Peran Baru, Pilihan Lebih Luas
Gelandang bertahan adalah pemain yang menjaga keseimbangan antara lini belakang dan tengah, membantu merebut bola, serta mengawali pembangunan serangan. Di Persija, Rizky Ridho kini sesekali mengisi fungsi itu di bawah arahan Shin Tae-yong, meski posisi alaminya adalah bek tengah. Pergeseran ini bukan sekadar eksperimen personel: bagi Persija, ini cara menambah pilihan tanpa kehilangan pemain yang memahami tugas bertahan. Setelah Ridho memperkuat Timnas Indonesia dalam FIFA ASEAN Cup 2026, ia lebih sering masuk sebagai pemain pengganti dan beberapa kali menempati posisi gelandang bertahan yang biasanya dimainkan Fabio Calonego. Perubahan formasi ikut membuka ruang untuk peran baru. Persija beralih dari skema tiga bek dengan Radovan Pankov dan Denis Kolinger ke empat pemain di lini belakang, sehingga Ridho bisa membantu mengontrol lini tengah dan membangun serangan dari belakang.

Adaptasi yang Menuntut Lebih dari Sekadar Disiplin
Kualitas Ridho sebagai bek dan kapten sudah menjadi aset; nilai tambahnya sekarang bergantung pada seberapa cepat ia membaca ruang dan tempo di tengah. Gelandang bertahan harus menjaga jarak antarlini, menentukan kapan mengalirkan bola, dan tetap siap menutup ruang saat serangan lawan datang. Itu tuntutan yang berbeda dari berduel sebagai bek tengah, sehingga pemindahan posisi tidak otomatis menjamin kecocokan. Ridho mengatakan ia siap mengikuti kebutuhan tim dan berusaha menjalankan instruksi Shin Tae-yong. Ia juga mempelajari cara bermain gelandang-gelandang Eropa agar lebih memahami tuntutan peran tersebut. Sikap terbuka ini memberi Persija opsi yang berguna, tetapi pelatih tetap perlu menimbang lawan, keseimbangan tim, serta kecocokan Ridho dengan pemain tengah lain. Dengan kata lain, fleksibilitasnya paling berharga ketika dipakai sebagai pilihan taktis, bukan dianggap sebagai alasan untuk melupakan keahliannya di jantung pertahanan.

Gol yang Memperlihatkan Potensi—dan Batas Kesimpulan
Peran baru Ridho sudah muncul dalam momen penentu, tetapi satu laga belum cukup untuk menyatakan bahwa ia telah menjadi gelandang mapan. Pada 26 Oktober 2026, Persija bangkit dari ketertinggalan dan mengalahkan Persik Kediri 2-1 di Jakarta International Stadium. Denis Kolinger mencetak gol penyama kedudukan, lalu Ridho memastikan kemenangan. Posisi lebih maju memberinya ruang untuk terlibat dalam serangan, dan gol itu memperlihatkan bahwa kehadirannya di tengah dapat memberi ancaman tambahan. Namun, keberhasilan dalam satu pertandingan sebaiknya dibaca sebagai petunjuk potensi, bukan bukti bahwa susunan terbaik Persija sudah ditemukan. Taktik Shin Tae-yong memperoleh variasi karena Ridho bisa membantu lini tengah tanpa harus langsung diganti ketika tim memerlukan penyesuaian. Kesimpulannya, eksperimen ini masuk akal bagi skuad Persija selama peran utamanya sebagai bek dan kapten tetap menjadi fondasi, sementara tugas barunya dipilih sesuai kebutuhan pertandingan.






