Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Masjid Sebagai Ruang Belajar: Dakwah, Literasi, dan Tumbuh Kembang Anak

Masjid Sebagai Ruang Belajar: Dakwah, Literasi, dan Tumbuh Kembang Anak
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Masjid Ruang Belajar Anak: Dakwah yang Dimulai dari Membaca

Masjid ruang belajar anak adalah pemanfaatan ruang ibadah sebagai pusat pembelajaran komunitas yang menyediakan pendampingan literasi anak, bimbingan akademik, dan pembinaan karakter berbasis nilai spiritual sehingga dakwah melalui pendidikan hadir dalam kehidupan sehari-hari mereka di luar sekolah formal.

Kisah Putri Milenia Gusdian di sebuah pesantren di Singkut mengingatkan bahwa dakwah paling menyentuh kerap lahir dari hal yang tampak sepele: menemani anak belajar membaca. Ia datang sebagai pendakwah dengan rencana materi yang rapi, namun terhenti ketika santri kelas VII mengaku belum mampu membaca dengan baik meski sudah SMP. Dari situ, definisi dakwah runtuh dan dibangun ulang: bukan ceramah satu arah, melainkan kehadiran yang mau melihat luka paling dasar—ketertinggalan baca tulis. Pendampingan literasi anak berubah menjadi pintu masuk dakwah melalui pendidikan. Masjid dan pesantren, alih-alih sekadar tempat mengaji, menjadi ruang darurat untuk mengurai persoalan pendidikan yang tak selesai di bangku sekolah.

Pendampingan Literasi: Duduk, Mendengar, dan Membaca Bersama

Pendampingan literasi anak di ruang keagamaan sering kali berawal dari gestur sederhana: duduk di samping anak, bukan berdiri di depan kelas. Putri dan Rif’atus Syamsiyah memilih mendampingi seorang siswa kelas III yang belum lancar membaca, tanpa metode rumit; mereka sekadar duduk, membantu mengenali bacaan, dan memberi perhatian sepanjang proses belajar. Dari luar, ini terlihat seperti pelajaran biasa. Namun, di dalamnya, ada pengakuan bahwa kebutuhan anak bukan modul canggih, melainkan sosok yang mau hadir.

Pengalaman mereka mematahkan anggapan bahwa mengajar harus menunggu status “ahli”. Seorang pengasuh mengingatkan, apa pun ilmu yang dimiliki harus disampaikan kepada yang membutuhkan. Inilah inti masjid ruang belajar anak: membuka ruang bagi siapa pun yang bersedia menemani, bukan hanya mereka yang berlabel guru profesional. Pendampingan literasi di sini bukan proyek besar, melainkan dakwah sehari-hari yang mengajarkan cara memegang buku, merawat kitab, dan pelan-pelan membaca dunia.

Masjid Sebagai Pusat Pembelajaran Komunitas untuk Lebih dari 100 Anak

Jika di Singkut dakwah bermula dari satu anak yang kesulitan membaca, di tempat lain masjid menjelma pusat pembelajaran komunitas bagi lebih dari 100 anak. Melalui program Bimbingan Belajar REMILA, masjid yang semula identik dengan kegiatan keagamaan di akhir pekan kini dipenuhi anak-anak yang datang membawa buku dan alat tulis untuk belajar Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, hingga Bahasa Inggris. Di sudut masjid, tawa dan games menyatu dengan lembar-lembar soal; ruang ibadah berubah fungsi menjadi ruang tumbuh.

Program ini telah berjalan sekitar setengah tahun dan kini diikuti lebih dari 100 siswa dengan dukungan lebih dari lima pengajar. Kutipan yang patut dicatat: “Masjid yang biasanya hanya dibayangkan sebagai tempat beribadah, kini juga menjadi ruang untuk belajar dan bertumbuh.” Anak-anak menggunakan sesi ini untuk mengerjakan tugas sekolah, mengejar materi yang tertinggal, hingga mempersiapkan ulangan dan ujian. Dengan biaya sekitar Rp10.000–Rp15.000 per pertemuan, akses bimbingan belajar tambahan menjadi lebih ramah bagi keluarga. Masjid bukan hanya simbol religius, melainkan infrastruktur sosial yang menutup celah ketimpangan pendidikan formal.

Mengisi Celah Pendidikan Formal: Akses, Empati, dan Kelas Intensif

Pengalaman di Singkut menyingkap fakta yang tidak nyaman: keterbatasan pendidikan tidak monopoli kawasan yang jauh dari pusat; di wilayah barat pun, anak SMP yang belum lancar membaca masih mudah ditemukan. Kondisi keluarga, lingkungan, dan minimnya pendampingan berdampak langsung pada kemampuan belajar anak. Di sinilah ruang keagamaan memegang peran strategis. Masjid dan pesantren berada dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, sehingga lebih mudah menjangkau anak-anak yang tersisih dari perhatian sekolah formal.

REMILA menjawab kebutuhan beragam itu dengan kelas intensif tambahan pada Rabu, Kamis, dan Jumat, dimulai pukul 18.30 dengan biaya Rp100.000 per bulan. Ini bukan kelas bimbel yang dingin dan penuh tekanan; para kakak pengajar sengaja menyelipkan games agar suasana cair dan manusiawi. Anak-anak bisa berdiskusi tentang tugas sekolah, mengulang materi sulit, dan mempersiapkan ujian tanpa merasa sedang “diadili” oleh nilai. Masjid ruang belajar anak dalam bentuk ini membuktikan bahwa dakwah melalui pendidikan bukan teori, melainkan kebijakan praksis: menyediakan waktu, ruang, dan empati yang tak selalu ada di ruang kelas formal.

Belajar Holistik: Menyatukan Iman, Akademik, dan Karakter

Masjid sebagai pusat pembelajaran komunitas menghadirkan model pendidikan yang jarang kita miliki: holistik, membumi, dan dekat dengan kehidupan anak. Di satu sisi, ada nilai spiritual yang dihidupkan melalui dakwah yang tidak gegap gempita, tetapi hadir dalam percakapan, mendengarkan persoalan, menemani anak belajar membaca, dan mengajarkan cara menghargai sarana belajar. Di sisi lain, ada kemampuan akademik yang diperkuat melalui bimbingan pelajaran sekolah, tugas, dan persiapan ujian.

Kelas-kelas di masjid REMILA dirancang tidak penuh tekanan; games disisipkan agar anak merasa belajar adalah aktivitas yang wajar dan menyenangkan. Sementara itu, di Singkut, kehadiran seseorang yang sekadar duduk membersamai proses belajar diakui sebagai sesuatu yang amat berarti. Kombinasi ini membentuk lingkungan belajar yang tidak memisahkan iman dan ilmu, ibadah dan literasi. Di tengah anak yang bercita-cita besar namun hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar, ajakan untuk menghadirkan akses literasi melalui inisiatif seperti Ekspedisi Kata ke Nyata menjadi seruan moral: pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama, dan masjid telah membuktikan diri sebagai salah satu rumah terkuat untuk menanggungnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!