Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengajarkan Kepedulian Lingkungan Melalui Eco-Parenting Kearifan Lokal

Mengajarkan Kepedulian Lingkungan Melalui Eco-Parenting Kearifan Lokal
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Eco-Parenting Kearifan Lokal: Mengapa Keluarga Harus Jadi Titik Awal

Eco-parenting kearifan lokal adalah pola pengasuhan yang sengaja menggabungkan nilai budaya setempat dengan praktik ramah lingkungan modern untuk menumbuhkan kesadaran ekologis anak sejak rumah, sehingga kepedulian terhadap alam menjadi bagian dari karakter, bukan sekadar pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Program eco-parenting yang dikembangkan di Universitas Muhammadiyah Malang berangkat dari kegelisahan sederhana: parenting hampir selalu bicara soal gawai, prestasi, dan kesehatan, sementara isu perubahan iklim dan keberlanjutan nyaris absen dari percakapan keluarga. Ini bukan sekadar kekosongan tema, tapi celah serius dalam pendidikan lingkungan anak. Dengan menempatkan keluarga sebagai titik awal kesadaran lingkungan keluarga, gagasan ini berani mengatakan bahwa masa depan bumi tidak bisa diserahkan hanya pada kurikulum sekolah atau kampanye pemerintah; pola asuh di rumah adalah medan utamanya.

Dari Kajang ke Jawa dan Bugis-Makassar: Bukti Riset, Bukan Sekadar Romantisme Tradisi

Yang menarik, eco-parenting berbasis budaya ini lahir dari riset lapangan, bukan nostalgia romantik terhadap masa lalu. Tim psikologi UMM meneliti masyarakat adat Kajang di Bulukumba sejak akhir 2024 hingga awal 2026, mengamati bagaimana pengetahuan menjaga hutan diturunkan dari orang tua ke anak melalui pengalaman sehari-hari, bukan nasihat abstrak. Anak diajak masuk ke hutan, melihat pohon yang tidak boleh ditebang, dan memahami konsekuensi ekologis dengan contoh konkret. Temuan pentingnya: nilai menjaga lingkungan tidak hanya mengalir dari keluarga inti, tetapi diperkuat oleh aturan adat, sekolah, dan komunitas, yang kemudian dirumuskan sebagai collective eco-parenting. Artinya, eco-parenting kearifan lokal menolak pola asuh individualistik; ia menuntut jaringan budaya dan sosial ikut mengawal. Menyebut ini “tradisional” saja meremehkan, karena yang muncul sebenarnya adalah model pendidikan lingkungan anak yang teruji di ruang hidup nyata.

Mengajarkan Kepedulian Lingkungan Melalui Eco-Parenting Kearifan Lokal

Memayu Hayuning Bawana, Siri’ dan Pacce: Nilai Lama untuk Krisis Iklim Baru

Keberanian utama program ini adalah mengangkat nilai lama sebagai jawaban atas krisis iklim baru. Di Jawa, konsep Memayu Hayuning Bawana—mewujudkan dan menjaga keindahan serta keselamatan dunia—diterjemahkan menjadi ajakan menjaga hutan dan sumber air sebagai laku keseharian, bukan sekadar simbol ritual. Di Bugis-Makassar, siri’ dan pacce dipakai sebagai fondasi: malu jika tidak mampu menjaga lingkungan sekitar, dan terdorong untuk saling mengingatkan ketika alam dirusak. Ini parenting berbasis budaya yang tidak berhenti di slogan; nilai-nilai tersebut dikontekstualisasikan dalam praktik: orang tua menjadi contoh nyata, anak ikut aksi bersih lingkungan, mengenali tumbuhan berguna, dan belajar bahwa merusak alam adalah pelanggaran terhadap martabat bersama. Pendekatan seperti ini menjadikan kesadaran lingkungan keluarga lebih mengakar, karena bertumpu pada identitas yang telah lama hidup dalam komunitas.

Mengajarkan Kepedulian Lingkungan Melalui Eco-Parenting Kearifan Lokal

Melampaui Eco-Parenting Impor: Mengapa Pendekatan Lokal Lebih Mudah Diterapkan

Disebut eco-parenting bukan berarti menelan mentah teori pengasuhan Barat. Tim UMM secara tegas menolak sekadar mengadopsi model asing yang sering kali terasa jauh dari kenyataan hidup orang tua di sini. Mereka memilih menggali tradisi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan—termasuk praktik bersih desa dan ritual penjagaan sumber air—lalu menggabungkannya dengan pengetahuan lingkungan kontemporer. Menurut Fath, pendekatan berbasis budaya membuat pesan lingkungan lebih mudah diterima karena memakai bahasa nilai yang sudah akrab sehari-hari. Ini poin penting: program eco-parenting kearifan lokal tidak menambah beban baru bagi orang tua, melainkan memulihkan logika pengasuhan yang pernah kuat tetapi terpinggirkan. Saat nilai menjaga alam hadir dalam adat, sekolah, keluarga, hingga komunitas, collective eco-parenting muncul sebagai ekosistem pendidikan lingkungan anak yang relevan—lebih membumi daripada panduan parenting impor yang sering berhenti di wacana.

Hibah Inggris dan Agenda Ke Depan: Saat Dunia Mengakui Nilai Lokal

Pengakuan global terhadap gagasan ini bukan basa-basi. Konsep eco-parenting yang memadukan kearifan Jawa dan Bugis-Makassar berhasil meraih hibah internasional dari Pemerintah Britania Raya melalui British Council, dengan seleksi yang hanya meloloskan sekitar 15 penerima setiap tahun di tingkat global. Program pengabdian masyarakatnya akan dimulai setelah penandatanganan kontrak Oktober, lalu diimplementasikan mulai November 2026 dan ditargetkan rampung pada Juni 2027. Salis menegaskan, tujuan utamanya bukan sekadar menambah pengetahuan orang tua tentang lingkungan, tetapi menjadikan mereka teladan hidup sehingga kepedulian menjadi bagian kepribadian anak. Hasilnya diharapkan lahir sebagai modul atau buku eco-parenting yang bisa dipakai luas, termasuk untuk merumuskan kebijakan pendidikan keluarga. Jika dunia sudah memberi panggung, kegagalan terbesar kita nanti bukan kurang teori, tetapi enggan menjadikan nilai sendiri sebagai dasar mengasuh generasi yang akan menghuni bumi 50 tahun ke depan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!