Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Eco-Parenting Modern

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Eco-Parenting Modern
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Eco-Parenting Budaya Lokal: Dari Rumah ke Bumi

Eco-parenting budaya lokal adalah pola asuh yang menggabungkan nilai kearifan tradisional dengan praktik modern pendidikan lingkungan anak, sehingga setiap aktivitas pengasuhan—dari bermain, belajar, hingga berkomunitas—secara sadar diarahkan untuk membentuk karakter peduli alam, hemat sumber daya, dan peka terhadap perubahan iklim sejak usia dini. Dalam model ini, keluarga tidak lagi sekadar menjaga tumbuh kembang psikologis dan akademik, tetapi mengangkat isu keberlanjutan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas anak. Di sinilah langkah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi penting: dua dosen Fakultas Psikologi, Muhamad Salis Yuniardi dan Muhammad Fath Mashuri, mengembangkan eco-parenting berbasis kearifan lokal Jawa dan Bugis-Makassar untuk membekali orang tua menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis ekologis.

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Eco-Parenting Modern

Mengapa Keluarga Harus Bicara Iklim, Bukan Hanya Gadget

Gagasan eco-parenting ini lahir dari kegelisahan: obrolan parenting nyaris selalu berhenti pada gawai, prestasi akademik, karier, atau kesehatan fisik, sementara isu lingkungan dibiarkan di pinggir. Padahal, perubahan iklim dan krisis ekologis sudah menjadi ancaman sehari-hari yang menuntut keterlibatan aktif dari unit terkecil, yaitu keluarga. Anak-anak yang akan menghuni bumi 50 tahun ke depan membutuhkan lebih dari sekadar literasi digital; mereka membutuhkan literasi ekologis yang kuat sejak rumah. Di sinilah inisiatif UMM bersikap tegas: pengasuhan tanpa perspektif ekologis adalah pengasuhan yang tertinggal zaman. Melalui eco-parenting budaya lokal, penggabungan kearifan Jawa Timur dan Sulawesi Selatan diarahkan untuk membangun pola asuh berkelanjutan yang tidak hanya memperhatikan perkembangan anak, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai nilai dasar.

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Eco-Parenting Modern

Kearifan Bugis-Makassar: Siri’, Pacce, dan Collective Eco-Parenting

Kekuatan model ini terletak pada keberanian kembali ke akar budaya. Salah satu pijakan riset dilakukan di komunitas adat Kajang di Bulukumba, Sulawesi Selatan, sejak akhir 2024 hingga awal 2026 melalui pengamatan langsung terhadap pewarisan nilai menjaga hutan dan lingkungan. Temuan pentingnya jelas: nilai ekologis tidak hanya diwariskan oleh keluarga inti, tetapi dijaga bersama oleh aturan adat, sekolah, orang tua, dan komunitas, membentuk apa yang disebut sebagai collective eco-parenting. Kearifan Bugis-Makassar memberi bahasa moralnya: siri’ dan pacce diinterpretasikan sebagai rasa malu bila tidak menjaga lingkungan, dan dorongan untuk saling peduli serta mengingatkan saat alam dirusak. Anak tidak hanya diberi ceramah, tetapi diajak masuk hutan, melihat langsung pohon yang tak boleh ditebang, dan merasakan learning by doing dalam pendidikan lingkungan anak.

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Eco-Parenting Modern

Tradisi Jawa Parenting: Memayu Hayuning Bawana di Era Krisis Iklim

Di Jawa, eco-parenting tidak dipaksakan sebagai ide baru; ia ditenun dari tradisi yang sudah lama hidup. Nilai Memayu Hayuning Bawana—membuat dunia lebih indah dan menjaga keselamatan serta keharmonisan alam—menjadi kerangka moral untuk menyesuaikan hasil riset di Kajang dengan konteks Jawa. Tradisi Jawa parenting yang dijadikan rujukan antara lain bersih desa, ritual menjaga kesucian sumber air, hingga praktik petani kuno yang menaburkan parutan kelapa ke sawah sebagai pupuk alami. Semua itu diangkat ke dalam pola asuh berkelanjutan: anak diajak ikut kegiatan bersih desa, mengenal sumber air sebagai ruang sakral yang harus dijaga, dan memahami pangan sebagai hasil relasi sehat dengan tanah. Eco-parenting budaya lokal di sini bukan nostalgia, tetapi strategi sadar untuk menjadikan nilai lama sebagai bahasa baru pendidikan lingkungan anak.

Dari Hibah Inggris ke Modul Pengasuhan Berkelanjutan

Inisiatif dua dosen Fakultas Psikologi UMM ini tidak berhenti sebagai wacana; mereka meraih hibah penelitian internasional dari Pemerintah Britania Raya untuk mengembangkan eco-parenting berbasis kearifan Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Setiap tahun hanya sekitar 15 penerima yang terpilih secara global, menjadikan proyek ini bagian dari percakapan dunia tentang parenting masa depan. Sebelumnya, tim telah memperoleh dukungan penelitian dari lembaga nasional untuk mengeksplorasi model eco-parenting di Kajang sebagai fondasi. Program eco-parenting budaya lokal ini akan mulai diimplementasikan pada November 2026 dan ditargetkan selesai pada Juni 2027. Harapannya jelas: hasil pengembangan menjadi modul atau buku eco-parenting yang bisa dipakai luas, termasuk sebagai bahan kebijakan pendidikan keluarga. Tujuan akhirnya bukan sekadar anak tahu mana perilaku ramah lingkungan, tetapi terbentuknya ecological personhood—kepribadian ekologis yang menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian diri.

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Eco-Parenting Modern

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!