SMERTI: Ketika Batik Menjadi Bahasa Memori Kolektif
SMERTI Iwan Tirta adalah sebuah peragaan busana Jakarta yang menggabungkan batik kontemporer fashion, seni pertunjukan, dan musik untuk menghidupkan kembali memori kolektif tentang warisan budaya melalui pengalaman imersif yang melibatkan ruang, gerak, dan emosi penonton secara menyeluruh.
Sejak awal, SMERTI menolak menjadi fashion show biasa. Alih-alih sekadar menampilkan koleksi, pementasan ini menawarkan argumen berani: warisan tidak seharusnya disimpan di lemari, tetapi dibuka, diperdebatkan, dan diterjemahkan ulang. Batik tulis dihadirkan dalam siluet modern, detail mengejutkan, dan narasi tentang jejak yang terus bergerak. Warisan, seperti ditegaskan dalam konsep SMERTI, “tidak berhenti pada masa lalu; ia tetap hidup ketika terus bergerak, ditafsirkan, dan diberikan ruang untuk menemukan bentuk baru.” Inilah inti batik kontemporer fashion: bukan pengkhianatan tradisi, melainkan cara menjaga napasnya tetap panjang.

Gedung Kesenian Jakarta: Panggung Tertua, Gagasan Terbaru
Memindahkan peragaan busana ke Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) bukan trik sensasional, melainkan keputusan konseptual yang cerdas. Pada malam Rabu, 7/10/2026, panggung yang biasa dipakai untuk musik klasik dan teater tiba-tiba dihidupkan oleh koleksi batik bertajuk SMERTI. Di gedung pertunjukan tertua ini, yang sebagian orang mulai lupa, lahirlah memori baru: pernah ada fashion show yang menjadikan teater sebagai runway dan ruang sebagai partner kreatif, bukan sekadar latar.
Art director Shadtoto Prasetio menolak pola runway konservatif. SMERTI dikatakan “dirancang dengan mendengarkan ruangnya”, merespons karakter GKJ melalui gerak, pencahayaan, musik, dan ritme. Model turun dari panggung, menembus koridor di antara bangku, memaksa tamu menyaksikan batik dari jarak beberapa sentimeter. GKJ pun berubah dari monumen masa lalu menjadi organisme hidup yang berdialog dengan ekspresi modern. Di sini, tradisi arsitektur klasik dan batik warisan bertemu dengan keberanian presentasi kontemporer, membuat gedung ini terasa relevan kembali tanpa perlu direstorasi secara kosmetik.

Batik, Musik, dan Gerak: Pengalaman Multimedia yang Mengguncang
SMERTI membuktikan bahwa batik bisa mengisi ruang multimedia tanpa kehilangan ruhnya. Batik, busana, gerak, arsitektur, dan musik dirangkai menjadi pengalaman imersif yang membawa penonton menyusuri perjalanan tentang memori dan bentuk baru warisan. Musik tidak ditempatkan sebagai latar dekoratif; ia menjadi jembatan emosional yang menyatukan koleksi, ruang, dan penonton. Puncaknya, penampilan Efek Rumah Kaca di finale menjadikan peragaan busana Jakarta ini sulit dilupakan, menutup malam dengan resonansi liris yang kuat.
Kolaborasi dengan berbagai kreator semakin menegaskan bahwa batik kontemporer fashion adalah kerja lintas disiplin. Aksesori dari Gelap Ruang Jiwa, tas dari Filo by Miwsoon, hingga sepatu Fortuna Shoes dan Naked Sol membangun lapisan visual yang kaya. Tata rias Make Over dan kehadiran dukungan dari Dewata by Monsieur Spoon, Propan, Plaza, dan WWF memanjangkan ekosistem kreatif di balik panggung. SMERTI pada akhirnya terasa lebih seperti pertunjukan seni total ketimbang sekadar peluncuran koleksi, mengajak penonton melihat batik bukan sebagai motif, melainkan pengalaman yang menyentuh pancaindra.

Koleksi SMERTI: Arsip 13.000 Motif yang Menyapa Gen Z
Jenama yang didirikan maestro batik Iwan Tirta menghadirkan 50 set busana pria dan wanita, semuanya menggunakan batik tulis yang berangkat dari arsip ribuan motif warisan. Kali ini fokusnya pada semesta fauna dan flora: badak, harimau, dan alam yang diterjemahkan ke crop bomber jacket atau minidress hijau yang dikenakan Cinta Laura. Koleksi ini tampil monokrom tanpa sogan, mempertegas garis modern namun tetap menonjolkan kerumitan batik tulis.
Siluetnya berani bergerak ke wilayah kontemporer: bomber, minidress, hingga paduan blus, blazer, dan kaftan low v-neck yang tetap elegan. Pilihan warna pun tidak asal estetis; merah melambangkan energi, hijau keberlanjutan, abu-abu menggambarkan jejak. Dengan repositori lebih dari 13.000 pola batik warisan, rumah mode ini terus mengembangkan visi artistik Iwan Tirta dan membawa kekayaan budaya ke konteks modern. Ini bukan lagi batik untuk sekadar acara resmi, melainkan batik yang bisa berjalan di jalanan global tanpa kehilangan aksennya.
Gen Z, Keberlanjutan, dan Masa Depan Batik Kontemporer
SMERTI juga membaca perubahan cara generasi muda memaknai batik. Sepekan setelah Hari Batik Nasional, Marketing Director Rindu Melati mencatat pergeseran pandangan, terutama di kalangan Gen Z: fokus mereka tidak lagi berhenti pada filosofi motif, tetapi juga pada proses, pemberdayaan perempuan, hingga pengolahan limbah. Prinsip-prinsip ini menjadi decision point konsumen jenama dalam memilih batik, sehingga koleksi SMERTI pun menggunakan 100 persen katun dan Tencel yang lebih ramah lingkungan.
Di sinilah kekuatan Iwan Tirta SMERTI sebagai laboratorium gagasan. Dengan menggabungkan batik kontemporer fashion, kesadaran ekologis, dan presentasi puitis di ruang bersejarah, SMERTI mengirim pesan jelas: sesuatu yang bernilai tidak hanya dijaga, tapi diteruskan dengan cara yang membuatnya tetap hidup. Bagi generasi baru yang kritis dan selektif, ini adalah undangan terbuka untuk menjadikan batik bukan kostum masa lalu, melainkan bagian sah dari gaya hidup masa kini. Jika ada jejak yang ingin ditinggalkan SMERTI, itu adalah keyakinan bahwa warisan dan keberlanjutan bisa berjalan seiring – dan keduanya bisa tampil sangat keren di runway.






