Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pariwisata Olahraga dan MotoGP: Mesin Baru Ekonomi Lokal

Pariwisata Olahraga dan MotoGP: Mesin Baru Ekonomi Lokal
Minat|Asia Tenggara

Pariwisata Olahraga: Dari Hobi Menjadi Pilar Ekonomi Pengalaman

Pariwisata olahraga Indonesia adalah aktivitas perjalanan yang tujuan utamanya menonton atau berpartisipasi dalam acara olahraga, yang memicu belanja wisata, investasi infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan citra destinasi sehingga menjadikannya salah satu pilar ekonomi berbasis pengalaman yang tumbuh cepat. Kuncinya: pariwisata olahraga bukan sekadar mendatangkan penonton, melainkan mengubah event menjadi mesin ekonomi. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut potensi ekonomi pariwisata olahraga Indonesia sudah mencapai Rp39,5 triliun, meski baru sekitar 0,5% dari nilai sport tourism global. Angka ini menunjukkan dua hal sekaligus: kontribusi nyata sudah ada, tetapi ruang ekspansi masih sangat lebar. Dalam peluncuran buku Dampak MotoGP Mandalika dan kickoff Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga di kantor Kementerian PPN/Bappenas, pemerintah terang‑terangan memosisikan sport tourism sebagai instrumen strategis ekonomi berbasis pengalaman, bukan pelengkap hiburan. Ini langkah politik ekonomi yang tegas: olahraga harus dihitung dalam PDB, bukan hanya di papan skor.

Dampak Ekonomi MotoGP Mandalika: Multiplier Effect yang Nyata

Jika pariwisata olahraga adalah kerangka besar, MotoGP Mandalika adalah studi kasus paling konkret tentang bagaimana event dunia menggerakkan ekonomi lokal. Kajian resmi memperkirakan dampak ekonomi Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 mencapai sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun, mencakup dampak langsung, tidak langsung, dan lanjutan. Dalam studi lain, dampak ekonomi nasional bahkan diperkirakan sekitar Rp4,96 triliun dengan lebih dari 600 UMKM terlibat dan lebih dari 3.000 tenaga kerja terserap. Angka‑angka ini bukan sekadar statistik; ia mencerminkan multiplier effect ke sektor riil. Manfaat dirasakan pariwisata, transportasi, akomodasi, ekonomi kreatif, hingga UMKM di Nusa Tenggara Barat. Dari hotel yang penuh, penyedia transportasi yang kebanjiran pesanan, sampai warung dan tenant lokal yang omzetnya melonjak, MotoGP mengalirkan uang ke banyak kantong, bukan hanya ke penyelenggara. Kita tidak sedang membicarakan acara musiman tanpa jejak, melainkan sebuah mesin ekonomi yang memutar roda usaha kecil dan menengah. Itu sebabnya MotoGP Mandalika layak diperlakukan sebagai investasi ekonomi, bukan sekadar tontonan motor kencang.

Branding Destinasi dan Strategi Nasional: Olahraga Sebagai Etalase

MotoGP Mandalika memperlihatkan dengan jelas bagaimana wisata olahraga Mandalika menjadi etalase destinasi dan negara di panggung global. Eksposur media internasional dari ajang ini menghasilkan nilai promosi setara ratusan juta euro dalam bentuk Advertising Value Equivalency, mencerminkan nilai promosi Mandalika dan negara di mata dunia. Lebih dari 1.800 responden dalam survei penyelenggaraan mencatat skor pengalaman penonton atau brand equity mencapai 5,07 dari skala 6. Ini bukan sekadar ramai, tetapi berkualitas. Di titik inilah pemerintah memandang pariwisata olahraga Indonesia sebagai alat branding sekaligus akselerasi ekonomi. Kajian Bappenas menempatkan sport tourism sebagai instrumen strategis penguatan ekonomi berbasis pengalaman, termasuk dampak ekonomi, penciptaan lapangan kerja, UMKM, investasi, dan branding. MotoGP Mandalika bahkan dijadikan dasar kebijakan untuk menyusun Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional dan mendukung target pembangunan dalam RPJMN 2025–2029. Dengan langkah seperti peluncuran website Sport In Indonesia yang menghubungkan informasi event olahraga dengan layanan keimigrasian dan tiket, pemerintah secara eksplisit mengubah jalur birokrasi menjadi jalur promosi dan penjualan. Olahraga dijadikan pintu masuk wisatawan, bukan hanya tayangan televisi.

Akselerasi Ekonomi Lokal: Dari Infrastruktur ke Kehidupan Sehari‑hari

Nilai paling penting dari pariwisata olahraga muncul ketika event selesai dan kawasan tetap bergerak. MotoGP Mandalika disebut mendukung terciptanya puluhan ribu kesempatan kerja pada tahap persiapan dan penyelenggaraan, dengan manfaat yang dirasakan masyarakat lokal melalui pariwisata, UMKM, transportasi, akomodasi, dan ekonomi kreatif. Tingkat kepuasan tenaga kerja dan relawan mencapai 5,51 dari skala 6, sementara pelaku UMKM dan tenant berada di angka 5,23. Artinya, akselerasi ekonomi lokal tidak berhenti di jumlah penonton, melainkan menyentuh kualitas penghidupan orang‑orang yang bekerja di sekeliling event. Investasi infrastruktur yang menyertai event olahraga besar juga meninggalkan jejak jangka panjang: dari peningkatan fasilitas olahraga, jaringan jalan, akomodasi, hingga layanan kesehatan dan pengamanan. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di sekitar Mandalika ikut mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur dan kegiatan pendukung. Bagi pengelola kawasan, MotoGP dipandang sebagai katalis pengembangan kawasan secara berkelanjutan, menggeser logika dari event‑based economy ke event‑led development. Inilah poin yang sering dilupakan: stadion, hotel, dan ikon kota yang lahir dari event olahraga tidak menghilang ketika sorotan kamera padam; mereka menjadi bagian dari keseharian warga dan modal jangka panjang bagi ekonomi lokal.

Mengunci Momentum: Saatnya Mengintegrasikan Ekosistem Sport Tourism

Meski angka Rp39,5 triliun dari pariwisata olahraga Indonesia terlihat mengesankan, Erick Thohir mengingatkan bahwa itu baru 0,5% dari potensi global sport tourism yang mencapai Rp9.500 triliun. Dengan kata lain, kita baru menyentuh kulit peluang. Tantangan terbesar bukan minimnya event, melainkan ekosistem industri olahraga yang masih terfragmentasi: data tercerai, produk dan jasa tidak terhubung, dan pemanfaatan infrastruktur belum maksimal. Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional yang sedang disusun Bappenas diarahkan untuk membangun ekosistem berkelanjutan melalui koordinasi pusat‑daerah, pembagian peran pemangku kepentingan, dan penguatan pemantauan serta evaluasi. Tanpa integrasi ini, dampak ekonomi MotoGP dan event besar lain akan berhenti menjadi lonjakan musiman, bukan kurva naik jangka panjang. Kesimpulannya tegas: sport tourism harus diperlakukan sebagai sektor strategis dengan kebijakan terintegrasi, bukan hanya agenda proyek. MotoGP Mandalika sudah membuktikan bahwa wisata olahraga mampu mengakselerasi ekonomi lokal dan mengangkat citra destinasi; tugas berikutnya adalah memastikan momentum ini terkunci dalam sistem, sehingga setiap event besar menjadi langkah lain menuju ekonomi berbasis pengalaman yang inklusif dan berkelanjutan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!