk membantu pengangkatan. Kamera pengawas juga direncanakan dipasang sepanjang aliran sungai, sementara kelompok peduli lingkungan didorong mengedukasi warga. Rangkaian ini lebih menjanjikan daripada angkut sampah semata karena menggabungkan pembersihan, pemantauan, dan perubahan perilaku.

Tetapi alat berat dan kamera tidak menggantikan layanan pengelolaan sampah yang mudah diakses. Kalimati membutuhkan pengawasan yang diikuti penegakan dan fasilitas, sementara Sayung membutuhkan tempat sampah, titik pengumpulan, serta sistem angkut yang konsisten. Di kedua lokasi, ajakan agar warga tidak membuang sampah sembarangan hanya akan efektif jika tersedia pilihan pembuangan yang nyata.

Perbedaan hasil—sekitar 1,2 ton di Timbulsloko dan lebih dari 15 ton di Kalimati—menunjukkan betapa pentingnya aksi bersama, bukan bahwa masalah di satu tempat lebih ringan. Ukuran keberhasilan berikutnya semestinya bukan hanya tonase yang terangkat, melainkan apakah fasilitas berfungsi, muara tertangani, sampah dari hulu dikurangi, dan nelayan serta warga tidak lagi menghadapi tumpukan yang sama. Gotong royong membuka jalan; pengelolaan berkelanjutan yang menentukan hasilnya.

Dari Timbulsloko hingga Kalimati, Gotong Royong Angkut Berton-ton Sampah

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!