Surplus September bertumpu pada sektor nonmigas
Surplus neraca perdagangan adalah keadaan ketika nilai ekspor barang melampaui nilai impornya dalam suatu periode, menciptakan selisih positif yang mencerminkan kinerja perdagangan luar negeri. Pada September 2026, surplus dagang September mencapai US$3,36 miliar, dengan sektor nonmigas menjadi penopang yang jauh lebih besar daripada surplus bersih bulan itu. BPS mencatat surplus nonmigas sebesar US$5,67 miliar, sementara neraca migas masih menekan hasil keseluruhan. Artinya, catatan bulanan yang positif bukan tanda bahwa seluruh sektor perdagangan sama kuatnya: kinerja nonmigas bekerja untuk menutup beban migas. Komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja menjadi sumber utama surplus nonmigas. Ketergantungan pada beberapa kelompok komoditas membuat capaian ini patut dibaca sebagai kekuatan nyata, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan ketimpangan antar sektor.

Ekspor nonmigas menjadi mesin pertumbuhan
Angka triwulanan memperjelas bahwa surplus September bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$77,69 miliar pada triwulan III-2026, setara 96,60 persen dari total ekspor sebesar US$80,42 miliar. Nilainya tumbuh 8,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, memperlihatkan betapa besar peran sektor ini dalam menjaga arus ekspor. Industri pengolahan menjadi penopang utama: ekspornya mencapai US$67,33 miliar, naik 11,71 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan tersebut tidak merata. Pertanian, kehutanan, dan perikanan serta pertambangan justru mengalami kontraksi. Karena itu, kekuatan ekspor nonmigas layak diapresiasi, tetapi kualitasnya juga perlu dinilai dari seberapa luas sektor yang ikut tumbuh. Ketika satu kelompok industri memikul porsi begitu besar, diversifikasi tetap penting agar kinerja perdagangan tidak terlalu bergantung pada segelintir sumber.
Beberapa komoditas menunjukkan laju yang menonjol. Ekspor minyak kelapa sawit mencapai US$10,10 miliar, naik 26,09 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tembaga mencatat US$1,87 miliar dengan kenaikan 123,32 persen, sementara kimia dasar anorganik lainnya mencapai US$1,17 miliar dan aluminium US$1,42 miliar; keduanya juga tumbuh tajam. Capaian ini memperlihatkan bahwa kekuatan ekspor tidak hanya bertumpu pada satu komoditas. Meski demikian, lonjakan nilai pada sejumlah produk belum menghapus gambaran bahwa industri pengolahan mendominasi dan beberapa sektor lain melemah. Fokus kebijakan dan penilaian publik sebaiknya tidak berhenti pada besarnya angka ekspor, melainkan juga melihat apakah sumber pertumbuhan makin beragam.

Pemulihan triwulanan ditopang ekspor dan impor yang turun
BPS melaporkan surplus perdagangan triwulan III-2026 sebesar US$7,03 miliar, berbalik dari defisit US$1,97 miliar pada triwulan II. Perubahan itu didukung dua arah sekaligus: ekspor meningkat, sedangkan impor menurun. Total ekspor mencapai US$80,42 miliar, naik 8,72 persen dibandingkan triwulan sebelumnya; pada saat yang sama, impor tercatat US$73,39 miliar, turun 3,35 persen. Kombinasi tersebut memberi dasar lebih kuat bagi surplus daripada sekadar mengandalkan satu bulan yang baik. Setelah defisit pada Mei dan Juni, neraca perdagangan kembali surplus selama tiga bulan berturut-turut, dari Juli hingga September. Meski begitu, satu triwulan positif belum cukup untuk menyimpulkan semua tekanan telah hilang. Data menunjukkan pemulihan yang jelas, tetapi juga menegaskan bahwa kekuatan ekspor—terutama nonmigas—menjadi penentu utama.
Capaian kumulatif kuat, tetapi belum merata
Secara kumulatif, neraca perdagangan BPS mencatat surplus US$10,61 miliar sepanjang Januari hingga September 2026. Angka ini menegaskan bahwa perdagangan barang masih berada di zona surplus, walaupun hasil bulanan dan sektoral tidak selalu seimbang. Nonmigas menahan tekanan defisit migas, sementara kenaikan ekspor dan penurunan impor mengangkat kinerja triwulan III. Kesimpulan yang lebih berguna bukan sekadar bahwa surplus telah kembali, melainkan bahwa mutu surplus bergantung pada ketahanan sumber ekspornya. Pertumbuhan industri pengolahan dan komoditas unggulan memberi alasan untuk optimistis, tetapi kontraksi di pertanian, kehutanan, perikanan, dan pertambangan menjadi pengingat agar capaian agregat tidak menutupi kelemahan sektoral. Jadi, surplus September dan hasil triwulan III merupakan kabar baik yang nyata, namun kekuatannya akan lebih meyakinkan jika pertumbuhan ekspor makin tersebar dan tidak hanya ditopang kelompok tertentu.






