Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

15 Ton Sampah Diangkat, Pembersihan Kalimati Dikejar hingga Muara

15 Ton Sampah Diangkat, Pembersihan Kalimati Dikejar hingga Muara
Minat|Asia Tenggara

Gotong royong yang harus berlanjut

Pembersihan Sungai Kalimati adalah upaya bersama untuk mengangkat sampah dari aliran sungai hingga muara sekaligus mencegah pencemaran pesisir dan gangguan terhadap kehidupan warga. Di Muncar, kerja bakti lintas pihak menunjukkan bahwa persoalan ini tak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah atau relawan. Pada Kamis (29/10/2026), Koramil 0825/17 Muncar, unsur TNI-Polri, relawan Sungai Watch, perangkat dusun, dan masyarakat menyusuri aliran di Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, untuk membersihkan sampah hingga muara laut. Aksi bersih sungai Muncar ini melengkapi penanganan yang telah dimulai beberapa hari sebelumnya. Namun, kerja bakti hanya akan berarti jika pengangkutan diikuti pengelolaan sampah dan perubahan kebiasaan warga. Sungai yang kembali dipenuhi sampah setelah dibersihkan bukanlah keberhasilan, melainkan tanda bahwa pencegahan belum berjalan.

15 Ton Sampah Diangkat, Pembersihan Kalimati Dikejar hingga Muara

Lebih dari 15 ton, tetapi pekerjaan belum selesai

Besarnya sampah yang terangkat memperlihatkan skala masalah yang selama ini menumpuk di sungai. Hingga Rabu (28/10/2026), lebih dari 15 ton telah diangkut dari target pembersihan sepanjang 800 meter; sekitar 700 meter sudah tertangani dan kurang lebih 100 meter di kawasan muara masih tersisa. Sebagian besar sampah yang terkumpul merupakan limbah rumah tangga nonorganik yang telah terkontaminasi, sehingga dibawa ke TPS3R Karetan dan tidak memungkinkan untuk didaur ulang. Angka 15 ton patut diapresiasi, tetapi tak boleh menutupi pekerjaan lanjutan: sampah yang sudah terangkat perlu ditangani dengan benar, sementara aliran dan muara harus dijaga agar tumpukan baru tidak muncul. Tanpa pengurangan sampah dari sumbernya, pembersihan berisiko menjadi siklus berulang, bukan solusi.

Muara menjadi ujian berikutnya

Pemkab Banyuwangi mempercepat penanganan sampah hingga muara karena lokasi itu dapat menahan tumpukan dan membuatnya kembali terbawa arus pasang ke aliran sungai. Bupati Ipuk Fiestiandani meninjau pekerjaan pada 28 Oktober dan menyatakan penanganan perlu diteruskan ke kawasan muara. Pemerintah kabupaten bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan ekskavator untuk membantu pengangkatan sampah di sana. Langkah tersebut masuk akal: alat berat dapat mendukung kerja di titik yang tak mudah dibersihkan secara manual. Namun, keberadaan alat bukan jaminan hasil akan bertahan. Sampah Sungai Kalimati perlu ditangani dari hulu sampai muara, disertai pengawasan dan sistem pengelolaan yang mencegah sampah kembali masuk ke sungai. Rencana pemasangan CCTV sepanjang aliran dan edukasi pengelolaan sampah memberi arah, tetapi pelaksanaan dan tindak lanjutnya akan menentukan dampak.

Kolaborasi harus menjangkau kebiasaan sehari-hari

Kekuatan aksi ini terletak pada pembagian peran. Koramil, TNI-Polri, dan Pos TNI AL mendukung mobilisasi kerja bakti; warga dan perangkat setempat memahami kondisi lingkungan; sementara Sungai Watch Banyuwangi membawa keterlibatan komunitas dalam pembersihan. Pemerintah desa, kecamatan, DLH, dinas pengairan, dan dinas perumahan serta permukiman turut terlibat dalam penanganan yang dimulai 26 Oktober. Kolaborasi semacam ini perlu diteruskan dari pengangkutan ke edukasi, pengawasan, dan tata kelola sampah yang bisa diikuti warga. Taruhannya bukan sekadar kebersihan pemandangan. Nelayan setempat, Mohammad Razak Cahyono, mengatakan sampah di perairan mengganggu pencarian ikan; bahkan saat musim ikan, hasil tangkapan sulit didapat karena ikan enggan mendekati perairan yang tercemar. Itu sebabnya upaya menangani sampah hingga muara menyentuh langsung penghidupan masyarakat.

Keberhasilan diukur dari sungai yang tetap bersih

Kerja bakti Kalimati memperlihatkan bahwa gotong royong mampu menggerakkan banyak pihak dan mengangkat sampah dalam jumlah besar. Tetapi ukuran keberhasilan berikutnya bukan hanya tonase yang berhasil dikumpulkan. Pekerjaan tersisa di muara harus dituntaskan, rencana penggunaan ekskavator dan pemasangan CCTV perlu dijalankan, dan pengelolaan sampah rumah tangga harus semakin kuat. Pemerintah dapat menyediakan sarana, koordinasi, serta pengawasan; komunitas dan warga dapat menjaga keterlibatan dan mengubah kebiasaan membuang sampah. Keduanya saling membutuhkan. Jika tindak lanjut berlangsung konsisten, pembersihan bisa menjadi awal perubahan, bukan kegiatan sesaat. Jika tidak, sampah akan kembali menumpuk dan dampaknya tetap dirasakan sungai, pesisir, serta nelayan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!