Dari pengguna menjadi pencipta
Pelatihan keterampilan digital bagi pemuda masjid adalah pembekalan praktis agar generasi muda mampu membuat karya dengan teknologi, bukan hanya menggunakannya untuk mengonsumsi informasi. Di Pamulang, Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bekerja sama dengan Gerakan Pejuang Subuh (GPS) mengadakan program ini dalam tiga kali pertemuan di sejumlah masjid. Kepala Diskominfo Tangsel, Tb. Asep Nurdin, menyatakan pada Sabtu, 24 Oktober, bahwa pelatihan ditujukan untuk mendorong pemuda memanfaatkan teknologi secara produktif. Arah tersebut penting: di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menghasilkan sesuatu sendiri memberi anak muda lebih banyak pilihan daripada sekadar menjadi penonton. Pelatihan coding pemuda ini juga menempatkan masjid sebagai tempat yang dekat dengan komunitas, sehingga keterampilan baru berpeluang menjangkau lingkungan sosial peserta.

Coding dan konten sebagai bekal nyata
Materi program mencakup pemrograman komputer atau coding serta produksi konten digital kreatif. Kombinasi ini lebih berguna daripada pembekalan yang hanya mengenalkan perangkat: coding melatih peserta memahami cara teknologi dibangun, sementara produksi konten membantu mereka menyampaikan gagasan kepada orang lain. Menurut Asep, keterampilan itu dapat digunakan untuk mengembangkan potensi diri dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Bagi peserta, manfaatnya bisa hadir dalam bentuk kemampuan mencoba proyek sederhana, mengolah pesan, atau menyebarkan informasi positif di ruang daring. Namun, tiga pertemuan sebaiknya dipandang sebagai pijakan, bukan garis akhir. Keterampilan digital pemuda perlu diasah lewat praktik lanjutan dan kesempatan menerapkan materi. Nilai program akan lebih terasa bila peserta pulang dengan dorongan untuk terus mencoba, bukan sekadar catatan pelatihan.
Ruang digital sehat perlu keterlibatan anak muda
Program ini memiliki sasaran yang lebih luas daripada penguasaan keterampilan teknis. Pemkot Tangsel menilai keterlibatan aktif pemuda masjid dalam ekosistem teknologi penting untuk menjaga ruang digital tetap sehat dan konstruktif. Gagasan itu masuk akal: ruang daring dibentuk oleh apa yang dibuat, dibagikan, dan didukung penggunanya. Pemuda yang mampu memproduksi konten dapat ikut mengisi ruang tersebut dengan informasi yang bermanfaat, alih-alih membiarkannya dipenuhi pesan tanpa konteks atau nilai. Karena itu, konten digital kreatif bukan hanya soal menarik perhatian; tanggung jawab atas isi dan dampaknya juga perlu menjadi bagian dari proses belajar. Pelatihan memberi bekal awal, tetapi kebiasaan memeriksa informasi dan mempertimbangkan audiens menentukan apakah karya benar-benar membawa dampak positif.
Masjid sebagai pusat pemberdayaan
Pelatihan di sejumlah masjid kawasan Pamulang diharapkan memberi efek berganda bagi lingkungan sekitar. Harapan itu menempatkan masjid bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga ruang pemberdayaan umat berbasis teknologi. Pemuda masjid Tangsel dapat menjadi penghubung antara pengetahuan baru dan kebutuhan komunitas: berbagi keterampilan, membantu menyampaikan informasi kegiatan, atau mengembangkan karya yang berguna bagi warga. Namun, efek berganda tidak terjadi otomatis. Kelanjutannya bergantung pada ruang untuk berlatih, pendampingan, dan kesempatan bagi peserta untuk memakai kemampuan mereka setelah tiga pertemuan. Kesimpulannya, program ini merupakan langkah awal yang tepat karena menggabungkan akses belajar dengan tujuan sosial. Ukuran keberhasilannya kelak bukan hanya peserta yang mengenal coding atau produksi konten, melainkan kontribusi mereka dalam membangun ekosistem digital yang lebih sehat dan produktif.






