Eco-Parenting Anak: Dimulai dari Rumah, Dikuatkan Kearifan Lokal
Eco-parenting anak adalah pola asuh ramah lingkungan yang menggabungkan kearifan lokal pendidikan dengan literasi ekologis modern untuk menanamkan kepedulian lingkungan anak melalui kebiasaan keluarga sehari-hari yang konsisten dan teladan nyata orang tua sejak usia dini. Universitas Muhammadiyah Malang mengembangkan konsep eco-parenting dengan menggali kearifan lokal Jawa dan Bugis-Makassar sebagai pendekatan untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dari keluarga. Ini bukan program elitis; ini jawaban praktis atas perubahan iklim yang dampaknya sudah menyentuh dapur, halaman, dan masa depan anak kita. Riset ini bahkan memperoleh hibah internasional dari Pemerintah Britania Raya—sebuah pengakuan bahwa masa depan bumi ditentukan dari cara keluarga membesarkan anak hari ini. Jika parenting selama ini sibuk pada gawai dan prestasi, eco-parenting menambahkan satu pertanyaan kunci: apakah anak diajari mencintai alam yang ia tinggali?

Mengapa Harus Berbasis Kearifan Lokal, Bukan Hanya Teori Barat?
Eco-parenting ini tidak sekadar mengadopsi teori pengasuhan dari negara-negara Barat; para peneliti menggali nilai-nilai dari tradisi dan kearifan lokal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Konsep pengasuhan ramah lingkungan tersebut dikembangkan dengan memadukan kearifan lokal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan untuk membekali orang tua menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis ekologis. Salis menegaskan, literasi lingkungan harus menjadi kesadaran mendasar bagi orang tua karena anak-anak kitalah yang akan menghuni bumi ini selama 50 tahun ke depan. Program dimulai dengan menggali nilai-nilai lokal dari budaya Jawa dan Bugis-Makassar yang berkaitan dengan alam, lingkungan dan kehidupan masyarakat. Pendekatan berbasis budaya ini membuat pesan lingkungan tidak terasa sebagai doktrin asing, melainkan “pulangan” pada nilai yang sudah lama hidup di tengah keluarga. Di Jawa, misalnya, ada Memayu Hayuning Bawana; di Bugis-Makassar ada siri’ dan pacce yang dapat dikontekstualisasikan sebagai rasa malu dan kepedulian bersama dalam menjaga lingkungan.

Belajar dari Kajang: Collective Eco-Parenting sebagai Tanggung Jawab Bersama
Akar kuat konsep ini datang dari penelitian tentang masyarakat adat Kajang di Bulukumba. Penelitian menemukan bahwa nilai menjaga lingkungan tidak hanya diwariskan melalui keluarga; aturan adat, sekolah, orang tua dan komunitas ikut berperan membuat nilai tersebut tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak diajak langsung ke hutan, diperlihatkan bahwa hutan ini tidak boleh ditebang dan konsekuensi bencana jika dilanggar, sehingga proses pewarisan berlangsung melalui pengalaman sehari-hari atau learning by doing. Dari sini lahir gagasan collective eco-parenting: pembentukan kepedulian lingkungan anak tidak cukup dibebankan pada keluarga inti, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh komunitas. Ini kritik halus pada model parenting urban yang serba individualis. Tanpa dukungan adat, sekolah, dan lingkungan sosial, pesan “jangan buang sampah sembarangan” akan kalah oleh iklan dan arus konsumsi yang lebih bising.
Nilai Jawa dan Bugis-Makassar: Menyulam Kepedulian Lingkungan Anak
Setelah kajian di Kajang, tim UMM melihat bagaimana pewarisan nilai lingkungan bisa diterapkan di konteks lain. Nilai dasarnya sama: kebersamaan dan kepedulian terhadap keberlangsungan alam, tetapi bentuk dan cara penyampaian harus menyesuaikan budaya. Di Jawa, konsep Memayu Hayuning Bawana mengajak keluarga menjaga keselamatan dan keharmonisan alam semesta. Di Bugis-Makassar, siri’ dapat dimaknai sebagai rasa malu jika tidak menjaga lingkungan sekitar, sedangkan pacce menjadi dorongan untuk saling peduli dan mengingatkan ketika melihat lingkungan tidak terjaga. Penggabungan kearifan lokal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pola asuh ramah lingkungan yang tidak hanya memperhatikan perkembangan anak, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. Inilah kearifan lokal pendidikan yang relevan: bukan nostalgia budaya, melainkan kompas moral praktis untuk menghadapi krisis ekologis hari ini.
Dari Konsep ke Praktik: Rutinitas Eco-Parenting di Rumah
Konsep eco-parenting yang dikembangkan UMM bekerja dengan merumuskan nilai-nilai lokal menjadi materi pelatihan eco-parenting, lalu menguji pendekatan tersebut melalui piloting di sekolah. Eco-parenting yang dikembangkan tidak sekadar memberikan pengetahuan lingkungan kepada orang tua; orang tua diharapkan menjadi contoh bagi anak dalam membangun perilaku yang lebih peduli terhadap alam. Dalam penerapannya, orang tua, sekolah dan komunitas dilibatkan secara bersama-sama, sehingga kepedulian lingkungan anak dibentuk sebagai bagian dari kepribadian, bukan tugas PR sesaat. Secara praktis, ini berarti: mengajak anak memilah sampah, mengenalkan sumber air keluarga, menghubungkan siri’ dengan malu membuang sampah sembarangan, atau menghidupkan kembali tradisi gotong royong layaknya bersih desa. Eco-parenting anak bukan agenda tambahan; ia disisipkan ke rutinitas—cara keluarga memasak, berbelanja, berdoa, hingga bermain—agar cinta alam terasa wajar dan menyatu dengan hidup.






