AI dan Coding: Dari Tambahan Menjadi Nadi Sekolah Masa Depan
Acer Smart School Awards adalah ajang penghargaan nasional yang dirancang untuk mendorong sekolah dan guru mengintegrasikan kecerdasan artifisial, coding, dan teknologi digital ke dalam sistem pembelajaran, dengan menekankan bukti implementasi nyata, dampak bagi ekosistem pendidikan, serta penguatan literasi digital pendidik agar relevan dengan kebutuhan kompetensi masa depan. Acer Smart School Awards 2026 membuka lagi pertanyaan besar: apakah sekolah masih bisa mengabaikan AI dan coding sekolah ketika keduanya sudah menjadi kompetensi dasar, bukan hiasan kurikulum belaka? Dengan total hadiah lebih dari Rp600 juta, program ini jelas bukan sekadar perlombaan, tapi sinyal kuat bahwa inovasi pembelajaran teknologi mulai dinilai sebagai tolok ukur mutu institusi pendidikan, bukan bonus ekstra. Jika sekolah masih menganggap teknologi sebagai proyek sampingan, ASSA tahun ini menjadi cermin: siapa yang siap berubah, dan siapa yang tertinggal.

Mengapa Fokus AI dan Coding Tidak Bisa Ditunda Lagi
Fokus kuat ASSA pada AI dan coding bukan muncul tiba-tiba; ini respons terhadap transformasi pendidikan yang terus bergerak ke arah digital. Di Surabaya, forum Acer Edu Tech mengangkat tema lugas: "Coding dan AI Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Kebutuhan"—menandakan bahwa kemampuan berpikir komputasional dan pemahaman kecerdasan artifisial kini setara pentingnya dengan literasi baca tulis. Ratusan kepala sekolah, guru, dan pengelola institusi dari Jawa Timur hadir, bukan untuk mendengar teori manis, tetapi untuk membedah tantangan nyata: bagaimana menjadikan siswa bukan hanya pengguna, tapi pencipta solusi berbasis teknologi. Ketika teknologi sudah mengisi hampir semua aspek kehidupan, sekolah yang tidak memprioritaskan peningkatan literasi digital pendidik sedang menempatkan siswanya pada posisi lemah di masa depan. Sikap menunda hanya akan membuat jurang kompetensi makin lebar antara sekolah yang berani bereksperimen dan sekolah yang menunggu instruksi.

Kategori Kompetisi: Menguji Nyali Implementasi, Bukan Hanya Visi
ASSA 2026 sengaja menggeser penilaian dari sekadar gagasan transformasi digital menjadi bukti nyata penerapan AI dan coding sekolah. Dua kategori utama—School of The Year Award dan Guru Kreatif Award—mencerminkan dua sisi kunci ekosistem pendidikan: kebijakan institusi dan kreativitas kelas. Sekolah yang ikut School of The Year harus berani menunjukkan jejak digitalnya: inovasi apa yang sudah dijalankan, bagaimana dampaknya terhadap budaya belajar, dan sejauh mana prinsip keberlanjutan diterapkan, bukan hanya ditulis dalam visi misi. Di sisi lain, Guru Kreatif ditantang mengirimkan proyek pembelajaran berbasis AI lengkap dengan artefak nyata—produk, karya, atau objek yang dihasilkan siswa selama proses belajar. Ini adalah reformasi halus tapi penting: guru tidak dinilai dari RPP indah, melainkan dari pengalaman belajar konkret yang berhasil menghidupkan inovasi pembelajaran teknologi di kelas.
Kolaborasi dengan Intel SFI: Pelatihan yang Menentukan Bukan Sekadar Bonus
Keunggulan paling strategis dari Acer Smart School Awards 2026 bukan hanya hadiah lebih dari Rp600 juta, melainkan akses ke Acer Smart School Academy yang berkolaborasi dengan Intel Skills for Innovation pada November 2026. Di sini, guru dan kepala sekolah mendapat kesempatan mempraktikkan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, bukan sekadar mendengar ceramah tentang pentingnya digitalisasi. Program ini adalah investasi langsung pada literasi digital pendidik: materi yang membantu mereka merancang kelas berbasis AI dan coding, memilih tools yang relevan, dan mengukur dampak pembelajaran dengan cara yang lebih tajam. Menurut Fransisca Maya, "AI dan coding kini menjadi bagian dari kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Untuk itu penting bagi sekolah maupun pendidik, tidak hanya mengenal teknologi melainkan juga memahami bagaimana teknologi dapat diimplementasikan." Tanpa pelatihan semacam ini, kompetisi akan berakhir sebagai lomba gagasan; dengan pelatihan, ia menjadi pintu perubahan praktik.
Acer Innovation Arena: Laboratorium Nyata untuk Cara Berpikir Digital
Tahap akhir penilaian lewat Acer Innovation Arena menempatkan finalis dalam situasi yang mirip dunia kerja: studi kasus nyata, waktu terbatas, dan tuntutan solusi berbasis AI. Di sini, kemampuan memahami persoalan, menyusun struktur pemikiran, dan mengembangkan jawaban kolaboratif diuji—bukan hanya kemampuan presentasi indah. Pendekatan ini penting, karena sekolah masa depan bukan diukur dari jumlah perangkat di laboratorium, melainkan dari cara guru dan siswa menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah kompleks. Ketika forum edukasi di Surabaya menegaskan coding dan AI sebagai kebutuhan dasar, Acer Innovation Arena menjadi ajang pembuktian apakah sekolah mampu mengonversi wacana menjadi kompetensi. Kesimpulannya jelas: sekolah yang ingin relevan harus memposisikan AI dan coding sebagai jantung strategi, memanfaatkan kompetisi dan pelatihan ASSA untuk menguatkan budaya bereksperimen, serta menjadikan literasi digital pendidik sebagai prioritas, bukan tugas tambahan.






