Penjualan melonjak, target global makin dekat
Pasar mobil listrik adalah arena persaingan kendaraan bertenaga listrik yang diukur antara lain melalui permintaan konsumen, penjualan, dan kemampuan industri memasok kendaraan. Pertumbuhannya di Indonesia kini cukup cepat untuk mengubah posisi negara ini dalam peta otomotif global. Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional, Septian Hario Seto, menyebut penjualan mobil listrik pada 2025 telah melampaui 100.000 unit dan menempatkan Indonesia di kelompok 20 pasar terbesar dunia.
Laju pada 2026 lebih mengesankan: hingga Agustus–September, penjualan nasional sudah melampaui total sepanjang tahun sebelumnya. Jika momentum bertahan sampai akhir tahun, Indonesia berpeluang masuk 15 besar pasar mobil listrik dunia. Itu bukan sekadar peringkat untuk dibanggakan. Pertumbuhan ini menandakan konsumen mulai memberi ruang nyata bagi kendaraan listrik, sekaligus menciptakan alasan kuat bagi produsen untuk menanamkan modal. Namun, kenaikan penjualan belum otomatis berarti industri dalam negeri ikut maju. Pasar yang tumbuh cepat bisa tetap menjadi panggung bagi kendaraan impor jika kapasitas produksi lokal tidak berkembang seiring permintaan.
Peluang pasar harus menjadi peluang industri
Pemerintah menyatakan tidak ingin Indonesia hanya menjadi tujuan penjualan mobil listrik buatan negara lain. Instrumen Tingkat Komponen Dalam Negeri diarahkan untuk mendorong produsen membangun fasilitas produksi dan memperluas penggunaan komponen lokal. Arah ini tepat: pasar besar memberi daya tarik investasi, tetapi manfaat jangka panjangnya akan terbatas jika perakitan, rantai pasok, dan keahlian manufaktur tetap berada di luar negeri.
Tahapan kebijakan memberi industri target yang lebih jelas. Pada 2027, penggunaan battery pack lokal ditargetkan mencapai 60 persen; persyaratan untuk battery cell kemudian diarahkan meningkat hingga 80 persen pada 2029. Target tersebut dapat mendorong kemampuan pemasok lokal, asalkan disertai kepastian aturan, masa persiapan yang masuk akal, dan dukungan agar mutu komponen memenuhi standar. Tanpa itu, kewajiban kandungan lokal berisiko menjadi angka administratif, bukan tanda bahwa kapasitas teknologi dan produksi benar-benar tumbuh.
Pelajaran dari proyek Dahlan Iskan
Kegagalan proyek mobil listrik yang dirintis Dahlan Iskan pada 2011–2014 semestinya dibaca sebagai peringatan, bukan alasan untuk menyerah. Prototipe seperti Tucuxi, Selo, dan Gendhis menarik perhatian, tetapi tidak berkembang menjadi produksi massal. Hambatannya melampaui kemampuan merancang kendaraan: perizinan belum siap mengakomodasi inovasi, koordinasi antarlembaga tersendat, dan tata kelola pengadaan juga menjadi persoalan.
Risiko teknis pun punya konsekuensi langsung bagi pengguna. Tucuxi mengalami kecelakaan saat diuji Dahlan di Magetan pada Januari 2013, setelah masalah pengereman di jalan menurun. Peristiwa itu mengingatkan bahwa kendaraan baru harus melewati pengujian sistem pengereman, pengendalian, dan keselamatan secara memadai—bukan hanya menarik perhatian lewat desain atau demonstrasi. Regulasi mobil listrik yang jelas dan konsisten diperlukan agar keselamatan terjaga sekaligus inovasi memiliki jalur yang dapat dipahami menuju penggunaan dan komersialisasi.
Dari prototipe menuju produksi yang berkelanjutan
Pengalaman proyek terdahulu menegaskan jarak antara membuat prototipe dan membangun industri otomotif. Produksi mobil listrik massal memerlukan pembiayaan berkelanjutan, rantai pasok komponen, fasilitas pabrik, standar mutu, layanan purnajual, dan pasar yang cukup. Karena itu, target masuk 15 besar dunia akan bermakna hanya jika pertumbuhan penjualan diikuti rencana industri yang bisa dijalankan, bukan sekadar peluncuran model atau pengumuman investasi.
Pemerintah dan pelaku industri perlu menyambungkan tahapan riset, pengujian, perizinan, penyempurnaan produk, dan pembangunan fasilitas produksi. Aturan yang stabil akan membantu produsen merencanakan investasi, sementara pengawasan keselamatan dan pengadaan yang transparan menjaga kepercayaan publik. Dengan penjualan yang sudah melampaui capaian tahun sebelumnya sebelum 2026 berakhir, peluangnya jelas. Tantangannya adalah memastikan pasar yang sedang tumbuh tidak berhenti sebagai angka penjualan: kesimpulannya, keberhasilan harus diukur dari kemampuan membangun produksi lokal yang aman, kompetitif, dan berkelanjutan.






