Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Batik Klasik Bertemu Sentuhan Modern di Panggung GKJ

Batik Klasik Bertemu Sentuhan Modern di Panggung GKJ
Minat|Pertunjukan Busana

SMERTI: Ketika Jejak Batik Mengisi Ruang Teater Tertua

Peragaan busana SMERTI adalah sebuah batik fashion show yang menghadirkan koleksi batik tulis dalam format pertunjukan seni di Gedung Kesenian Jakarta, memadukan warisan desain klasik Iwan Tirta dengan pendekatan panggung kontemporer untuk menegaskan bahwa batik dapat hidup sebagai karya mode dan teater sekaligus. Di panggung Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu malam 7 Oktober 2026, suasana yang biasanya diisi musik klasik dan lakon teater berubah menjadi perayaan batik tulis yang penuh opini visual. Bukan sekadar memindahkan runway ke ruang teater, SMERTI terasa seperti pernyataan: batik tidak pantas dikurung dalam seremoni formal, ia layak berdiri di jantung ruang seni paling bersejarah. Fakta bahwa ini adalah peragaan busana pertama dalam sejarah gedung yang berdiri sejak 1821 menegaskan momen ini sebagai titik balik cara kita memandang batik di kota yang haus akan ekspresi kreatif baru.

Batik Klasik Bertemu Sentuhan Modern di Panggung GKJ

Kolaborasi Seni dan Fashion: Ruang yang Didengarkan, Bukan Sekadar Dipakai

Kekuatan utama Iwan Tirta peragaan busana SMERTI bukan hanya pada kainnya, tetapi pada cara ruang diperlakukan sebagai bagian dari narasi. Art director Shadtoto Prasetio menolak format runway generik; ia "merancang SMERTI dengan mendengarkan ruangnya" melalui gerak, pencahayaan, musik, dan ritme. Model tidak berjalan di catwalk lurus, melainkan turun dari panggung dan menelusuri koridor di antara bangku penonton, memaksa tamu untuk merasakan batik dari jarak intim, meski hanya beberapa detik. Di sini, batik kontemporer Jakarta menemukan konteks baru: bukan dekorasi, melainkan aktor utama dalam pertunjukan. Pilihan GKJ sebagai lokasi pun bukan demi sensasi rekor, melainkan untuk menciptakan memori baru di gedung pertunjukan tertua yang mulai terlupakan, sejalan dengan makna "smerti" sebagai jejak atau memori. Kolaborasi dengan Yayasan WWF-Indonesia menambah lapisan pesan, mengikat isu seni, fashion, dan alam dalam satu panggung.

Batik Klasik Bertemu Sentuhan Modern di Panggung GKJ

Kemewahan Klasik, Siluet Modern: Cara Baru Membaca Batik Tulis

Di level desain, SMERTI adalah argumen visual bahwa desain batik modern tidak harus memutus hubungan dengan arsip klasik. Jenama yang didirikan maestro batik Iwan Tirta (1935–2010) ini menurunkan 50 set busana pria dan wanita, semuanya menggunakan batik tulis yang bersumber dari ribuan motif arsip, dengan fokus pada semesta fauna dan flora. Keputusan menghilangkan sogan dan bermain di palet monokrom memberi kejutan: batik yang biasanya hangat berubah menjadi tegas dan grafis, lebih dekat dengan estetika kontemporer. Siluet modern mendominasi—crop bomber jacket dengan motif badak dan harimau, minidress hijau yang dikenakan Cinta Laura—namun blus, blazer, dan kaftan low v-neck yang elegan memastikan kemewahan klasik tetap hadir. Pilihan warna pun tidak asal cantik: merah sebagai energi, hijau sebagai keberlanjutan, abu-abu sebagai jejak. Di sini, batik tidak lagi sekadar motif; ia menjadi bahasa sikap.

Batik Klasik Bertemu Sentuhan Modern di Panggung GKJ

Gen Z, Keberlanjutan, dan Relevansi Batik di Panggung Mode Lokal

SMERTI digelar hanya sepekan setelah Hari Batik Nasional, dan terasa seperti komentar langsung terhadap cara generasi muda memandang batik. Menurut Marketing Director Iwan Tirta, Rindu Melati, Gen Z kini lebih menghargai proses di balik batik: apakah kain memberdayakan perempuan, bagaimana limbah diolah, dan sejauh mana materialnya ramah lingkungan. Karena itu, koleksi ini menggunakan 100 persen katun dan Tencel yang diklaim lebih ramah lingkungan, menjadikan keputusan membeli batik sebagai pilihan etis, bukan sekadar estetis. Finale yang diisi penampilan band Efek Rumah Kaca mengikat seluruh pengalaman menjadi satu perayaan budaya pop dan tradisi, membuat batik fashion show di GKJ terasa tak terlupakan. Seperti GKJ yang tetap berdiri kokoh di tengah perubahan zaman, SMERTI mengingatkan bahwa batik harus terus relevan dengan dinamika dunia agar jejaknya tidak membeku di masa lalu.

SMERTI sebagai Jejak Baru: Tradisi yang Memilih Untuk Berubah

Pada akhirnya, SMERTI bukan sekadar peragaan busana; ia adalah pernyataan sikap tentang bagaimana warisan bisa memilih untuk berubah tanpa mengkhianati asalnya. Dengan menempatkan batik di panggung teater bersejarah, Iwan Tirta menggeser batik dari ruang seremonial ke ruang dialog, mempertemukan penonton yang mungkin selama ini menganggap batik sebagai pakaian formal dengan batik yang bergerak bebas bersama musik, cahaya, dan narasi. Untuk pelaku industri mode lokal, momen ini adalah pengingat bahwa tradisi dan kontemporer tidak perlu saling meniadakan; keduanya bisa saling menguatkan ketika dikerjakan dengan kepekaan ruang dan zaman. Jejak yang ditinggalkan SMERTI di GKJ adalah undangan terbuka: jika batik bisa berdamai dengan format pertunjukan modern, maka tidak ada alasan bagi brand lain untuk tetap bermain aman. Warisan yang hidup adalah warisan yang berani bereksperimen.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!