Menghubungkan keahlian riset dengan tantangan nyata
DeepTech for Smart-X Hackathon adalah kompetisi yang mempertemukan inovator perguruan tinggi dan industri untuk merancang solusi teknologi mendalam bagi kebutuhan sektor industri. ITB menyelenggarakan kegiatan ini sebagai salah satu dari empat kategori dalam Hackathon ITB Series 2026, bagian dari program hilirisasi riset yang diinisiasi Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan pendanaan LPDP. Nilai utama hackathon deep tech ini terletak pada titik temu antara kemampuan teknis kampus dan persoalan operasional yang benar-benar dihadapi perusahaan. Alih-alih berhenti pada gagasan, peserta ditantang untuk mengembangkan prototipe yang berpeluang diuji dan dilanjutkan bersama mitra. Pendekatan itu membuat kompetisi ini lebih dari ajang adu presentasi: ia menjadi jalur untuk membawa riset menuju penerapan, sekaligus menguji apakah teknologi Smart-X dapat memberi manfaat nyata.

Kolaborasi industri memberi arah pada inovasi
Kolaborasi industri menjadi kekuatan paling konkret dalam penyelenggaraan ini. ITB menggandeng PT Len Industri (Persero), PT PLN (Persero), PT Hariff Dipa Persada, dan PT Indismart Kreatif Solusi; masing-masing menghadirkan tantangan yang berangkat dari kebutuhan sektor usaha. Ruang masalahnya mencakup meteran cerdas AMI, efisiensi energi terbarukan, cip pengendali detonasi industri berbasis sinyal campuran, serta analitik Edge AIoT untuk perkotaan dan pertanian. Ragam tantangan tersebut memberi peserta konteks yang lebih tajam dibandingkan membuat teknologi tanpa pengguna yang jelas. Tema digitalisasi dan semikonduktor berbasis AI Accelerator, Chip Design, serta Edge Intelligence juga mendorong tim menggabungkan perangkat keras dan kecerdasan komputasi. Dengan cara ini, inovasi AI tidak diperlakukan sebagai slogan, melainkan sebagai salah satu perangkat untuk menjawab persoalan tertentu.

Dari seleksi proposal menuju prototipe
Seleksi dan rangkaian kerja hackathon memberi proses yang cukup terarah bagi para peserta. Dari 33 proposal yang diterima, 18 tim terpilih mengikuti babak final di ITB. Hari pertama berfokus pada Explore and Define: peserta memahami tantangan mitra dan memperoleh pendampingan mentor. Hari kedua berlanjut ke Build and Improve, saat tim menyusun serta menyempurnakan prototipe. Pada hari terakhir, finalis mempresentasikan dan mendemonstrasikan solusi di hadapan dewan juri. Urutan ini penting karena ide teknologi kerap gagal bukan karena kurang canggih, melainkan karena masalah yang hendak diselesaikan belum dirumuskan dengan baik. Pendampingan dan paparan langsung terhadap kebutuhan industri membantu tim menguji asumsi sejak awal. Presentasi akhir pun menjadi kesempatan untuk menunjukkan fungsi solusi, bukan hanya menjual konsep.

Hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian
Arah yang lebih besar dari kompetisi ini adalah mempercepat hilirisasi riset dan memperkuat kemandirian teknologi nasional. Integrasi teknologi digital, Edge AI, dan desain semikonduktor diharapkan melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di sektor industri. Harapan itu masuk akal karena pengembangan teknologi yang melibatkan calon pengguna sejak tahap awal lebih berpeluang berangkat dari kebutuhan nyata. Namun, keberhasilan hackathon pada akhirnya tidak cukup diukur dari prototipe yang tampil di babak final; tindak lanjut bersama mitra akan menentukan apakah gagasan dapat berkembang menjadi solusi yang digunakan. ITB juga mendorong lahirnya inovator dan teknopreneur yang mampu mengembangkan teknologi untuk kebutuhan industri. Kesimpulannya, kekuatan DeepTech for Smart-X ada pada kemitraan yang menghubungkan talenta, riset, dan tantangan perusahaan—fondasi penting bagi inovasi yang tidak hanya dibuat, tetapi juga berpeluang dipakai.






