Perubahan peran menuntut pemahaman baru
Peran bek multiposisi adalah tanggung jawab pemain bertahan yang juga mampu bergerak ke area tengah untuk membantu aliran bola dan membangun serangan sesuai kebutuhan taktik tim. Bagi Rizky Ridho, kemampuan ini kini berarti menjalankan instruksi Shin Tae-yong bukan hanya dengan menjaga pertahanan, tetapi juga dengan membaca ruang dan menghubungkan antarlini. Perubahan tersebut mengikuti penyesuaian Persija dari formasi tiga bek menjadi empat bek. Pada awal kompetisi, Ridho lebih sering bermain dalam trio pertahanan bersama Radovan Pankov dan Denis Kolinger; setelah sistem berganti, tugasnya ikut berubah. Ini bukan sekadar variasi posisi. Tuntutan baru menguji pemahaman permainan Ridho dan memperluas kegunaannya dalam skema Persija. Shin mulai mengeksplorasi kemampuannya di luar peran bek, sementara Ridho menunjukkan kesediaan untuk mengisi posisi yang dibutuhkan tim.
Belajar dari gelandang Eropa
Ridho merespons peran baru itu dengan mempelajari gaya bermain gelandang Eropa. Fokusnya bukan meniru gerakan tertentu secara mentah, melainkan memahami bagaimana gelandang bergerak, menguasai ruang, dan membantu membangun serangan sesuai skema Shin. Langkah ini masuk akal: pengalaman sebagai bek memberinya bekal membaca ancaman, tetapi bermain di tengah menuntut keputusan berbeda tentang kapan menjaga posisi, menawarkan jalur umpan, atau maju mendukung serangan. Ridho mengatakan ia siap ditempatkan di posisi mana pun demi menjalankan rencana pelatih. Sikap itu patut diapresiasi, tetapi fleksibilitas saja tidak cukup. Keberhasilan adaptasi akan ditentukan oleh ketepatan membaca situasi dan kemampuan menjaga keseimbangan ketika tim berpindah dari bertahan ke menyerang. Belajar dari gelandang Eropa menjadi usaha konkret untuk memenuhi tuntutan tersebut, bukan sekadar pernyataan kesiapan.
Dari menjaga pertahanan menjadi penghubung antarlini
Keleluasaan bergerak ke lini tengah memperluas fungsi Ridho di lapangan. Dalam satu fase ia dapat kembali membantu pertahanan; pada fase lain, ia menjadi penghubung antara lini belakang dan lini serang. Artinya, tugasnya tidak lagi berhenti pada memutus serangan lawan. Ia juga perlu menjaga kelancaran sirkulasi bola, memilih ruang yang tepat, dan mengenali kapan harus turun atau bergerak maju. Shin menilai Ridho sebagai pemain serba bisa di sektor pertahanan dan mengandalkannya untuk menyesuaikan kebutuhan taktik Persija. Penilaian itu menjelaskan mengapa pelatih memberinya tanggung jawab lintas peran, tetapi sekaligus menaikkan standar terhadap pengambilan keputusan sang pemain. Adaptasi Ridho berpotensi memberi Persija pilihan taktik yang lebih lentur. Nilainya bukan pada banyaknya posisi yang bisa ia isi, melainkan pada seberapa efektif ia menjalankan tugas berbeda tanpa mengganggu keseimbangan tim.
Fleksibilitas harus disertai ketepatan
Perubahan ini menunjukkan bahwa taktik Shin Tae-yong menempatkan fleksibilitas sebagai tuntutan permainan, bukan label semata. Ridho bersedia mengikuti instruksi, tetapi peran barunya mengharuskan ia berpikir seperti bek sekaligus memahami kebutuhan seorang gelandang: membaca tekanan, menjaga ruang, dan membantu progresi bola. Pengalaman tersebut dapat memperluas kontribusinya bagi Persija karena ia mampu berperan di beberapa fase permainan, bukan hanya saat tim bertahan. Namun, kunci akhirnya tetap disiplin posisi dan keputusan yang tepat waktu. Jika kedua hal itu terjaga, Ridho dapat menjadi bek multiposisi yang memberi pelatih opsi nyata dalam mengubah bentuk permainan. Kesimpulannya, usaha mempelajari gelandang Eropa adalah bagian penting dari adaptasinya, sementara ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah apakah fleksibilitas itu membuat permainan Persija lebih terhubung dan seimbang.






