Surplus yang bertumpu pada nonmigas
Neraca perdagangan adalah catatan selisih nilai ekspor dan impor barang dalam suatu periode, yang menunjukkan apakah penjualan ke luar negeri melampaui pembelian dari luar negeri. Pada September, Indonesia kembali mencatat surplus dagang sebesar US$3,36 miliar, tetapi angka itu menyusut dari US$3,55 miliar pada Agustus. Artinya, kinerja positif masih bertahan, namun ruang surplus tidak boleh dianggap aman.
Penopang utamanya ialah perdagangan nonmigas yang membukukan surplus US$5,67 miliar. Nilai itu cukup besar untuk menutup defisit perdagangan migas sebesar US$2,31 miliar, yang terutama berasal dari hasil minyak dan minyak mentah. BPS menyatakan surplus September terutama didorong komoditas nonmigas. Gambaran ini menegaskan bahwa kekuatan dagang saat ini bertumpu pada sektor yang menghasilkan surplus, bukan pada migas.

Ekspor nonmigas menunjukkan daya tahan
Ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$26,64 miliar pada September, naik dari US$25,62 miliar pada Agustus. Dalam triwulan III-2026, nilainya terkumpul US$77,69 miliar atau 96,60 persen dari seluruh ekspor nasional pada periode tersebut. Pertumbuhan tahunan sebesar 8,81 persen memperlihatkan bahwa sumber surplus bukan sekadar satu bulan yang kebetulan menguntungkan, melainkan ditopang momentum ekspor yang lebih luas.
Industri pengolahan menjadi penggerak penting: ekspornya pada triwulan III mencapai US$67,33 miliar, naik 11,71 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Capaian itu memberi alasan untuk melihat ekspor nonmigas sebagai penyangga utama perdagangan, meski kinerja sektor pertanian, kehutanan, perikanan, dan pertambangan mengalami kontraksi. BPS mencatat ekspor nonmigas tumbuh 8,81 persen secara tahunan pada triwulan III-2026.

Komoditas unggulan belum menghapus risiko migas
Lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja menjadi penyumbang utama surplus nonmigas. Daftar ini menunjukkan kombinasi komoditas berbasis sumber daya alam dan produk industri masih menopang neraca. Perdagangan nonmigas juga terbantu oleh produk seperti mesin dan perlengkapan elektrik, sementara minyak kelapa sawit, tembaga, kimia dasar anorganik, dan aluminium mencatat pertumbuhan ekspor yang kuat sepanjang triwulan III.
Namun, surplus nonmigas tidak membuat persoalan migas lenyap. Defisit migas September masih besar, meski perbaikan sektor tersebut ikut membantu kinerja perdagangan nasional. Secara kumulatif Januari hingga September, neraca perdagangan tetap surplus US$10,61 miliar, dengan surplus nonmigas US$34,21 miliar berhadapan dengan defisit migas US$23,60 miliar. Ketimpangan ini membuat ketahanan surplus sangat bergantung pada konsistensi ekspor nonmigas dan kemampuan menahan tekanan impor migas.

Surplus positif, tetapi belum seimbang
Penilaian yang paling masuk akal terhadap surplus dagang September ialah melihatnya sebagai kabar baik dengan catatan. Ekspor nonmigas memberi bantalan kuat dan menjaga neraca perdagangan tetap berada di zona surplus, tetapi defisit migas menggerus sebagian hasil tersebut. Ketika surplus bulanan menyempit dibandingkan Agustus, keberhasilan mempertahankan angka positif belum cukup untuk menutupi ketergantungan pada beberapa kelompok komoditas.
Karena itu, kekuatan ekspor nonmigas perlu dibaca sebagai penopang, bukan alasan untuk mengabaikan kerentanan struktural. Komoditas unggulan telah membuktikan kontribusinya, sedangkan defisit perdagangan migas tetap menjadi beban yang terlihat dalam hitungan bulanan maupun kumulatif. Kesimpulannya, surplus September menunjukkan daya tahan ekspor, tetapi kualitas neraca perdagangan akan lebih kuat jika kontribusi nonmigas yang produktif terus terjaga dan tekanan migas tidak terus mengikis kelebihannya.






